The Magical Elf

The Magical Elf
Kembali ke Rumah


__ADS_3

Pika yang memandang Retra sekilas, jika diperhatikan memang tampan. Tapi jelas yang membuat Pika merasa asing dengan telinganya yang tidak biasa, membuat Pika terus memperhatikannya, apa sadar Retra berbalik menatap Pika.


“Kenapa, kau melihatku seperti itu, kau bilang ingin melihat bintang,” tegur Retra yang membuat Pika salah tingkah.


Memang sedari tadi Pika melihat Retra, dan memperhatikannya dan li ini ditanya malah membuat ia bingung untuk menjawab dan tidak tahu juga apa yang harus ia katakan, sehingga membuatnya terdiam saat Retra menatapnya.


“Jangan beredar Pika, hanya elf ayolah sadar,” batin Pika yang bingung dengan perasaannya ditatap Retra malah membuat jantungnya berdebar-debar.


“Tidak aku hanya memperhatikan telingamu, bolah kan aku memegangnya,” kata Pika yang memang penasaran dan memberanikan diri berkata demikian meski tahu kemungkinan besar pasti akan ditolak oleh Retra.


terlihat jelas dari sikap dingin yang biasa Retra tunjukan Pada Pika yang kadang membuat Pika juga tidak mengerti dengan elf satu itu yang kadang baik kadang dingin dan tak bisa ditebak pembuat Pika tidak ingin salah di hadapannya.

__ADS_1


Walau Pika sendiri ambil berusaha menenangkan dirinya dan berusaha bersikap senormal mungkin untuk tidak terlalu terlihat jika ia tertarik dengan Retra dan bahan mengagumi ketampanannya.


sadar akan kebodohannya dan tahu jika ia bangsa Elf yang jelas berbeda dengan manusia, tapi tetap perasa nya tidak bisa dibohongi, walau bersikap senormal mungkin tapi tetap saja ada rasa canggung yang tidak bisa dijelaskan.


Pika juga bingung mau bilang apa saat ditanya kenapa, dan menatap retra diam-diam, yang akhirnya ketahuan.Membuat rera bertanya pada yang seharusnya Pika juga tidak mengajukan permintaan tu.


”Bisa-bisanya Aku meminta memegang telinga  Retra, bisa gila aku.aku tahu pasti dia akan menolaknya,” batin Pika tak karuan dan berusaha untuk menenangkan diri karena ia terus bersabar.


Menatapnya saja sudah membuat Pika berdebar kali ini kali masalahnya ia tak mungkin juga melakukan hal kekanakan seperti itu.


“Hah, langsung setuju, kenapa dia tidak menolak,” batin Pika yang menata Retra dengan canggung saat retra mendekatkan kepalanya.

__ADS_1


Pika tidak bisa menghindari itu lagi pula dia yang memintanya, tadinya jelas ia merasa ragu dengan tindakannya. Dengan pelan dan dengan perasaan yang tidak menentu Pika berusaha untuk memegang telinga Retra karena permintaan Pika tadi yang memang sangat ambigu, tapi malah dapat persetujuan dari Retra tanpa penolakan sedikitpun.


“Ayo tenang Pika,” batin Pika yang akhirnya mengulurkan tangannya mencoba memegang telinga Retra yang memang terlihat anang seperti bangsa elf pada umumnya, Pika benar-benar tak percara dengan tindakannya itu.


Tapi telinganya terasa biasa saja dan amalah terasa lembut membuat tak sadar jika Pika terus memegangnya.


“Sudah apa belum?” tanya Retra  yang semakin merasa nyaman dan takut terjadi hal yang ia inginkan, maka dia berusaha untuk menghentikan Pika.


“Telinga makin lembut dan terasa enak untuk dipegang, sebentar lagi,” pinta Pika yang malah senang memainkan telinga orang lain yang membuat Retra juga tak mengerti mau sampai kapan Pika melakukan itu.


“Aku sudah tidak tahan, jangan siksa aku seperti ini. Tolong hentikan ini,” batin Retra yang merasakan hal berbeda dan sensasi nikmat.

__ADS_1


__ADS_2