Titik Temu

Titik Temu
ikutlah dengan ayah


__ADS_3

Dimasa kecilnya, Aretha tumbuh dalam keluarga yang harmonis. Keluarga yang senantiasa dinner setiap minggunya. Bisa dibilang, keluarganya merupakan keluarga impian bagi beberapa tetangga. Bagaimana tidak, ayah dan bunda bekerja di perusahaan ternama di negara ini, dengan jabatan yang tidak main-main tentunya.


Sayangnya, serapat apapun kita menyimpan sebuah kebohongan, suatu saat nanti pasti akan terkuak juga. Aretha pikir, dia tidak akan pernah lagi merasakan hangatnya sebuah keluarga. Dia pikir, masa manisnya bersama kedua orang tuanya telah lama usai. Dia pikir, rasa rindunya terhadap kedua orang tuanya telah lama menghilang. Namun ternyata, dia salah besar. Anak mana yang menginginkan kehancuran dalam keluarganya. Semua anak, pasti ingin dilahirkan dan tumbuh dalam keluarga lengkap juga harmonis.


Tapi pada kenyataannya, seorang anakpun tidak akan pernah mau melihat orang tuanya menderita. Jika dengan perpisahan mampu menyembuhkan luka mereka, jika dengan berpisah mampu memberikan mereka kebahagiaan. Maka anakpun, akan berbesar hati untuk menyerah dan membiarkan kedua orang tuanya bahagia bersama dengan orang yang mereka cintai, bersama dengan jalan yang mereka pilih. Yah walaupun taruhannya mentalnya sendiri.


"Bagaimana sekolah kamu?" Tanya Ayah memulai obrolan.


"Alhamdulillah baik, pekerjaan ayah bagaimana?"


Ayah mengangguk-anggukkan kepalanya "alhamdulillah baik, lancar juga" jawabnya seraya mengetuk-ngetukkan jarinya pada stir mobil.


"Rencananya kamu akan lanjutin kuliah dimana?"


Walaupun Aretha bukan puteri kandungnya, walaupun dia sempat meninggalkan puterinya itu. Namun, tidak bohong jika dia pun penasaran dengan kisah hidupnya. Sudah cukup lama dia pergi meninggalkan puterinya itu. Cukup banyak kenangan manis yang telah dilewatkannya, penyesalan memang selalu datang belakangan. Nyatanya kini, Ayah menyesali pilihannya dimasa lalu, yang lebih memilih meninggalkan Aretha seorang diri, dibandingkan menemaninya dan menyembuhkan mentalnya.


Untuk sepersekian detik, Aretha tersenyum bahagia karena ayah menanyakan banyak hal mengenai hidup nya. Memang cukup sulit memaafkan kesalahan ayah dimasa lalu, namun tidak ada salahnya untuk berdamai dengan keadaan, bukan? Karena Aretha sudah sangat lelah dengan segala masalah yang terjadi dalam hidupnya. Dia terlalu lelah untuk menyimpan segala dendam, yang justru akan semakin merusak dirinya sendiri.


"Gak tahu, masih belum kepikiran" jawab Aretha jujur.


Awalnya, Aretha ingin menjadi seorang psikolog ataupun psikiater. Karena dia tahu, dizaman sekarang, banyak orang yang membutuhkan para ahli untuk menyembuhkan penyakit mental mereka. Karena dulu, dia pun pernah menggunakan jasa para ahli untuk menyembuhkan mentalnya. Bahkan hampir 3 tahun lamanya, gadis itu mengonsumsi obat anti depresan.

__ADS_1


Namun, setelah kehilangan Azka. Aretha seperti kehilangan arah, dia yang awalnya telah menyusun rencana masa depannya dengan sangat baik pun, justru menjadi tidak percaya diri. Karena kini, dia sadar jika dialah orang yang membutuhkan bantuan psiokolog ataupun psikiater. Bagaimana mungkin, orang yang sakit secara mental, mampu menyembuhkan orang lain. Menyembuhkan dirinya saja tidak bisa, apalagi orang lain.


