
William merasakan rasa sakit yang luar biasa pada tubuhnya, akibat mantra sihir yang dikirimkan oleh putri Nania padanya. Dia tahu jika mantra sihir ini sangat kejam, sehingga Putri Nania tanpa menyentuhnya bisa melukai dirinya dengan kekuatan mantra sihir tersebut.
William merasakan sejuta tusukan jarum di setiap serat ototnya. Rasa sakit yang luar biasa mengalir melalui tubuhnya, menusuknya dengan kejam tanpa ampun.
Setiap serangan mantra sihir yang dilancarkan oleh Putri Nania membawa derita yang tak terlukiskan. Rasa sakit itu tidak hanya terbatas pada tubuhnya, tetapi juga merasuki jiwanya. William merasa seolah-olah dia tenggelam dalam jurang gelap yang tak berujung, dengan rasa sakit yang tak kunjung usai.
"Duh... rasa sakit ini... seperti ribuan pisau yang menusuk tubuhku!" William merintih kesakitan.
"Tolong... hentikan... aku tak tahan lagi dengan siksaan ini!"
"Setiap serangan mantra sihirnya terasa seperti terbakar hidup-hidup... aku ingin sekali bisa lepas dari ini!"
William terus disiksa dengan mantra sihir yang diucapkan oleh putri Nania.
Ketika mantra sihir Putri Nania mengenainya, rasa sakit itu menjadi semakin intens dan melumpuhkan segala indra William. Seperti terbakar oleh api yang tak terlihat, tubuhnya bergetar dalam kesakitan. Napasnya menjadi pendek dan berat, dan dia merasakan setiap detak jantungnya berdenyut dalam kepedihan. William meronta-ronta di atas lantai dingin ruang tahanan, berusaha melepaskan diri dari belenggu rasa sakit yang menghimpitnya.
Sedikitpun tidak ada tempat perlindungan bagi William dari mantra sihir yang mematikan ini. Tidak peduli seberapa jauh dia bersembunyi, mantra sihir itu selalu menjangkau keberadaannya. Putri Nania memancarkan kekuatan magisnya dengan begitu kuat sehingga ia mampu melukai William tanpa menyentuhnya. William merasa tak berdaya dan terjebak dalam perangkap magis yang tak terlihat.
"Sakitnya begitu mendalam, aku merasa seperti hancur berkeping-keping... arghhh..."
"Ini bukan manusiawi... tak seharusnya ada kekuatan yang mampu menyiksa dengan kejam seperti ini! Argh... tidak!"
Mantra sihir yang dilontarkan oleh Putri Nania memiliki efek yang mengerikan. Bukan hanya rasa sakit yang menjadi sorotan, tetapi juga siksaan mental yang tak tertahankan. William merasakan kegelapan merayap masuk ke pikirannya, menggoyahkan stabilitas emosionalnya. Perlahan-lahan, dia merasakan kehilangan kontrol atas pikiran dan perasaannya sendiri, tertutup dalam lingkaran siksaan spiritual yang tidak bisa dipatahkan.
"Rasanya seperti tubuhku digilas oleh arus listrik yang tak terhentikan... sungguh tak ada kata untuk menggambarkannya! Arghhh..."
"Sekali lagi, mantra itu menyayat tubuhku dengan kejam... aku hampir tak mampu bertahan lagi!"
__ADS_1
Setiap hari berlalu dengan rasa sakit yang sama, tak ada jeda atau istirahat bagi William.
Tubuhnya menjadi lemah, ditandai oleh luka-luka dan bekas-bekas yang memar akibat serangan mantra sihir tersebut. Dia terjebak dalam siklus siksaan yang tak berkesudahan, dengan sedikit harapan untuk membebaskan diri.
"Hanya aku yang merasakan rasa sakit ini, tetapi sepertinya tubuhku tak sanggup lagi menahan beban ini..."
"Aku terjebak dalam siklus penderitaan yang tak berujung... bagaimana bisa kekuatan sihir seperti ini begitu mengerikan?"
"Mungkin ini adalah batas ku... rasa sakit ini membuatku meragukan apakah aku akan selamat dari kekejaman ini... arghhh..."
Namun, di balik derita yang tak tertahankan itu, William merasa semangat yang membara. Dia menolak untuk menyerah pada kekuatan jahat Putri Nania. Meskipun tubuhnya rapuh dan tersiksa, hatinya terus terangkat oleh tekad untuk melawan kejahatan. Dia menggunakan rasa sakit yang dia alami sebagai motivasi untuk mencari jalan keluar, untuk menemukan cara melawan mantra sihir yang menghancurkannya.
Keadaan William yang terus menerus merasa tersiksa dan kesakitan akibat mantra sihir Putri Nania. Meskipun dia sudah berusaha untuk menangkalnya, tapi kenyataannya semuanya tidak ada hasil dan tidak sebanding dengan kekuatan sihir dari putri Nania yang memang sangat kuat
***
"Aaah! Rasa sakit ini tidak ada habisnya... Seperti pisau yang menusuk- menusuk tubuhku!" teriak Rose yang kesakitan.
