Titik Temu

Titik Temu
seharusnya semua tidak pernah dimulai


__ADS_3

Bagaimana mungkin aku bisa menerima kalian kembali, dan hidup bahagia bersama kalian. Sedangkan kebahagiaan itu, berdiri diatas puing-puing kesedihan serta penderitaan orang lain--Aretha Zayba Almira


Sekitar pukul 19.00 Aretha sampai di halaman rumah, setelah diantar oleh Jovan. Hubungannya dengan Jovan masih berjalan baik, mereka berdua bahkan kerap kali belajar bersama untuk persiapan masuk Universitas. Walaupun hubungan mereka hanya sebatas teman, tapi hari-hari Aretha selalu diisi bersama dengan Jovan Abelven.


Setelah menginjakkan kakinya di halaman rumah, Aretha sedikit bingung karena mendapati beberapa mobil terparkir di halaman rumahnya. Mobil yang sama sekali tidak dia kenali, dengan sedikit ragu gadis itupun memegang kenop pintu, hendak menekannya. Namun, pergerakannya terhenti setelah dia mendengar Oma berteriak dari dalam.


"Setelah semua yang terjadi? Kamu masih bisa menunjukkan muka kamu Radi?!!" Teriak Oma.


Dengan ragu, Aretha menekan kenop pintu seraya masuk kedalam rumahnya. Pertengkaran itu, sepertinya terjadi di ruang keluarga. Dengan langkah pelan, gadis itupun berjalan kearah ruang keluarga yang berjarak sekitar 3 meter dari tempatnya berdiri.


"Maafkan saya bunda, saya salah..."


Aretha menutup mulutnya terkejut saat dia tidak sengaja, melihat om Radi bersimpuh dihadapan Oma dan Opa. Namun setelahnya, dia memilih bersebumbunyi di balik dinding. Tidak berani untuk masuk, apalagi bergabung dalam obrolan orang-orang dewasa itu.


"Kamu bahkan tahu, maaf terlalu mahal untuk segala hal yang telah kamu lakukan!!" Tegas Opa.


"Saya mohon Oma, maafkan kami berdua, ijinkan kami untuk mengambil kembali puteri kami" keterkejutan Aretha tidak sampai disitu, dia benar-benar dibaut terkejut setelah melihat bundanya sendiri, bersimpuh dihadapan Oma. Apalagi, mereka kini tengah membahas perihal puteri mereka? Siapa puteri yang ingin mereka ambil?

__ADS_1


Tidak mungkin aku bukan?


Tawa Opa terdengar begitu nyaring, memenuhi segala kesunyian yang menyelimuti rumah Aretha "hhahahhah,,,, kalian ingin mengambil puteri kalian kembali? Bahkan kamu membuang Azka dan Rama!! Kamu bahkan membunuh Lia dan anak yang dikandungnya. Darah daging kamu sendiri!!! Sekarang kamu minta puteri kamu? Jangan mimpi Radi, membiarkan kalian hidup bersama saja, sudah termasuk kemurahan hati yang tidak terkira!" Tegas Opa.


"Saya salah, saya sadar kesalahan kami dimasa lalu, tidak akan bisa dimaafkan. Namun tolong, ijinkan kami bertemu dengan puteri kami" secara perlahan Om Radi memegang kaki Opa. Bersimpuh dengan penuh penyesalan, berharap kata maaf dapat keluar dari mulut pria paruh baya itu.


"Azka bahkan baru meninggal, bisa-bisanya kamu tidak merasa sedih karena kepergian dia" ujar Oma kecewa.


"Om, semuanya sudah terjadi. Kalian pun telah hidup bahagia bersama dengan puteri kalian. Tolong lupakan Aretha, sebagaimana kalian melupakan dia selama ini. Hiduplah seperti biasanya, jika memang kalian mencintai Aretha, tolong lepaskan dia dan biarkanlah dia hidup bahagia" ujar kak Rama seraya menatap lekat kearah bunda sekaligus ayah tirinya itu.


"Kamu tahu Rama, kamu bahkan tahu jika semuanya bukan keinginan kami! Kamu bahkan tahu kalau bunda sangat menyayangi Aretha!!"


"Persetan dengan segala rasa sayang kalian!! Jangan bersikap seakan kalian adalah korban!! Kamilah korbannya disini, kamilah korban keegoisan kalian orang dewasa!! Sekali saja, apakah bunda pernah menyesal meninggalkan kami? Apakah kalian pernah menyesal meninggalkan putera dan puteri kalian, hanya untuk kebahagiaan kalian" tegas kak Rama menatap bundanya rapuh.


