The Royal Bloodline

The Royal Bloodline
Bukan Perang


__ADS_3

"Hahaha... rasakan!"


Putri Nania sangat senang karena pasukan kerajaan Bhojong Noghoro mundur setelah kocar-kacir tersapu angin dan badai pasir yang dia ciptakan. Dia tertawa terbahak-bahak melihat bagaimana pasukan musuh.


Semua ini karena sihirnya yang berhasil menciptakan angin dan badai, yang bisa membuat para prajurit kerajaan Bhojong Noghoro tidak berdaya dan ketakutan.


Pasukan kerajaan Bhojong Noghoro mengalami kekacauan karena terkena dampak angin dan badai pasir yang dibuat oleh sihir Putri Nania. Karena keadaan ini, pasukan kerajaan kocar-kacir dan tidak dapat bergerak dengan baik.


Putri Nania sangat senang dan tertawa terbahak-bahak karena berhasil menciptakan situasi ini dengan sihirnya, ditambah dengan adanya hewan-hewan peliharaannya yang tentu saja banyak dan berbisa.


Setelah melihat pasukan musuh pergi, Putri Nania meminta pada prajuritnya yang berada di bagian perbatasan untuk membereskan sisa-sisa perang dan mayat-mayat prajurit kerajaan Bhojong Noghoro. Putri Nania meminta pada para pengawal bagian perbatasan untuk menangani hal tersebut.


"Hahaha... Dengarkan aku wahai para prajuritku! Setelah pertempuran ini berakhir, ada banyak sisa-sisa perang dan mayat-mayat prajurit Bhojong Noghoro yang perlu segera dibersihkan. Saya ingin kalian segera menangani hal tersebut." Putri Nania memberikan perintahnya.


Prajurit siap untuk melaksanakan perintah tersebut. "Baik, Putri Nania. Kami akan segera menangani hal tersebut dan membersihkan sisa-sisa perang dan mayat-mayat prajurit Bhojong Noghoro agar tidak mengganggu keamanan dan kesehatan wilayah perbatasan."


Putri Nania mengangguk mengiyakan. "Terima kasih, prajurit. Saya berharap kalian dapat menyelesaikan tugas tersebut dengan cepat dan baik. Ingatlah bahwa sebagai prajurit, tugas kalian adalah menjaga keamanan dan kedamaian wilayah kita."


"Aku tidak mau jika ada kekacauan lagi setelah ini," kata Putri Nania, menyambung kalimatnya yang tadi.


Tapi ternyata Putri Nania juga memberikan kebebasan kepada para prajuritnya untuk mengambil sisa bahan makanan dan juga perlengkapan perang serta senjata milik prajurit kerajaan Bhojong Noghoro yang tertinggal.


"Para prajurit, ingat juga ya! Setelah pertempuran ini berakhir, sisa bahan makanan, perlengkapan perang, dan senjata milik prajurit Bhojong Noghoro yang tertinggal dapat kalian ambil jika masih bisa digunakan, dan kalian membutuhkannya. Ingat ya, semuanya! Dan tidak ada yang tersisa bahkan tulangnya sekalipun!"


"Kami akan melakukan yang terbaik, Putri Nania. Anda dapat mengandalkan kami."


Setelahnya, prajurit tersebut memberikan salam hormat pada putri Nania sebelum meninggalkan tempatnya.


Putri Nania tersenyum puas dengan hasil yang dia lakukan pada prajurit kerajaan Bhojong Noghoro yang setelah melakukan penyerangan ke wilayah kerajaannya.


"Kalian tidak bisa bermain seenaknya. Meskipun aku masih kecil, kemampuanku ada di atas kalian. Hahaha..."

__ADS_1


Untuk para petinggi kerajaan yang ada di aula bersama putri Nania, mereka hanya bisa diam dan menunduk sedih. Mereka tahu betul bagaimana kelakuan Putri Nania sedari awal, di saat menggantikan baginda raja ayahnya putri Nania sendiri setelah mangkat.


***


Sementara itu, di kerajaan Bhojong Noghoro, raja Shawinghuno marah karena mendengar laporan tentang kekalahan prajuritnya. Dia kesal dan jengkel.


Brakkk


"Damn it, you Princess Nania! I will never forgive this humiliation!"


"Aku akan membuat perhitungan dan tidak akan pernah melepaskan dirimu setelah penghinaan ini!"


