The Magical Elf

The Magical Elf
152


__ADS_3

Saat aku berusaha menyelesaikan pekerjaan dan suasana juga sudah tenang tiba-tiba ada seorang wanita yang datang dan langsung mencari Azam, seorang wanita cantik dengan tubuh mods dan postur tangga berkulit putih.


“Siapa dia kenapa datang mencari azam?” tanya ku pada Doni yang ada di sampingku.


Entah kenapa kedatangan nya membuat hatiku sakit, dia yang bahkan memiliki aura yang begitu melihat membuatku juga merasa tak percaya diri dengan keberadaan, makanya aku langsung menanyakan kepada Doni yang saat itu lebih dekat denganku.


Wanita itu yang langsung datang dan memeluk Azam membuatku lebih kaget lagi. Misalnya ia tidak pernah bercerita sekalipun bahwa dia memiliki seseorang yang dekat seperti itu hal itu jelas membuatku benar-benar masyarakat dengan ekspresi yang ada di hadapanku itu Entah harus marah atau diam tapi aku pun hanya diam dan bertanya kepada Doni saja karena dia yang lebih dekat denganku daripada bertanya dengan Azam yang masih mengharapkan dengan wanita tersebut yang tidak tahu dari mana dan tidak tahu siapa.


Melihat hal itu membuat hatiku tidak senang ta mau bagaimana lagi aku tak bisa menyerangnya juga selama kau belum yakin siapa dia yang sebenarnya, meski aku adalah istri Azam tapi aku juga tidak paham apa hubungan Asam dengan Wanita itu sekarang.


“Dia Vina, matan sekaligus klien kita,” elas dni membuat aku paham kenapa dia bisa sedekat itu , mendengar kata cintamu membuat ku merasa tidak suka dengan apa yang sedang terjadi di depan mataku, jika aku tidak melihatnya mungkin aku bisa mengabaikannya tapi aki yang sudah terlanjur melihatnya bagaimana bisa aku bersikap biasa saja.


Rasa sesak memenuhi dada ingin rasanya aku menghilang dari sana, aku sudah dengan situasi yang terjadi, berkah aku merah, hubungan kita juga belum lama,aku ingat aku tau bagaimana bisa dan untuk apa kau marah dengan klien.


Pikiran mulai tak karuan dan tak tenang aku mencoba untuk mengalihkan pandangan dan berusaha untuk mengajak ngobrol Doni dari pada aku melihat mereka berdua. Yang membuat kesal dan ingin marah rasanya.


“Kenapa dia sedekat itu?” tanyaku lagi pada Doni mengetahui dia yang udah mantan harusnya bisa menjaga jarak dengan suami orang apalagi azam sudah menikah taoh tak perlu langsung memeluknya.Tidak bisakah dia bersikap normal saat layaknya seorang klien.


Haraak memang semua berubah kejadian yang sudah terjadi pun tak akan bisa dan mungkin j\=hanya ada rekaman kejadian tadi yang menyisakan sesak di dada.


“Entahlah, mungkin karena Azam belum mengumumkan pernikahannya secara resmi ai belumanyaka orang yang tahu, dan jelas kami juga terkejut saat kemarin kau datang kemari dan dia bilang sudah menikah,” elas Doni makin membuat aku gak ada harganya. Siapa aku untuk apa aku juga butuh pengakuan.


Memang Azam sudah menolongku tapi kan pernikahan kami jadi masalah iuga buatnya th lebih baik dia tak perlu membantu apapun karena berakibat buruk juga jadi seperti ini, aku yang merasa salah adi beban dan bingung juga harus bagaimana karena memang benar kami belum mengadakan pesta apapun dengan pernikahan kami yang terkesan mendadak, benarkah azan tak suka dengan pernikahan ini atau dia malu memiliki istri sepertiku.


