
Dalam perjalanan menuju ke kerajaan Couthel, cuaca sangat panas. Rose berkali-kali mengusap wajahnya yang penuh keringat dan debu perjalanan.
Situasi ini semakin memprihatinkan karena Rose tetap nekat datang ke Kerajaan Couthel meskipun sudah ada pesan dari teman-temannya di Kerajaan Bhojong Noghoro agar ia kembali. Risiko yang diambil oleh Rose sangat tinggi karena ia akan segera berhadapan dengan Putri Nania yang memiliki kekuatan sihir yang sangat kuat dan sangat tidak menyukai orang asing yang mencoba ikut campur dalam urusannya.
"Huhfff... ternyata memang sesulit ini."
Rose harus siap menghadapi berbagai rintangan dan bahaya selama ia berada di Kerajaan Couthel. Bisa dipastikan bahwa dia akan dihadang oleh pasukan Putri Nania diperbatasan, atau yang lebih parahnya lagi, dia akan diserang oleh makhluk-makhluk iblis atau terperangkap di dalam jebakan yang tentunya ada banyak disekitar tembok istana kerajaan Couthel.
Namun, Rose telah memutuskan untuk membantu William dan ia akan terus berjuang sampai ia berhasil membantunya.
"William, aku akan segera datang."
Rose tahu jika Raja Shawighuno, Sponsored, Squidwored, dan kakaknya, Reimon, pastinya semakin khawatir dan cemas karena Rose tetap nekat pergi ke Kerajaan Couthel dan tidak mengindahkan pesan yang mereka kirimkan. Mereka pasti akan berusaha mencari cara untuk membantu Rose dan William, tetapi melihat bagaimana keadaan dan situasi yang sangat berbahaya dan sulit untuk diatasi, jadi Rose juga tidak berharap banyak.
"Mereka pasti hanya dapat berharap aku kembali atau setidaknya bisa kembali dengan selamat dan bisa mengalahkan Putri Nania dan raja iblis sehingga bisa membantu William." Rose bergumam seorang diri.
***
Kedatangan Rose tentu saja membuat putri Nania marah besar, apalagi yang datang adalah seorang gadis dan memiliki perasaan khusus untuk William yang dia cintai meskipun William adalah musuhnya.
"Ck! Besar juga nyalimu Rose."
Putri Nania berdecak kesal melihat cermin di depan jendela kamarnya. Cermin yang bisa memantau situasi dan kondisi sekitar istana kerajaan Counthel.
Kedatangan Rose ke kerajaannya pastinya membuat Putri Nania sangat marah dan kesal. Ia sudah merasa terganggu dengan kehadiran William yang mencoba menghentikan rencananya untuk menaklukkan dunia, dan sekarang hadir lagi seorang gadis yang datang untuk membantu William. Bagi Putri Nania, Rose adalah seorang penghalang yang harus dihilangkan secepat mungkin.
__ADS_1
Perasaan Putri Nania terhadap Rose juga berkaitan dengan perasaannya terhadap William. Meskipun William adalah musuhnya, ia menyimpan perasaan khusus untuknya.
Kedatangan Rose yang ternyata mencintai William membuat Putri Nania semakin frustasi dan kesal. Baginya, Rose hanyalah seorang gadis yang mencoba merusak hubungan antara dirinya dan William.
Namun demikian, Putri Nania tidak akan membiarkan perasaan negatifnya terhadap Rose mengganggu tugasnya untuk menaklukkan dunia. Ia akan berusaha untuk mengalahkan Rose dan William, dan melanjutkan rencananya untuk mendapatkan kekuasaan dan kekayaan yang lebih besar lagi. Putri Nania akan menggunakan kekuatan sihirnya untuk menghadapi Rose, dan jika perlu, ia akan meminta bantuan dari raja iblis dan pasukannya untuk mengalahkan mereka.
"Aku perintahkan kalian untuk menangkap seorang gadis yang baru saja mau masuk ke perbatasan. Segera sambut dan tahan dia!"
"Seret dan hukum secara berat jika dia melawan!"
"Siap yang mulai, tuan putri Nania."
Setelah mengetahui kedatangan Rose, Putri Nania langsung memberi perintah pada pasukan keamanannya untuk memantau gerak-geriknya. Ia juga memerintahkan agar Rose tidak diizinkan masuk ke istana dan bertemu dengan William. Selain itu, Putri Nania juga mengeluarkan perintah agar siapapun yang membantu William akan dihukum mati.
