
Apa yang dipikirkan oleh William dan Rose untuk kabur ternyata salah. Mereka berpikir bahwa Putri Nania tidak akan memperhatikan mereka karena berkonsentrasi dengan perang.
Sayangnya mereka salah, karena pada kenyataannya, meskipun Putri Nania sedang berkonsentrasi dengan perang, dia masih memantau kedua tahanannya itu, yaitu William dan Rose sehingga saat dua-duanya hampir melepaskan diri dan kabur tertangkap lagi oleh Putri Nania. Sekarang putri Nania menyiksa keduanya di luar tahanan sehingga bisa disaksikan oleh orang banyak.
"Heh! Apa kalian berdua pikir, aku adalah seorang yang bodoh! Cuihhh!"
Ternyata, Putri Nania yang sedang sibuk dengan perang tetap memantau dengan cermat keberadaan William dan Rose, yang merupakan tahanannya. Jadi, di saat William dan Rose hampir berhasil melepaskan diri dan melarikan diri, mereka ditangkap lagi oleh Putri Nania.
Putri Nania berkata dengan nada marah dan penuh kebencian. "Kalian berdua pikir kalian bisa melarikan diri dari kuasa ku? Kalian adalah tahanan, hinaan bagi kerajaan ku! Kalian tidak akan pernah berhasil melarikan diri! Hahaha..."
Putri Nania pembeli berkata sambil menunjuk pada William. "Kamu, William, yang seharusnya menjadi duta perdamaian, tapi kamu memilih menjadi pengkhianat untuk leluhur mu sendiri! Kehadiranmu di sini hanya menambahkan penderitaan bagi kerajaanmu sendiri!"
Yang dimaksud oleh Putri Nania adalah, William adalah seorang pangeran dari kerajaan Couthel, tapi justru memilih untuk tetap berada di kerajaan Bhojong Noghoro.
Sekarang, Putri Nania memutuskan untuk memberikan contoh siksaan dan hukuman kepada William dan Rose di luar tahanan. Dia ingin menunjukkan kepada orang banyak konsekuensi dari pengkhianatan dan percobaan pelarian mereka. Dengan demikian, William dan Rose disiksa secara fisik dan juga secara emosional di depan banyak orang.
Sambil menatap Rose dengan sinis, Putri Nania juga berkata kasar pada Rose.
"Dan kamu, Rose. Kalian berdua bersekongkol untuk mencoba melarikan diri dariku. Kalian pikir aku tidak akan tahu? Kalian sama sekali tidak bisa diandalkan!"
Putri Nania menatap tajam keduanya, berpikir untuk memperlihatkan siksaan pada kedua tahanannya itu.
"Kini, kalian akan merasakan konsekuensi dari tindakan kalian. Kalian akan merasakan penderitaan yang sepadan dengan pengkhianatan dan percobaan pelarian kalian. Dunia akan melihat betapa hina dan lemah kalian! Cuihhh!"
Nasib William dan Rose penuh dengan dramatis. Mereka awalnya berharap untuk melarikan diri dan mendapatkan kebebasan, tetapi upaya mereka gagal dan sekarang mereka menghadapi penyiksaan di tangan Putri Nania yang dimaksudkan untuk menghukum dan mengejek mereka.
William dan Rose, sekarang harus menghadapi situasi yang lebih sulit dan lebih berbahaya. Mereka terjebak dalam situasi yang semakin buruk dan harus mencari cara untuk bertahan hidup dan melawan penganiayaan yang dilakukan oleh Putri Nania.
__ADS_1
Putri Nania kembali berkata dengan kejam. "Biarkan mereka melihat apa yang terjadi pada kalian yang berani melawan kerajaan ku! Kalian berdua akan menjadi contoh yang sempurna bagi siapa pun yang berani menantang kekuasaan ku! Hahaha..."
Dengan senyuman mengejek, Putri Nania meminta pengawalnya untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk memberikan hukuman yang akan diberikan kepada William dan Rose.
William, dengan nafasnya yang tersengal-sengal, berbicara pada Rose. "Kita harus tetap kuat. Kita tidak boleh menyerah, Rose. Kamu kuat!"
Rose tampak bingung. Dia menjawab dengan suara tercekat. "A-ku, aku tahu, William. Ini pasti akan sangat menyakitkan, tapi kita harus bertahan. Kita harus melewati ini bersama-sama."
William menggenggam tangan Rose dengan lemah. "Jangan khawatir, Rose. Kita akan menemukan cara untuk keluar dari situasi ini. Kita tidak boleh membiarkan Putri Nania menghancurkan semangat kita."
