
Ternyata, putri Nania yang sudah membantai seluruh keluarga raja dari kerajaan Couthel juga mencintai William secara diam-diam. Dia ingin mendapatkan William, jadi dia berusaha untuk menarik perhatian William yang notabene adalah bayi yang ditukar dengannya sewaktu masih berada di dalam kandungan karena perjanjian sang Ratu kerajaan Couthel dengan raja Iblis.
Putri Nania meminta bantuan pada raja iblis untuk bisa mendapatkan hati dan cintanya William.
Pagi itu, Putri Nania duduk di tepi kolam istana dan memandangi air yang tenang. Hatinya dipenuhi dengan kegalauan karena perasaannya pada William yang tidak kunjung sirna. Meskipun dia telah membantai keluarga raja Counthel dan memusnahkan segala jejak keturunan sang raja, tapi dia tidak bisa menyingkirkan perasaannya yang kian hari semakin tumbuh.
Sambil memandang air, dia berbicara dalam hati, "William, mengapa hatimu terlalu sulit untuk direbut? Aku ingin menjadi yang terakhir yang kau pikirkan sebelum kau tidur malam. Tapi, aku tahu aku tidak bisa melakukannya sendirian."
Tiba-tiba, sebuah suara menghentikan lamunannya, "Putri Nania, apa yang membuatmu begitu cemas?"
Putri Nania segera menyadari kehadiran raja iblis di belakangnya dan langsung berdiri. "Raja Iblis, aku tidak tahu kau ada di sini. Maafkan aku karena tidak menyadari kehadiranmu."
Raja Iblis tersenyum dan melangkah mendekati Putri Nania. "Tidak apa-apa, Putri. Aku datang untuk melihatmu dan membicarakan masalahmu."
Putri Nania terlihat ragu sejenak, namun akhirnya dia memberanikan diri untuk mengutarakan perasaannya pada raja Iblis.
"Raja iblis, aku membutuhkan bantuan mu. Aku mencintai William, namun dia tidak melihatku sebagai seorang gadis yang dia inginkan. Bahkan di Medan perang dia tidak mau melihatku. Aku tidak tahu apa lagi yang harus aku lakukan untuk mendapatkan perhatian dan juga hatinya."
Raja Iblis terdiam sejenak, seolah-olah merenungkan kata-kata Putri Nania. "Putri Nania, apa yang membuatmu yakin bahwa William tidak tertarik padamu?"
Putri Nania tersenyum kecut, "Aku melihat cara dia memperlakukan gadis-gadis lain. Dia lebih sering menunjukkan perhatian pada mereka daripada padaku."
Raja Iblis mengangguk mengerti, "Aku melihat kegelisahan mu, Putri Nania. Tapi, kau harus mengerti bahwa tidak semua orang memperlihatkan perhatian dengan cara yang sama. William adalah seorang pemimpin yang sibuk, dan mungkin saja dia tidak memiliki cukup waktu untuk menunjukkan perhatiannya padamu. Tapi, aku bisa membantumu untuk menarik perhatiannya."
Putri Nania terlihat antusias mendengar perkataan raja Iblis. "Apakah kau bisa membantuku, Raja Iblis? Apa yang harus aku lakukan?" tanyanya kemudian.
__ADS_1
Raja Iblis tersenyum, "Ada sebuah cara yang mungkin bisa membuat William tertarik padamu. Tapi, cara ini tidak mudah, dan kau harus siap menghadapi risikonya."
Putri Nania berdiri tegak dan menatap raja Iblis dengan tekad yang kuat, "Aku siap melakukan apa saja, Raja Iblis. Beritahukan padaku, apa yang harus aku lakukan?"
Raja Iblis mendekatkan wajahnya ke wajah Putri Nania dan berkata dengan suara serak, "Aku bisa memberikan ramuan cinta padanya, hanya terkhusus untukmu."
Putri Nania tersenyum senang mendengar jawaban yang diberikan oleh raja Iblis. Dia membayangkan bagaimana rasanya menjadi gadis yang dicintainya William, seandainya ramuan cinta yang dibuat raja iblis berhasil.
***
Rose mengikuti kakaknya Reimon ke kerajaan Bhojong Noghoro dengan perasaan yang sangat bersemangat sejak awal. Dia berharap bisa berbicara dengan William, pria yang membuat hatinya berdebar-debar. Meskipun dia belum pernah bertemu dengan William secara langsung.
