Titik Temu

Titik Temu
Hening


__ADS_3

Setelah jawaban dita,yang membuat bian bungkam, tidak ada lagi obrolan diantara mereka, hanya ada keheningan disana, mereka berdua sibuk dengan pikiran mereka masing masing


Tidak lama albi datang dengan dengan membawa minuman untuk mereka


"Nih bi minumnya" albi memberikan minuman kemasan pada bian


"Iya thanks"


"Dit minum juga nih" albi juga memberikan minuman dingin pada dita, tanpa banyak bicara dita langsung meminumnya


"Haus banget kayanya dit" tanya albi


"iya nih, tiba tiba panas soalnya"


Mereka pun melanjutkan perjalanan untuk mengantarkan dita pulang terlebih dahulu


Tidak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di depan rumah dita


"Terimakasih ya al, sudah repot nganterin"


"iya dit, santai aja"


"Yaudah, aku masuk dulu ya"


"iya, dah, sampai ketemu lagi"

__ADS_1


Dita pun menanggapinya dengan senyuman saja, sedangkan dari dalam mobil, bian terus saja memperhatikan dita


"sampai kapanpun aku akan memperjuangkanmu dit"


.


.


.


Setelah mengantar albi kerumahnya, bian langsung menancapkan gasnya ke arah rumahnya, dia harus bersiap membereskan barang barangnya , karena besok dia harus ke jakarta ,untuk urusan pekerjaan


Beberapa minggu lalu, dia mendapatkan tawaran, untuk bekerja sama dengan perusahaan yang bergerak di bidang fashion, karena notabenenya dia seorang fotografer terkenal di swiss, tidak heran jika banyak perusahaan fashion yang meminta jasanya, untuk ajang promosi


Setelah selesai membereskan semua barang barangnya, dia pun menemui kedua orangtuanya untuk berbincang, karena selama dia di swiss jarang sekali dia bisa berbincang dengan keluarganya


"Eh si kasep, kamu jadi besok ke jakarta bi" tanya mamahnya


"Jadi mah" jawab al, sambil mencomot kue yang tersedia disana


"Kenapa ga kerja di kantor papah aja si bi, papah udah tua pengen pensiun tau" rengek papahnya


"Iya pah, setelah urusan bian dijakarta selesai, bian mau kok belajar buat kelola perusahaan"


"ya sudah, kamu jangan lama lama dijakartanya"

__ADS_1


"iya pah, bian kekamar dulu ya mah pah"


"Ya sudah, istirahat sana"


Budi darmawan dan laras pasangan suami istri yang sudah tidak muda lagi, tapi masih tetap romantis, sangat menyayangi putra mereka satu satunya, bian darmawan


Sebagai orangtua mereka selalu mendukung bian, termasuk keinginan bian, untuk menuntaskan urusannya di jakarta, sekalipun papahnya menginginkan bian untuk mengurus perusahaan, tapi dia tidak pernah memaksakan kehendaknya


Bagi mereka kebahagiaan bian yang utama, apapun yang dia pilih, selama itu baik untuk hidupnya, mereka selalu mendukungnya.


....


Bian termenung seorang diri didalam kamar, pikirannya selalu saja tentang dita, pikirannya terus kearah albi yang sangat dekat dengan dita


Karena selama perjalanan pulang setelah mengantar dita, albi menceritakan awal perkenalannya dengan dita, termasuk maksud dari kedua orangtua mereka, hanya saja orangtua dita maupun albi, tidak memaksakan kehendaknya, cocok atau tidak, keputusannya di kembalikan pada putra putri mereka


Dikepalanya terus saja terngiang, pertanyaan pertanyaan tentang dita, bagaimana jika dita menyukai Albi, bagaimana jika dita bersedia di jodohkan albi.


"tidak dit, kali ini aku tidak akan melepaskanmu, sebenci apapun kamu saat ini, semoga 10 tahun itu, tidak menghapus namaku di hati mu, tunggu saja, akan aku perjuangkan kamu"


Bian terus saja meyakinkan hatinya, untuk yakin,bahwa dia bisa memiliki dita, tidak bersikap pengecut seperti 10 tahun lalu


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2