Putri Nania berusaha keras untuk menghalangi Rose agar tidak bisa bertemu dengan William dan membahayakan keselamatannya sendiri.
"Kamu kenapa, sih, nekat datang ke sini? Apa yang kamu harapkan? Jangan berharap kamu bisa bertemu dengan William dan membantunya. Tidak akan pernah terjadi!" hardik putri Nania didepan wajah Rose.
"Saya tidak akan mundur, Putri Nania. Saya datang untuk membantu William. Saya tahu dia sedang dalam bahaya dan saya tidak bisa duduk berdiam diri." Rose dengan berani menjawab pertanyaan tersebut.
"Jangan membuat aku tertawa! Hahaha... Kamu tidak tahu apa-apa tentang bahaya yang sedang mengancam William. Kamu bahkan tidak tahu apa yang sedang terjadi di kerajaanmu sendiri. Aku bisa saja menangkapmu dan menghukummu mati sekarang juga!" ancam sang putri.
Rose tersenyum dengan tenang. "Saya tahu bahaya apa yang mengancam William. Saya juga tahu bahwa keputusan saya berisiko tinggi. Tapi saya tidak akan mundur. Saya mencintai William dan saya akan melakukan apapun untuk membantunya."
Putri Nania pura-pura kaget. "Cinta? Apa cinta itu? Hahaha... Cinta itu bukan alasan untuk melanggar aturan dan membahayakan keselamatanmu sendiri. Kamu tidak tahu apa artinya cinta. Aku tidak akan pernah membiarkanmu membantu William. Kau harus segera pergi dari sini!"
__ADS_1
"Saya minta maaf, Putri. Tapi saya tidak bisa mundur. Saya tahu saya bisa membantu William. Dan saya siap menanggung risikonya. Tolong, izinkan saya bertemu dengan William."
Ternyata kekuatan cinta yang dimiliki oleh Rose membuatnya lebih berani, meskipun dia juga tahu jika keselamatan jiwanya menjadi taruhannya.
Putri Nania mengelengkan kepalanya beberapa kali. "Tidak, tidak, dan tidak! Kamu tidak akan pernah bertemu dengan William. Kamu harus pergi dari sini sekarang juga atau kamu akan menanggung akibatnya!"
"Pengawal! Tahan dia, dan pastikan dia tidak bisa keluar dengan cara apapun!"
Akhirnya Rose ikut di tahan oleh putri Nania tapi terpisah dengan ruangan William.
"Lihatlah kamu sekarang, Rose. Tertangkap dalam penjara dan tak bisa melakukan apa-apa. Apa yang kamu pikirkan? Bahwa kamu bisa membantu William dengan cintamu, hahaha..." ejek sang putri pada Rose.
"Saya melakukan ini karena saya peduli pada William. Saya tidak akan mundur sampai dia aman." Tapi Rose tetap berani menjawabnya.
Saat Rose ditahan dan terpisah dari William, situasinya sangat sulit dan menyedihkan baginya. Ia merasa frustasi karena tidak bisa bertemu dan membantu William, sementara putri Nania terus mengejek dan merendahkannya. Tapi Rose berusaha untuk tetap terlihat tenang.
"Peduli pada William? Apa itu artinya? Apa kamu pikir kamu bisa mengubah keadaan ini dengan kekuatan cintamu yang lemah?" tanya putri Nania dengan senyuman yang mengerikan.
Rose memejamkan matanya karena wajah sang putri begitu dekat dengan wajahnya. Dia merasa jijik dengan perwujudan putri Nania yang menyeramkan.
"Saya tahu saya tidak mungkin bisa mengalahkan mu, tapi saya akan berjuang sekuat tenaga saya untuk membantu William."
"Hahaha... dasar bodoh! Cobalah sekuat tenaga mu, tapi kamu tidak akan bisa berbuat banyak. Jangan berharap William akan selamat karena ada kamu di sini. Dia akan tetap dihukum sebagaimana mestinya. Hahaha...cinta itu buta. Hahaha..."
Setelah puas tertawa mengejek Rose, putri Nania pergi dalam dalam tahanan. Dia muak mendengar ocehan Rose tentang segala macam cinta dan apapun itu.
__ADS_1