Berbagai pertanyaan konyol menghantuiku setelah mendengarkan jawan dari Doni yang jelas benar Azam tak menggunakan pernikah kam dan bahkan terkesan merahasiakannya ayah ia sebenarnya tidak ingin menikah.


“Jadi kalau kemarin aku tidak datang dia tidak akan bilang kalau sudah menikah?” tanya ku yang mencoba mencari pembenaran walau salah aku bertanya pada orang lain yang tak seharusnya kau lakukan.

__ADS_1


Mungkin akan lebih bijak jika kau bertanya langsung pada Azam, tapi sepertinya dia juga sedang sibuk, kenapa dan kenapa pertanyan yang tidak ada jawabanya membuatku semakin tak mengerti artinya diriku bagi Azam.


Teman kah, atau karena kasihan kah, rasa cinta tentu saja bukan, lalu ceritanya dia selama ini unu apa,untuk membuktikan kalau dia perlu atau ah aku akan memikirkan hal hal yang membuatku malu tak percaya dir, baiknya aku pergi dari sana saja. Aku yang mulai tidak tenang dengan apa yang aku lihat barusan.


“Bisa jadi demikian,” jawab Doni tanpa beban tap jadi beban berat untuk ku bagaimana bisa dia berpikir seperti itu .Kenapa dan apa yang harus aku lakukan, mungkin semua ini tidak nyata dan baiknya aku jangan berharap dengan Azam yang belum tentu juga ia benar-benar menyukaiku.


Aku akan meminta penjelasany nanati baikana ku pergi dulu saja dari sana, bisa jadi aku makin marah dan tak terkendali malah membuat Azam malu.


“Aku mengerti sekarang, kenapa dia tidak mengajukan pernikahan kami, mungkin karena dia tidak menginginkannya,” kataku lemas tak berdaya keran memegang pernikahan kami yang mendadak, jika tidak ada insiden itu juga mungkin semua itu tidak akan terjadi seperti ini,halitubear-benar membuat kesal saja.


“Bagaimana bisa dia tidak mungkin melakukan hal yang tidak diinginkan?” tay doni yang tahu azam pasti memiliki alasan lain untuk semua tindakannya karena dia tahu bagaimana sifat Asam.


Aku yang tak mengerti hanya bisa menebak dengan persepsi u saja, yang mungkin juga taka benar tidak ada dasar ayangkuar untuk merasa diabaikan, yang mungkin saja kau cemburu atau karena kesal karena tak diakui.


“Bisa saja toh orang tda akan adayag tahu isi hati orang lain,” kataku yang menyakinkan sendiri argumenku dan ta mendengarkan Doni.


“Walaupun begitu toh bisa saling mengerti dan mengucapkan bukan,” kata Doni yang lebih bisa berfikir logis, pantas dia bisa dekat dengan banyak Wanita.


“Kau hamil duluan?” tanya Dni yang ingin tahu juga kenapa kami bisa menikah sebagai seorang asisten yang dipercaya dia juga tahu bagaimana azam dan tahu ikan semua itu tidak benar, azam memang tidak bisa diprediksi oleh ku dan kau ua tidak tahu sifat azam itu yang membuat u sulit bertahan di antara mereka.


“Mana mungkin,” jawabu menyalahkan apa yang dikatakan doni membuat Doi makin tertarik dengan ceritaku


“Kau kan tadi bilang kecelaann,” kata Dni lagiyang mengira perikah akiba kecelakan tu pernikahan karena hamil duluan.


Kenal saja tidak dengan azam bagaimana bisa hamil duluan, melakukan hubungan badan jug baru tadi malam,dan sebelumnya mana pernah aku berhubungan dengan orang lain, perkataan ku main membuat orang salah erupsi korean mungkin arang ada kasus seperti aku ini.


BAgaimana aku harus menjelaskannya sedangkan dia begitu serius ingin tahu tentang aku. RAsanya sesal di sana dan bersama orang-orang yang tidak aku mengerti. Padahal aku hanya ingin dia dan berkonsentrasi dengan pekerjaan ku yang menumpuk dan banyak membuat Aku pun harus menyelesaikan semua dengan benar.