Sedari dulu, Rama sangat menyayangi bundanya itu, bahkan dia rela memberikan dunianya jika saja bundanya memintanya. Tapi ternyata, dunia Rama tidak mampu mengisi segala kekosongan hidup bundanya itu. Dibandingkan merangkul Rama serta Aretha, bunda lebih memilih pergi tanpa pamit, tanpa peluk perpisahan, tanpa ucapan selamat tinggal. Yang ada hanya kekecewaan, serta trauma yang semakin lama, semakin mengikis semangat hidupnya.


"Maafin bunda nak, maafkan bunda" ujar bunda seraya bersimpuh dihadapan kak Rama.

__ADS_1


"Saat kejadian itu terjadi, saya memberikan kamu dua pilihan. Tinggalkan selingkuhan kamu itu, dan hidup bersama keluarga kecil kita. Atau pergi bersama selingkuhan kamu, tanpa membawa apapun dari rumah ini, termasuk Aretha. Anak hasil hubungan gelap kalian. Dan kamu, memilih pergi bersama selingkuhan kamu dan meninggalkan Aretha serta Rama, darah daging kamu sendiri"


Dengan wajah penuh wibawanya, ayah menatap bunda seksama. Ucapan ayah tentu saja membuat Aretha terdiam kaku, tanpa terasa air matanya jatuh membasahi kedua pipinya. Tidak menduga jika dia akan mengetahui semuanya secepat itu.


"Saat itu,,, saat itu ayah bahkan tidak memaksa bunda. Tapi tanpa ragu bunda meninggalkan kami, bahkan bunda sama sekali tidak menoleh kepada kami" kak Rama tentu saja kecewa dengan segala pilihan bunda. Mau dikatakan seperti apapun, saat itu umurnya masih sangat remaja. Pada masa pertumbuhannya, dia justru melihat keluarganya pelan-pelan hancur berantakan.


Disaat dia sudah mulai berdamai dengan keadaan, disaat dia sudah mulai mengikhlaskan segalanya. Secara paksa bunda dan om Radi kembali menyiramkan air garam, pada luka yang perlahan menyembuh. Tidak ada salahnya untuk jatuh cinta, perasaan jatuh cinta merupakan tindakan yang sangat mulia serta indah. Dimana kita mampu memberikan cinta, serta hidup kita pada orang yang tidak memiliki hubungan darah apapun terhadap kita. Seindah itu jatuh cinta.


Hanya saja, ada batasan dalam hal mencintai, ada beberapa kondisi dimana kita harus menyerah untuk memnyelamatkan kehidupan, menyelamatkan momen-momen yang sudah kita rajut.


"Om Radi, pernahkah sekali saja om merasa menyesal karena meninggalkan Azka? Pernahkah sekali saja kalian, merasa bersalah atas kematian tante Lia dan bayi yang berada dalam kandungannya? Pernahkah om, merasa sedih karena kematian Azka?" Tanya kak Rama putus asa.


Tidak ada ucapan bantahan ataupun kata pembalas yang keluar dari mulut om Radi, maupun bunda. Keduanya terdiam membisu dengan ekpresi penyesalannya itu. Ucapan kak Rama semakin membuat aretha menangis, untuk beberapa saat, dia bahkan tidak mampu mengontrol dirinya sendiri. Semuanya terlalu menyakitkan, terlalu menyakitkan didengar oleh orang yang menjadi dalang atas semua hal yang telah terjadi.


"Jika memang kalian mencintai Aretha, jika memang kalian benar-benar merindukan dia. Kalian pasti akan menemuinya secara diam-diam, ada banyak momen yang bisa kalian jadikan kesempatan untuk menemui puteri kalian itu. Disaat ayah pergi, disaat aku pergi, disaat dia yang hanya tinggal berdua dengan Azka. Dan kalian tidak melakukan itu, tidak sekalipun kalian menemui dia. Karena kalian tidak benar-benar merindukan dia, kalian tidak benar-benar mencintai dia"


Sakit, sakit sekali. Apa yang kak Rama ucapkan memang benar, disaat Aretha benar-benar terpuruk, disaat dia benar-benar butuh tempat untuk bersandar. Orang yang katanya adalah orang tua kandungnya pun, tidak pernah sekalipun datang menemui dia. Cinta mereka memang tidak salah, hanya momen serta kondisinya saja yang salah. Seharusnya sejak awal, mereka menyelesaikan apa yang sudah mereka mulai, seharunya mereka mengakhiri hubungan bunda dengan ayah, ataupun om Radi dengan tante Lia. Bukan malah berselingkuh dan melakukan dosa maksiat.

__ADS_1


Atau mungkin sejak awal, seharusnya mereka tidak pernah menikah dengan ayah atupun tante Lia. Seharunya sejak awal mereka memperjuangkan cintanya itu, dan tidak melibatkan orang lain untuk menyakiti mereka, atas dasar cinta dan kasih sayang.


__ADS_2