The Royal Bloodline

The Royal Bloodline
Memandang Remeh


__ADS_3

"Bagus, tapi kita perlu memastikan bahwa kita memiliki pasukan yang cukup untuk mengelilingi mereka," kata Kanselir.


"Kita bisa meminta bantuan dari pasukan sekutu kita," kata Raja Shawighuno.


"Tapi mereka akan membutuhkan waktu untuk sampai ke sini," kata Jenderal.


"Mungkin kita bisa menggunakan pasukan kavaleri untuk mempercepat mereka," sela Menteri Perang.


"Saya setuju," kata Raja Shawighuno. "Tapi kita harus membuat gerakan ini dengan cepat sebelum pasukan musuh tiba."


Percakapan mereka terus berlanjut, dan mereka membahas berbagai strategi dan kemungkinan situasi yang mungkin terjadi selama pertempuran. Mereka mempertimbangkan berbagai faktor seperti kondisi cuaca, kekuatan musuh, dan kekuatan mereka sendiri untuk membuat keputusan yang tepat.


Mereka tahu bahwa keputusan mereka bisa mempengaruhi hasil pertempuran, dan mereka memilih dengan hati-hati setiap langkah yang akan mereka ambil. Dengan berbicara dan berunding bersama, mereka berharap dapat memimpin pasukan mereka ke kemenangan dan mempertahankan kehormatan dan wilayah kerajaan mereka.


Perang ini terjadi di tengah-tengah alam yang indah namun sekarang menjadi tempat yang mengerikan. Medan perang yang luas terletak di antara bukit-bukit dan lembah yang hijau dan subur, dengan pepohonan tinggi yang tumbuh di sekitarnya. Awan hitam menggantung rendah di atas medan perang, memberikan suasana yang suram dan menakutkan.


Di tengah-tengah medan perang, ada sungai yang mengalir deras, membelah tanah dan memisahkan kedua pasukan. Air sungai menjadi merah karena darah dari para prajurit yang terluka dan tewas di sana. Suara air sungai yang mengalir terdengar seperti suara menggugah hati di tengah keheningan yang menakutkan.


Di sekitar medan perang, terdapat desa-desa kecil dan perkebunan yang tenang dan damai. Namun, kini desa-desa itu kosong, kecuali beberapa orang yang masih bertahan dan bersembunyi di dalam rumah mereka, berharap dapat selamat dari pertempuran.


Langit terlihat mencekam dengan awan hitam dan kilat yang menyambar. Suasana angker semakin terasa ketika suara angin kencang yang berderu melewati bukit-bukit di sekitar medan perang. Alam terasa seperti menangis karena kehancuran yang terjadi.


Di sekitar medan perang, terdapat pula hutan yang lebat dan rimbun, tempat di mana beberapa prajurit bersembunyi dan menyerang dari balik pepohonan. Tetapi, hutan itu juga menjadi tempat yang berbahaya, dengan jebakan dan perangkap yang dapat membunuh siapa saja yang tidak berhati-hati.


Semua alam di sekitar medan perang itu kini tampak seperti melawan perang itu sendiri. Hujan deras mulai turun, menciptakan lumpur di mana para prajurit harus berlari dan berperang, menambah kesulitan dalam bertempur. Dalam keadaan seperti ini, prajurit harus berjuang keras dan tahan banting untuk mempertahankan wilayah kerajaan mereka.

__ADS_1


***


Raja iblis dan putri Nania, berusaha sekuat mereka untuk mempertahankan diri dari serangan kerajaan Bhojong Noghoro yang menurutnya tidak ada apa-apanya dibandingkan kekuatan dengan mereka. Mereka berdua tidak ambil pusing karena berpikir bahwa mereka akan menang dalam perang tersebut.


Raja Iblis dan Putri Nania duduk bersama di ruangan perang, mempersiapkan diri untuk pertempuran yang akan datang. Meskipun mereka berhadapan dengan serangan besar dari Kerajaan Bhojong Noghoro, mereka merasa percaya diri bahwa mereka akan menang.


"Kita tidak perlu takut pada mereka," kata Raja Iblis dengan suara tegas. "Kerajaan Bhojong Noghoro tidak sekuat kita, dan pasukan mereka tidak dapat menandingi kekuatan pasukan kita."


Putri Nania mengangguk, setuju dengan kata-kata Raja Iblis. "Kami telah mempersiapkan diri dengan baik dan membangun pertahanan yang kuat. Tidak ada yang bisa menghentikan kita dalam pertempuran ini."


Namun, di luar tembok istana, pasukan Bhojong Noghoro terus menyerang dengan semangat tinggi. Suara gemuruh dari senjata dan teriakan prajurit semakin dekat dan menggetarkan dinding istana. Raja Iblis dan Putri Nania merasa agak terganggu oleh suara tersebut, tetapi mereka tetap tenang dan fokus pada rencana perang mereka.