Setelah tertangkap kembali oleh Putri Nania, William dan Rose mengalami kondisi yang sangat menderita dan menyedihkan saat mendapatkan siksaan dari Putri Nania. Mereka dipaksa menderita di depan orang banyak, dengan tujuan Putri Nania untuk menunjukkan kekuasaannya dan menghukum mereka secara publik.
Rose berusaha tersenyum meski dalam keadaan lemah. "Aku percaya padamu, William. Kita harus tetap berpegang pada harapan dan keinginan kita untuk bebas. Kita tidak boleh membiarkan penyiksaan ini merusak kita."
William mengangguk dengan tekad yang kuat. "Mereka mungkin dapat menyiksa tubuh kita, tetapi mereka tidak bisa merampas kehormatan dan kekuatan batin kita. Kita adalah lebih dari sekadar tahanan. Kita adalah pejuang."
Mendengar perkataan Rose, William menganggukkan kepala dengan mantap.
"Kita akan mencari celah, Rose. Kita akan menunggu saat yang tepat dan melawan saat kesempatan itu datang. Bersama, kita bisa melawan kekejaman ini."
Rose juga mengangguk sambil merapatkan tubuhnya ke William. "Aku bersamamu, William. Kita akan menjalani ini bersama-sama, dan kita akan mengatasi segala rintangan yang ada di depan kita. Kita tidak akan menyerah."
Meskipun mereka berada dalam kondisi yang menderita dan disiksa, William dan Rose tetap mencoba memberikan dukungan dan harapan satu sama lain. Mereka berusaha untuk tetap kuat dan mempertahankan semangat melalui percakapan mereka, meyakinkan satu sama lain bahwa mereka akan tetap bertahan dan mencari peluang untuk keluar dari situasi yang mengerikan ini.
Apa yang dilakukan oleh Wililam pada Rose, justru membuat hati Putri Nania semakin terbakar cemburu. Dia marah besar, sehingga matanya terlihat merah menyala.
"Kalian akan merasakan siksaan yang pedih!" ucap Putri Nania dengan kemarahannya.
__ADS_1
"Dengan ini, alam semesta akan memberikan hukuman untuk kalian berdua. Dengan kekuatan dan kekuasaan yang ada padaku, siksa kedua orang yang menjadi tawananku!"
Putri Nania mulai membaca mantra untuk memberikan hukuman kepada William dan Rose. Dia tidak hanya menggunakan mantra sihir tapi juga meminta pada algojonya supaya mencambuk William dan Rose.
Tuarr cetaaarrr...
"Akhhh... arghhh!"
Begitu terus berulang-ulang sehingga William merasakan kesakitan. Tubuhnya lebam dan lelah setelah siksaan sebelumnya, merasa rasa sakit yang intens menyusup ke seluruh tubuhnya. Tubuhnya ditandai dengan luka-luka dan memar akibat siksaan yang diterimanya. Dia merasakan kesakitan yang tak tertahankan dan mengalami kesulitan bergerak atau bahkan berdiri tegak.
Cetar cetar
"Ahhhh..."
"Kamu sangat kejam! Arghhh..."
Rose, yang juga telah menderita siksaan sebelumnya, memiliki luka-luka yang terbuka dan penuh bekas lebam di wajah dan tubuhnya. Dia mengalami kesulitan bernapas atau berbicara akibat perlakuan kejam yang dia terima.
Wajah Rose ekspresi keputusasaan dan ketakutan yang terpancar dari matanya, namun dia tetap berusaha untuk tetap tegar di hadapan penyiksaannya ini.
Keduanya merasakan kelemahan fisik dan emosional yang luar biasa. Mereka merasa putus asa, kehilangan harapan, dan merasakan rasa tak berdaya di bawah siksaan yang tidak manusiawi dari Putri Nania.
Ada perasaan frustasi dan kemarahan terpendam terhadap Putri Nania yang memperlakukan mereka dengan kekejaman.
Kondisi fisik dan emosional mereka sangat rapuh, dan mereka berjuang untuk bertahan di tengah penyiksaan yang diberikan oleh Putri Nania. Mereka harus menemukan kekuatan dalam diri mereka sendiri untuk tetap tegar dan berharap ada kesempatan untuk keluar dari situasi yang mengerikan ini.
Semua yang ikut menyaksikan penyiksaan mereka berdua, terdiam tempat bisa berbicara apa-apa. Mereka semua tahu, jika sampai berani melawan Putri Nania, bukan kebagian dan kebebasan yang didapatkan, tapi justru mendapatkan kesengsaraan.
__ADS_1