The Royal Bloodline

The Royal Bloodline
Tidak Bisa


__ADS_3

Keadaan ini terjadi di aula sekolah sihir Castello Bruxo pada saat sedang berlangsungnya lomba kompetisi mantra tidak baik-baik saja.


Saat itu, dua saudara kembar sial yang satunya sedang ketiduran. Namun, Sponsored menggangunya.


"Squidwored, ayo bangun! aku tinggal jika kamu masih tidur terus!"


Tapi nyatanya Squidwored tetap tenang dengan mata terpejam. Dia tidak terusik dengan suara Sponsored yang tepat di lubang telinganya. Sponsored bahkan menggunakan mantra yang sangat kuat untuk membangunkan saudara kembar sialnya tersebut.


"Thakshiwur Bahyu!"


Tapi akibatnya, meskipun saudara kembar sialnya tersebut terbangun, suara dan mantra Sponsored menganggu teman-teman mereka yang lain.


"Hai, kalian berdua diamlah!"


"Dasar pengacau!"


"Dasar penyihir bodoh dan tidak berguna!"


"Paling cuma bisa teriak-teriak saja."


Teman-teman yang lain merasa terganggu dengan kejadian tersebut dan mulai menggerutu. Mereka merasa bahwa kejadian ini sangat mengganggu konsentrasi mereka yang sedang menonton dan merusak suasana perlombaan.


Namun, kedua saudara kembar sial tersebut tidak menyadari bahwa mereka telah mengganggu teman-teman mereka dan terus bergurau dengan satu sama lain.


"Hai, Sponsored! aku sedang bermimpi bertemu bidadari. Tapi kamu sialan! Kamu mengacaukan mimpiku."


"Hah! Mana ada bidadari yang mau bertemu denganmu? Dasar pembual, bau jiging!"


Squidwored tidak terima dengan perkataan Sponsored yang mengatainya. Dia malu saat semua mata tertuju ke arahnya.


"Sial! Aku tidak mau punya saudara kembar seperti kamu!" Squidwored marah dan meninggalkan ruangan aula.


"Hai! aku cuma becanda. Kenapa kamu sensitif sekali? apakah kamu sedang patah hati?" Sponsored justru bertanya mengolok-ngolok saudaranya, padahal Squidwored sedang kesal dengannya.


"Pergilah sana! tidak usah mengacau lagi."


"Iya, enyahlah!"


"Pergi-pergi sana!"

__ADS_1


Sponsored di usir teman-temannya, setelah Squidwored pergi karena kesal tadi. Tapi Sponsored hanya senyum-senyum sambil garuk-garuk kepala tanpa merasa bersalah sama sekali atas kegaduhan ini.


Tapi setibanya di luar aula.


"Wah, mantra receh itu ternyata sangat kuat ya! Aku merasa sangat segar sekarang." Squidwored mengacungkan jari jempolnya ke arah Sponsored yang datang menemuinya.


"Iya, sama aku juga. Tapi, mengapa teman-teman kita marah-marah, sih?" Sponsored bertanya tanpa tahu alasan yang jelas, karena kemarahan temannya yang lain.


"Mungkin mereka iri dengan kehebatan kita. Tapi, kita tidak peduli kan?" Squidwored mengangkat kedua tangannya tidak peduli.


"Benar, kita hanya perlu fokus pada perlombaan William dan menang!"


Kini keduanya saling pandang dengan mata melotot, bahkan bola mata mereka hampir keluar, di saat ingat dengan William.


Sementara itu, teman-teman mereka yang lain saling berbisik dan mengeluh tentang kejadian tersebut. Beberapa di antaranya mungkin mengatakan:


"Tidak sopan sekali mereka bangun dan mengganggu kita seperti ini!"


"Perlombaan ini menjadi kurang seru karena kejadian ini."


"Apa yang bisa kita lakukan untuk menghentikan mereka?"


Akhirnya, para peserta dan penonton perlombaan mulai membicarakan kejadian ini dan sponsor yang bertanggung jawab untuk memastikan bahwa hal serupa tidak terjadi lagi saat final nanti.


Untungnya kekacauan yang diciptakan Sponsored dan Squidwored tidak bisa diperhatikan oleh sir Plangtoon dan para juri yang lain, karena mereka sibuk dengan mencoba mengucapkan beberapa mantra agar tanduk yang tumbuh di kening sir Plangtoon bisa hilang. Ini terjadi karena kesalahan dari mantra sihir Anthoni yang membuat tanduk tersebut ada.