"Tolong... hentikan siksaan ini... Aku tak tahan lagi!" Rose terus berteriak-teriak kesakitan.
"Setiap kali mantra itu mengenai diriku, rasanya seperti terbakar hidup-hidup... Aku hampir tak bisa bernapas!"
Kekejaman Putri Nania di Kerajaan Couthel semakin rumit dengan hadirnya Rose, yang berniat membantu William. Namun, Putri Nania yang merasa terancam oleh keberadaan Rose, sehingga ia pun tak segan menyiksa gadis itu dengan mantra sihirnya yang mematikan.
Rose, seorang gadis yang berani, menemukan dirinya terperangkap dalam situasi yang mencekam di Kerajaan Couthel. Dia adalah seorang tahanan yang ditahan oleh Putri Nania, yang merasa terancam oleh keberadaannya. Putri Nania menggunakan mantra sihirnya untuk menyiksanya, dengan harapan bahwa Rose akan menyerah atau bahkan mengambil tindakan drastis untuk mengakhiri penderitaannya yang tak tertahankan.
Setiap hari, Rose terjebak dalam siksaan yang tak berujung akibat mantra sihir Putri Nania. Rasa sakit yang mengalir melalui tubuhnya membuatnya hampir tak mampu bertahan. Seperti tusukan ribuan jarum, rasa sakit itu menembus kulitnya dan merasuki setiap serat ototnya. Dia meronta-ronta di dalam sel tahanan, berusaha melepaskan diri dari belenggu kekejaman yang melingkupinya.
__ADS_1
Mantra sihir Putri Nania memberikan efek yang mengerikan pada Rose. Rasa sakitnya tidak hanya terbatas pada tubuhnya, tetapi juga merasuki jiwa dan pikirannya.
Rose merasa seperti terperangkap dalam jurang kegelapan, di mana setiap serangan mantra sihir menyebabkan gejolak emosi dan ketidakstabilan mental yang mencekiknya. Namun, meski terombang-ambing dalam siksaan itu, Rose menolak menyerah. Dia mempertahankan tekadnya untuk bertahan dan melawan kekejaman Putri Nania.
"Ini tidak adil... Bagaimana Putri Nania bisa begitu kejam?"
"Sakit ini begitu mendalam, seakan-akan menjalar ke setiap sel tubuhku... Aku hampir hancur dan tidak bisa bertahan! arghhh...!"
"Aku merasakan kegelapan merayap ke dalam pikiranku... Seperti mereka ingin merobek-robek kestabilan ku! Tidak, ini tidak boleh terjadi!"
Setiap kali mantra sihir melukai Rose, ia merasakan kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri. Rasa sakit yang luar biasa menghancurkan kekuatan dan energinya. Napasnya terengah-engah, dan dia merasakan kelemahan melanda setiap bagian dirinya. Namun, meskipun dalam keadaan yang sangat tersiksa, Rose menemukan keberanian dan kekuatan dalam dirinya untuk terus melawan.
Penderitaan Rose tidak hanya terbatas pada rasa sakit fisik, tetapi juga pada dampak mental yang tak terhindarkan. Putri Nania sengaja mengguncang stabilitas emosionalnya, berharap bahwa Rose akan mengalami kehancuran mental dan akhirnya menyerah. Tetapi Rose tidak membiarkan dirinya hancur. Dia menjaga api kehendak dan tekadnya terus menyala, menolak untuk menyerah pada Putri Nania.
"Tubuhku seperti terbakar oleh api yang tak terlihat... Betapa mengerikannya kekuatan mantra sihir ini! Arghhh!"
"Aku merasa terjebak dalam perangkap tak terlihat... Seperti mantra sihir ini merayap masuk ke setiap pori-pori tubuhku!"
"Mungkinkah aku akan bebas dari siksaan ini? Rasa sakit ini hampir merusak ku..."
Situasi Rose menjadi semakin rumit karena tugasnya untuk membantu William. Ia juga harus mempertahankan keseimbangan emosionalnya sendiri sambil berjuang melawan mantra sihir. Namun, Rose tidak pernah berhenti berjuang. Meskipun ia terluka dan merasa terikat dalam perangkap kekejaman, ia menemukan kekuatan dalam solidaritas dan persekutuan dengan William. Mereka saling mendukung dan memberi semangat satu sama lain, membentuk ikatan yang kuat dalam perlawanan mereka terhadap Putri Nania.
"Tapi aku tidak akan menyerah... Aku tidak akan membiarkan kejahatan Putri Nania mengalahkan tekad ku!"
Rose adalah contoh keberanian dan ketangguhan di tengah-tengah penderitaan akan siksaan yang dilakukan oleh putri Nania.
Putri Nania, dengan kejamnya, merasa puas melihat kesakitan dan penderitaan yang dialami oleh William dan Rose. Setiap serangan mantra sihirnya yang melukai dan menyiksa mereka memberinya rasa kepuasan yang tak terkatakan. Dia menikmati setiap momen ketika mereka terkulai lemah dan hampir menyerah.
__ADS_1
"Hahaha... rasakan siksaan dariku yang amat pedih dan tak terperi!"