Titik Temu

Titik Temu
planning masa depan


__ADS_3

Kehilangan seseorang yang sangat kita cintai untuk selama-lamanya, merupakan fase terberat dalam hidup. Aretha sadar, kematian Azka merupakan titik terendah dalam hidupnya. Karena Azka adalah orang yang paling berharga dalam hidupnya. Seseorang yang senantiasa berada disampingnya, disaat orang-orang pergi meningglkannya sendirian. Bagi Aretha, Azka adalah malaikat berwujud manusia. Dia manusia pertama yang Aretha temui, dengan hati terbersih. Tante Lia, Oma dan Opa, mereka adalah orang-orang dengan hati yang sangat baik, mereka adalah orang yang sangat memanusiakan Aretha.


Walaupun kehilangan santer terjadi, namun kehidupan harus terus berjalan. Karena people came and go. Walaupun mengikhlaskan kepergian Azka seberat itu, tapi Aretha harus berusaha. Dia harus berusaha mengikhlaskan kepergian lelaki itu, dan melanjutkan hidupnya. Karena Azka pasti akan sangat sedih jika dia melihat adiknya ini larut dalam kesedihan.


Jika biasanya Aretha akan pergi sekolah bersama dengan Azka, maka kali ini. Dengan kebesaran hatinya, Bella menjemput Aretha kerumah dan mengajak sahabatnya itu untuk berangkat sekolah bersama. Jika dulu hanya ada Azka, Oma dan Opa yang berada disisinya. Maka kali ini, Aretha menyadari jika banyak orang yang menyayanginya juga. kini, dia tidak sendirian, dia memiliki sahabat-sahabat yang senantiasa mendukungnya, dia juga memiliki kak Rama yang akan selalu berada disisinya.


"Rumah kita kan beda arah Bel, jadi besok-besok gak usah jemput aku lagi yah? Aku bisa kok berangkat sekolah sendiri" ujar Aretha tidak enak.


Rumah Bella cukup dekat dengan area sekolah, sedangkan rumah Aretha cukup jauh dari sekolah, kira-kira menghabiskan waktu 45 menit jika menggunakan motor. Jika Bella terus menjemputnya, maka akan dipastikan jika Bella menjauhi area sekolah demi menjemputnya. Tentu saja kebaikan hati Bella membuat Aretha merasa sangat tidak enak. Karena sahabatnya itu tidak hanya memberikannya perhatian, melainkan juga waktu dan kasih sayang.


Bella tersenyum mendengar permintaan Aretha "gak papa kali Tha, lagian sekalian testimoni mobil baru" jawabnya.


"Loh? Ini mobil kamu Bel?" Tanya Aretha terkejut.


Dengan pandangan yang masih fokus kedepan, Bella menganggukkan kepalanya mengiyakan "iya nih, kemarin lukisan aku berhasil jadi juara 1, jadi sebagai hadiah karena aku udah berprestasi, orang tua aku ngasih hadiah mobil ini" jawab Bella bahagia.


"Wah.... selamat Bel. Kamu kan udah pengen mobil ini dari lama"


"Orang tua aku kan cukup hemat Tha. Walaupun aku udah nangis-nangis pengen dibeliin mobil, mereka gak pernah ngegubris. Tapi kalau aku berprestasi, dengan senang hati mereka akan membelikan aku apapun yang aku mau"


Gadis berdarah campuran itu, menceritakan segala hal yang telah dia alami, hingga akhirnya dia berhasil mendapatkan mobil yang selama ini telah menjadi incarannya. Ngomong-ngomong soal lukisan, Bella beehasil mendapatkan segudang prestasi atas hobinya itu. Bahkan Aretha dapat memprediksi jika Bella akan berhasil mengadakan acara pameran seni impiannya, dalam waktu yang sebentar. Karena Bella sangat-sangat tekun dan dia juga memiliki bakat luar biasa dalam bidang seni.

__ADS_1


***


"Saat ini kalian sudah kelas 12, sudah bukan waktunya lagi kalian bermain-main. Ibu harap, kalian fokus belajar dan pikirkan dimasa depan kalian ingin menjadi seperti apa" jika Pak Mamat-bapak kepala sekolah, merupakan bapak duta upacara. Karena beliau selalu menjadi panitia upacara dengan berbagai motivasi serta nasihat yang berbobot untuk masa depan.