"Anthoni, bagaimana ini?" tanya sir Plangtoon meminta pertanggungjawaban Anthoni.


"Maaf, sir Plangtoon. Saya juga tidak tahu." Anthoni meminta maaf dengan menundukkan kepalanya, merasa bersalah atas kejadian ini.


Sir Plangtoon, kepala sekolah dan menjadi peserta juri perlombaan, memiliki tanduk yang tumbuh di keningnya karena kesalahan Anthoni saat menggunakan mantra sihir. Sir Plangtoon sangat ingin menghilangkan tanduk tersebut, dan itulah mengapa ia terlihat kesal karena tidak ada yang bisa melepas kedua tanduk tersebut.


Saat ini, sir Plangtoon berdiri di tengah aula dengan juri-juri yang sedang memperhatikan dia dengan seksama. Sir Plangtoon mengucapkan mantra dengan penuh konsentrasi dan harapan agar tanduknya hilang.


Sir Plangtoon berusaha mencobanya lagi. "Oh, mantra ini begitu penting bagi saya. Saya ingin benar-benar bisa menghilangkan tanduk yang membuat saya tidak percaya diri."


"Tenanglah, sir Plangtoon. Kami akan memperhatikan dengan seksama setiap gerakan dan kata-kata yang Anda ucapkan."


"Semoga saja ada sihir yang bisa kami ucapkan untuk membantu melepaskan tanduk tersebut."

__ADS_1


Beberapa guru ikut membantu sir Plangtoon, berusaha untuk melepaskan tanduk yang seperti tertancap dengan sangat kuat di keningnya. Hal yang tidak biasa, karena tidak ada guru yang mengajarkan sihir ini pada murid kelas rendah kecuali kelas yang mau lulus dari sekolah sihir Castello Bruxo ini.


"Pastikan bahwa Anda benar-benar fokus dan terkoneksi dengan kekuatan mantra yang Anda ucapkan." Salah satu guru memberikan peringatan pada sir Plangtoon.


Sir Plangtoon mengangguk mengiyakan. "Saya mengerti, terima kasih. Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat mantra ini berhasil."


Kemudian, sir Plangtoon melanjutkan mengucapkan mantra dengan konsentrasi dan kegigihan. Ia merasa sangat terbebani oleh tanduknya dan ingin menghilangkannya secepat mungkin.


"Ini sangat memalukan! wajah tampan yang aku banggakan tertutup karena ada dua tanduk ini." sir Plangtoon bergumam dengan kesal dan jengkel.


Beberapa saat kemudian, sir Plangtoon mulai merasakan kekuatan mantra yang ia ucapkan. Ia merasa sangat senang dan lega ketika merasakan tanduknya mulai berkurang. Para juri dan murid-muridnya yang lain juga melihat perubahan yang terjadi pada kening sir Plangtoon.


"Lihatlah! Tanduk di kening sir Plangtoon mulai menyusut!" teriak salah satu murid dengan menuju ke arah depan.


"Hebat sekali, sir Plangtoon. Anda berhasil menghilangkan tanduk tersebut dengan sangat baik." Juri memberikan pujian.


Sir Plangtoon tersenyum lega. "Terima kasih banyak. Saya benar-benar merasa sangat lega dan senang."


Kemudian, sir Plangtoon melihat ke arah Anthoni yang masih menunduk dan tidak berani melihat ke arah tengah-tengah aula.


Saat itulah sir Plangtoon menyadari kekacauan yang terjadi di sudut ruangan aula, dengan memberikan pertanyaan pada murid-muridnya atas gangguan tersebut.


"Ada apa?"


"Hai, sebelah sana ada keributan apa?"


Sir Plangtoon masih mengajukan pertanyaan-pertanyaannya, karena tidak ada satu pun dari mereka yang memberikan jawaban atas pertanyaan yang dia miliki.


"Tidak ada yang mau bicara?" tanya sir Plangtoon dengan maksud memberikan ancaman.


"Ada apa?" tanya guru Crab.


Guru Caiporo dan Petrel juga memperhatikan murid-muridnya yang sedikit kacau, tanpa tahu penyebabnya.


"Ada yang bisa menjelaskan?" Guru Crab memberikan waktu pada siswanya, agar mau berbicara jujur.


"Tidak ada apa-apa guru Crab. Tadi hanya dia saudara kembar sial saja yang buat kacau."


Akhirnya ada salah satu dari mereka memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh sir Plangtoon dan para guru.

__ADS_1


__ADS_2