__ADS_1


TApi sulit dan entah mengapa malah makin rumit, bagaimana cara ku bisa menjelaskannya padamu disaat aku juga tida tahu dan tidak negeri tentang dia, berusaha terlihat baik saja walau kenyataan masih bingung dengan situasi yang tidak bisa kau kendalikan.


“Iu karena hal lain, adi awalnya begini?” kataku ingin bercerai tapi kan jadi cerita Panjang baiknya kau mengajak Doni keluar saat dan cari teman nyaman untuk bercerita dengan nya dan sebelum itu aku juga ingin minum dulu agar lebih tenang lagi.


“Kenapa angin bii au penasaran?” kata Di yang benar-benar merasa penasaran dengan certau dan apa yang akan aku katakan.


“Baiknya kita keluar aja dari pada menunggu mereka bukan?” tanya ku tak nyaman dengan tatapan Azam dan memilih menghindarinya untuk sementara waktu.


Aku sendiri pun belum tahu apa yang Azam lalkuakn dengan merahasiakan pernikahan kami, meski aku tau jika semua itu diluar Rencana, Jika pernikahanku tidak gagal mungkin saja aku tidak akan menikah dengan Azam.


Jadi mungkin aku yang harus tahu diri dan memahami situasinya, lagi pula Aza Jugatida berniat pengumuman pernikahan kami, kalau aku tidak bertahan maka aku akan dibuang. Ideku untuk bisa akrab dulu dengan mereka dan mengajak Doni keluar dari pada terus mendapatkan tatapan yang tidak menyenangkan padahal dia sendiri yang sedang Bersama Wanita lain.


Aku berjalan menjauhi ruangan berdamaDon yang sepertinya penasaran, tahu jika ia juga terkejut dengan kabar kamu yang sudah menikah dan akhirnya aku bisa lepas dari pemandangan yang tak ingin aku lihat.


“Aku mau biara dimana, ini sudah keluar ruangan?” tanya Doni yang sering tidak dc\=sabar untuk mendengarkan ceritaku paha aku hanya ingin mengajak keluar dari pada di dalam sana dengan atmosfer yang tidak menyenangkan.


Lebih baik di luar daripada di dalam toh kerja uga tidak akan konsentrasi apalagi dengan kondisi seperti itu yang membuat orang lain juga bisa jadi salah paham dengan hubungan mereka berdua.


“Aku ingin membuat kopi untuk menenangkan pikiranku,” jawabku membuat Doni sepertinya kecewa baru saja berjalan beberapa langkah dengan perasaan yang lega tiba-tiba Azam sudah ada dihadapku dan menarik.


“Aku kenalkan dia istriku,” kata Azam Yang menunjukan au di hadapan Wanita tadi yang entah kenapa allah membuatku tidak suka, seperti perkenalan yang terlihat memaksa.


Aku melihat ke arah wait yaitu dengan bingung segera saja aku mengulurkan tanganku dengan sopan untuk memperkenalkan diriku.


“Hah, seleramu rendahan dan tak berkelas,” katanya kesal dan langsung pergi begitu saja.


Apa orang di sana semua sombong hah, kenapa aku ingin menjambak rambutnya kalau buka ada di kantor sudah aku haar dia, bagaimana bisa ada orang seperti dia hidup di muka bumi mengesalkan sekali.

__ADS_1


Aku dia dan balik menatap Azam dengan kesal, haruny taperlua libatakan ak dalam urusannya dengan Wanita lain,toh aku sudah mengalah untuk keluar tapi dia malah dating untuk memperkenalkanku dengan Wanita sombong itu.


“Aku kembali ke ruang,” kata Doni yang lebih memilih menghindar dari kami berdua yang sedang berhadapan setelah kejadian tadi.


__ADS_2