Sesampainya di kerajaan Bhojong Noghoro, Rose memang segera memulai pencariannya untuk menemukan William. Dia meminta bantuan pada beberapa prajurit yang dia temui di jalan, dan untungnya William memang populer sehingga cepat menemukan keberadaannya.
"Terima kasih, banyak. Ayok, kak!"
Rose merasa senang karena akhirnya dia bisa bertemu secara langsung dan juga tahu di mana William berada. Dia bersama kakaknya segera menuju istana dan mencari William di mana-mana. Namun, semua upayanya sia-sia. Dia tidak bisa menemukan William di mana pun dia mencari. Kemudian, dia melihat seorang pria gagah sedang berjalan di kejauhan. Dia merasa yakin itu adalah William, jadi dia segera mengejar pria itu.
Ternyata, pria yang dikejar Rose itu adalah salah satu prajurit kerajaan Bhojong Noghoro. Dia mengira Rose adalah seorang gadis yang sedang terlalu sering mengelilingi istana dan ingin membawa Rose ke pengadilan untuk dimintai keterangan. Rose merasa malu dan kecewa karena dia gagal menemukan William pada awalnya.
Beberapa saat kemudian, Reimon menemukan Rose sedang duduk di taman istana dengan wajah sedih. Reimon bertanya apa yang terjadi, dan Rose menceritakan semuanya tentang pencariannya yang gagal.
"Aku tidak bisa menemukannya."
"Hahaha..."
__ADS_1
Reimon tertawa dan mengatakan bahwa William adalah seorang ahli perang dan tentunya sibuk dengan tugas-tugasnya sebagai pemimpin.
"Sebaiknya kita segera ke sana. Aku sudah bicara dengannya tadi."
"Maksud kakak, kakak bicara dengan William?" tanya Rose antusias.
"Tentu saja. Ayo, kita akan segera membantu mereka semua untuk strategi dan mantra sihir yang akan digunakan untuk para prajurit."
Dari sinilah, Rose mulai lebih intens untuk bisa mendapatkan perhatian dari William. Dia tidak ingin menyerah pada keadaan, karena tekadnya sendiri sudah kuat sejak dari sekolah sihir Castello Bruxo.
***
Di tengah medan perang yang ramai dengan suara meriam dan teriakan prajurit, seorang panglima perang tampak berdiri tegap di atas kuda hitamnya. Wajahnya yang tampan dan pakaian serba mahal menunjukkan bahwa ia bukanlah prajurit biasa, melainkan seorang pangeran yang mengambil peran sebagai panglima perang dalam pertempuran tersebut.
Pangeran itu memandang ke segala arah, mencari tanda-tanda dari musuh yang akan menjadi sasarannya. Dia memperhatikan gerakan pasukan dan berbicara dengan komandan-komandan terdekatnya untuk membuat rencana yang tepat. Sambil menatap lurus ke depan, pangeran itu berbicara dengan suara yang tegas dan jelas, memberikan instruksi kepada pasukannya.
Ketika serangan musuh datang, panglima perang ini menunjukkan keberanian dan keterampilannya dalam pertempuran. Dia memimpin pasukannya dengan tepat dan mengambil keputusan yang bijaksana di setiap kesempatan. Meskipun ia bukanlah seorang prajurit sejati, pangeran ini membuktikan dirinya sebagai seorang pemimpin yang berani dan tegas dalam menghadapi musuh.
Dalam medan perang yang penuh kekacauan dan kekerasan, pangeran ini mempertahankan kesabaran dan konsentrasi untuk memimpin pasukannya menuju kemenangan. Meskipun risiko terluka atau bahkan terbunuh selalu mengintai, panglima perang ini terus bergerak maju, mengambil keputusan yang tepat, dan memberikan motivasi bagi pasukannya untuk terus berjuang.
Ketika pertempuran berakhir, panglima perang ini tetap tenang dan menghormati korban dari kedua belah pihak. Dia menunjukkan kebijaksanaan dan sikap hormat kepada musuhnya, menunjukkan bahwa seorang pemimpin sejati selalu menghargai martabat dan kehormatan semua orang, bahkan di medan perang yang penuh dengan kekerasan dan konflik.
"William. Terima kasih atas semua yang sudah kamu lakukan untuk kerajaan Bhojong Noghoro dan juga diriku."
Raja Shawighuno menyambut kedatangan William yang pulang dari medan perang karena waktu untuk berperang telah selesai. Semua akan kembali dilanjutkan besok pagi.
__ADS_1