Maka ibu Nana, merupakan ibu duta masa depan. Karena setiap kali kelas bahasa Indonesia dimulai, ibuk Nana pasti akan memerintahkan murid-muridnya untuk membuat planning masa depan. Karena katanya, apa yang kita pikirkan dan rencanakan saat ini, maka akan menentukan masa depan kita akan seperti apa. Ibaratnya,, buk Nana selalu mengatakan jika kita harus memikirkan bagaimana kita akan menjalani kehidupan kita nantinya. Bukannya berpikir, masa depan mah dipikirkan nanti saja.


"Baiklah, karena kalian sudah kelas 12, dan ibuk yakin kalian pasti sudah memikirkan akan melanjutkan sekolah ke Universitas mana. Maka untuk tugas hari ini, kalian harus membuat planning masa depan kalian. Pikirkan dari planning A sampai Z, pikirkan jika sewaktu-waktu kondisi kalian tidak memungkinkan untuk menggapai apa yang sudah kalian rencanakan. Tugasnya kumpulkan minggu depan. Sekarang kalian boleh pulang"


Tepat setelah Ibu Nana keluar dari kelas, terdengar suara bel yang menandakan jika waktu sekolah telah berakhir.


"Kamu mah enak Tha, udah punya planning mau jadi apa. Aku masih bingung mau gimana" ujar Bella seraya membereskan barang-barangnya.


"Heem, kamu juga sering dapet juara. Jadi ngapain bingung" Aretha menyetujui apa yang Sisil ucapkan. Diantara ketiganya, hanya Bella yang memiliki masa depan paling cerah, karena dia sudah mengantongi banyak prestasi. Jadi sangat mudah bagi dia untuk melanjutkan kuliah.


Bella terdiam mendengar ucapan kedua sahabatnya, hingga akhirnya gadis itu kembali mendudukkan dirinya "sebenarnya, orang tua aku gak pernah masalah jika aku melanjutkan kuliah seni. Tapi ayah aku punya keinginan supaya anaknya jadi anak yang sholehah dan melanjutkan kuliah di pendidikan agama Islam" ujarnya.


"Yah, itu mah terserah kamu Bel. Lagian kamu yang akan nelanjutkan kuliah, kamu juga yang akan belajar. Jadi gimana nyamannya kamu, daripada berhenti ditengah jalan, mending kamu pikirin baik-baik Bel. Jangan gegabah ngambil keputusan" ujar Aretha.


"Aretha benar Bel, lagian kalau kamu ingin belajar ilmu agama, kamu gak harua ngelanjutin kuliah di jurusan agama islam. Masih banyak tempat yang bisa kamu jadikan tempat untuk belajar, seperti kajian mungkin?"


"Kamu bener Sil. Kayaknya aku harus diskusi dulu dengan orang tuaku"

__ADS_1


"Semangat Bel" ujar Sisil dan Aretha bersamaan.


"Oh iya Sil, kalau kamu gimana?" Tanya Bella penasaran dengan rencana masa depan Sisil. Karena sahabatnya itu cukup tertutup.


"Aku mau nikah Bel" jawab Sisil.


"Hah?"


Pengakuan Sisil jelas membuat Aretha dan Bella terkejut. Seumur-umur mereka mengenal Sisil, tidak pernah sekalipun gadis itu terlihat bersama laki-laki. Secara tiba-tiba dia mengatakan akan menikah? Kapan dekatnya?


"Aku udah tunangan dari kelas 11. Jadi yah, rencananya aku akan menikah setelah lulus SMA"


"Kamu serius Sil? Maaf nih, bukan maksud menyinggung. Aku tahu pernikahan itu ibadah, tapi tanggung jawabnya juga besar banget kan Sil?" Bagi Aretha yang belum memikirkan perihal pernikahan, tentu saja ucapan Sisil membuatnya tidak percaya.


"Iya Tha, kamu benar. Menikah itu tanggung jawabnya besar banget. Tapi aku udah pikirin semuanya kok, aku udah pikirin konsekuensi


kedepannya. Jadi kalian gak perlu khawatir"


Bella dan Aretha merasa sangat terharu mendengar jawaban Sisil, hingga akhirnya secara bersamaan mereka berdua memeluk Sisil layaknya teletabis. "Semangat Sil, walaupun udah nikah. Kita harus tetep main yah?"


"Siap Bel, kalian kan sahabat aku"

__ADS_1


__ADS_2