Raja Shawinghuno, pemimpin kerajaan Bhojong Noghoro, sangat marah dan kesal saat mendapat laporan tentang kekalahan prajuritnya dalam pertempuran dengan kerajaan Putri Nania. Raja Shawinghuno marah dan jengkel karena mendengar kabar ini. Dia tidak pernah menyangka, jika seorang putri yang masih di bawah umur bisa mengalahkan kekuatannya.


Kemarahan dan kejengkelan Raja Shawinghuno yang disebabkan oleh kegagalan pasukannya dan kehilangan status atau kekuasaan di wilayah tersebut, hanya bisa memaki-maki sendiri. Ada rasa malu dan kecewa juga, yang membuat dirinya marah dan kejengkelan yang amat sangat.


"Hehhh, aku akan mencari sekutu untuk bisa menaklukkan mu, tapi setidaknya aku harus mencari tahu terlebih dahulu apa kekuatan yang kamu miliki." Raja Shawighuno mengeram menahan amarahnya.


"Ampun, Your Majesty. Sepertinya memang ada kekuatan lain yang membantu kerajaan Couthel. Tapi hamba belum bisa memastikan kekuatan apa yang ada di balik badai pasir dan angin kencang maksud laporan yang ada di medan perang."


Raja Shawighuno menggangguk-anggukkan kepalanya, mencoba untuk memahami jawaban yang diberikan oleh perdana menterinya. Dia sadar jika dia tidak seharusnya bertindak gegabah dan menentukan serangan dengan cepat.


"Hhh... Aku salah. Seharusnya aku mencari tahu lebih banyak apa yang tersembunyi di balik tembok yang terlihat makmur dan sejahtera di kerajaan Couthel."


Hembusan nafas panjang sang raja, terdengar dengan jelas. Sama seperti rasa kecewa yang dia rasakan dan tergambar dengan jelas pada wajahnya saat ini.


"Sebaiknya Anda merenungkan terlebih dahulu, Your Majesty. Anda perlu bermeditasi meminta pada dewa untuk mendapatkan petunjuk dan langkah selanjutnya yang harus dilakukan setelah ini."


Kepala raja Shawighuno kembali mengangguk. Dia juga sedang memikirkan hal tersebut.


"Aku tahu, dan aku memang sedang berpikir untuk pergi bermeditasi terlebih dahulu."

__ADS_1


Akhirnya raja Shawighuno meminta kepada perdana menteri untuk mengatur pasukannya yang pulang dan merawat mereka yang terluka. Memberikan pengobatan terbaik sehingga mereka lekas sembuh, menambah tunjangan untuk keluarga, dan memberikan libur untuk para prajurit mereka hingga tenaga serta tubuhnya kembali membaik.


"Baik, Your Majesty."


Dengan patuh, perdana menteri menerima tugas tersebut. Dia akan melaksanakan semua tugas dan permintaan dari sang Raja.


Di luar istana, para prajurit yang sudah tiba langsung menjatuhkan tubuh mereka untuk beristirahat.


Brukkk


Breegh


"Huhfff... ternyata tidak satupun prajurit yang berhasil aku bunuh."


"Hahaha... iya, aku juga tidak menyerang dengan apapun. Ini sangat miris!"


"Lalu, perang apa yang terjadi pada kita ini?"


Mereka semua membicarakan tentang situasi perang yang mereka lakukan bersama dengan teman-temannya saat menyerang kerajaan Couthel.


Mereka memang tidak melihat adanya prajurit berbentuk seperti mereka yaitu manusia, sehingga bisa melakukan perlawanan dengan senjata yang mereka miliki. Padahal mereka sudah membawa senjata mereka yang berupa panah, tombak, pedang dan perisai sebagai perlengkapan perang.


Tapi pada kenyataannya semua itu tidak berguna. Tidak ada satupun prajurit kerajaan Couthel terlihat. Sejauh mata memandang hanya terdapat angin ribut, angin beliung dan badai pasir yang telah menghancurkan mereka semua hingga diperintahkan untuk mundur dan jauh dari wilayah kerajaan Couthel.


Perang yang sangat tidak masuk akal, miris.


Hingga tiba di kerajaan Bhojong Noghoro, mereka tidak pernah berhenti untuk berpikir sebenarnya apa yang terjadi di medan perang.


"Sebenarnya angin dan badai itu kebetulan ada, atau memang diciptakan?" tanya salah satu dari mereka.


"Aku tidak tahu. Tapi semua itu tidak wajar."

__ADS_1


"Ya, aku setuju. Sepertinya kita menghadapi serangan sihir, bukan Medan perang yang sebenarnya."


__ADS_2