"Tidak lama lagi, mereka akan mendapat pelajaran yang pantas," kata Putri Nania, memastikan diri sendiri. "Kita akan mempertahankan kerajaan kita dengan segala kekuatan kita."


Dalam suasana yang penuh semangat itu, Raja Iblis dan Putri Nania bertekad untuk mempertahankan kerajaan mereka dengan sekuat tenaga, meskipun mereka tahu bahwa pertempuran yang akan datang mungkin akan menjadi salah satu yang paling sulit yang pernah mereka alami.


Setelah berdiskusi dan merencanakan strategi, Raja Iblis dan Putri Nania memutuskan untuk menggunakan pertahanan yang kuat sebagai taktik utama mereka dalam menghadapi serangan dari Kerajaan Bhojong Noghoro. Mereka mempersiapkan pasukan mereka dengan senjata-senjata yang tajam dan membangun benteng pertahanan yang kokoh di sekitar istana mereka.


Ketika pasukan Bhojong Noghoro menyerang, Raja Iblis dan Putri Nania memimpin pasukan mereka untuk mempertahankan pertahanan mereka. Mereka menempatkan pemanah mereka di atas dinding benteng untuk menembak pasukan musuh dan memerintahkan pasukan mereka untuk menahan serangan dari depan. Meskipun serangan dari Bhojong Noghoro sangat kuat dan mereka berusaha dengan gigih untuk menembus pertahanan Raja Iblis dan Putri Nania, namun pasukan iblis terus mempertahankan benteng mereka dengan gigih.


Namun, serangan dari Bhojong Noghoro semakin kuat dan pasukan Raja Iblis dan Putri Nania mulai kelelahan. Pasukan mereka mulai menarik diri, dan serangan musuh mulai membobol pertahanan mereka. Melihat situasi yang semakin buruk, Raja Iblis dan Putri Nania memutuskan untuk mengambil tindakan drastis.


"Apakah kau merasa khawatir dengan serangan dari Kerajaan Bhojong Noghoro, putri Nania?" tanya raja iblis pada putrinya.


Putri Nania tersenyum meremehkan dengan mengelengkan kepalanya. "Tentu tidak, ayah. Mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kekuatan kita. Kita sudah mempersiapkan pasukan dengan baik dan memiliki pertahanan yang kuat di sekitar istana kita. Mereka tidak akan bisa menembus pertahanan kita."

__ADS_1


Raja Iblis mengangguk setuju. "Benar sekali. Mereka hanyalah kerajaan kecil yang tidak berarti. Mereka tidak memiliki kekuatan apa pun untuk mengalahkan kita. Hahaha..."


Putri Nania ikut tertawa-tawa senang bersama dengan raja Iblis. "Hahaha... Kita harus menunjukkan kepada mereka siapa yang memegang kekuasaan di sini. Mereka akan menyesal sudah mencoba menyerang kita yang bukan tandingan mereka."


"Sangat benar, putri Nania. Kita akan menunjukkan pada mereka kekuatan kita dan memastikan bahwa mereka tidak akan pernah berani menyerang kita lagi."


Raja Iblis memandang ke arah jauh dengan tatapan mata yang tajam, seolah-olah dia bisa melihat masa depan yang jauh ke sana.


"Aku sangat yakin bahwa kita akan menang dalam pertempuran ini, ayah. Kita memiliki kekuatan yang luar biasa dan pasukan yang siap bertempur." Putri Nania juga sama seperti ayahnya, memiliki keyakinan yang penuh jika akan menang.


"Tentu saja. Kita adalah Raja Iblis dan Putri Iblis, yaitu kamu putri Nania. Kita tidak akan pernah kalah dalam pertempuran seperti ini. Hahaha..."


"Mari kita keluar dan berhadapan dengan mereka secara langsung," kata Raja Iblis kemudian.


"Kita harus menunjukkan keberanian kita pada pasukan Bhojong Noghoro!"


Putri Nania mengangguk, setuju dengan tindakan Raja Iblis. "Kita harus memberikan contoh pada pasukan kita dan memimpin mereka ke dalam pertempuran ini. Kita harus mempertahankan kerajaan kita dengan sekuat tenaga!"


Dengan semangat perang yang mengalir di dalam diri mereka, Raja Iblis dan Putri Nania memimpin pasukan mereka keluar dari benteng pertahanan dan langsung berhadapan dengan pasukan Bhojong Noghoro. Mereka bertarung dengan gigih, membunuh setiap musuh yang mendekati mereka dan memimpin pasukan mereka menuju kemenangan.


"Awas..."


"Mundur..."


Dengan keberanian mereka, Raja Iblis dan Putri Nania berhasil mematahkan semangat pasukan Bhojong Noghoro dan akhirnya berhasil memukul mundur pasukan kerajaan Bhojong Noghoro.

__ADS_1


__ADS_2