Saat ini, yang Aretha butuhkan adalah ketenangan hidup yang mampu membuatnya bangkit dan kembali semangat menjalani kehidupannya. Yah, tidak papah tidak berhasil mengejar mimpinya itu, asalkan dia bisa bahagia dan berdamai dengan keadaannya saat ini. Karena itu yang sangat dibutuhkan oleh Aretha, untuk mampu bertahan hingga akhir, hingga titik darah penghabisan.


"Loh? Bukannya kamu mau jadi psikolog?" Tanya Ayah heran.


Aretha menggelengkan kepalanya cepat "enggak ahk, aku udah gak mau lagi jadi psikolog" jawabnya.


"Lalu kamu mau jadi apa?" Tanya ayah lembut.


"Gak tahu yah, untuk sekarang. Aku tidak ingin terlalu memikirkan itu"


"Iya"


"Kalau begitu, setelah lulus nanti. Ikut ayah ke Yogja saja, tinggallah dengan ayah dan ibu mu disana" pinta ayah.


Awalnya, tidak pernah ada perasaan khawatir apapun dalam dirinya untuk meninggalkan Aretha seorang diri. Karena akan selalu ada Azka disamping puterinya itu. Namun kini, Azka telah pergi untuk selamanya dan Rama pun akan kembali pulang ke Balik Papan, tidak mungkin dia meninggalkan Aretha sendirian disini. Walaupun usia Aretha sudah cukup dewasa, walaupun anak-anak seusianya telah hidup mandiri. Namun, meninggalkan Aretha sendirian dalam kondisinya yang seperti sekarang, bukanlah pilihan yang baik.


Aretha menggelengkan kepalanya tidak setuju "enggak yah, aku gak mau. Aku akan tetap tinggal disini" tolaknya.


Ayah menundukkan kepalanya untuk beberapa saat, kemudian kembali menatap ke arah Aretha "ibumu sudah berubah, diapun sudah menyesali segala kesalahan yang telah dia lakukan dimasa lalu. Jadi, ayah mohon tinggallah dengan kami disana, tidak mungkin kamu tinggal disini sendirian"

__ADS_1


"Enggak yah, Are gak mau. Are akan tetap tinggal disini, walaupun harus tinggal seorang diri, Are gak masalah" tolaknya tegas.


Hingga akhirnya, ayah pun menyerah, dia tidak lagi membujuk Aretha untuk ikut tinggal bersama dengannya. Walaupun begitu, ada perasaan tidak ikhlas ketika dia harus meninggalkan Aretha seorang diri di kota ini. Mengingat, tidak ada siapapun yang akan menjaga dan merawatnya dengan baik. Tidak ada siapapun yang bisa dijadikan sandaran disaat dia kesulitan.


Tapi, Bani-ayah Aretha pun tidak mampu berbuat apa-apa. Kesalahannya dimasa lalu, pasti masih membekas dalam ingatan puterinya itu. Bisa jadi, mempertemukan Aretha kembali dengan ibu sambungnya yang telah memberikannya luka yang mendalam, bukanlah pilihan yang baik. Bisa jadi, pilihan itu merupakan pilihan terburuk yang dapat memicu kembali trauma Aretha.


Bani sadar, seharusnya saat itu dia menceraikan istrinya itu. Seharusnya dia menyuruhnya pergi disaat dia tahu semuanya. Saat dia tahu jika Aretha mendapat perlakuan kasar dan tidak manusiawi, dari ibu sambungnya itu. Namun ego Bani saat itu begitu tinggi, dia tidak mungkin melepaskan wanita yang dia cintai. Hanya karena wanita itu menyakiti anak yang bukan anak kandungnya.


Bani menghembuskan napasnya beberapa kali, seperti katanya tadi, penyesalan akan selalu datang belakangan. Kini, disaat dia sudah kehilangan semuanya, disaat dia kehilangan sosok puterinya yang ceria dan manis. Dia pun mulai meyesali pilihannya dimasa lalu.


"oh iya, pulang sekolah kamu ada acara?" tanya Bani-ayah Aretha.


"emmm, kayaknya enggak deh. Emangnya kenapa yah?"


"nanti malam kita ke bandara, kita jemput oma dan opa Azka. Dan juga,,,, calon kakak ipar kamu" jawab Ayah seraya melirik Aretha sekilas.


"apa?" tanya Aretha terkejut.


Entah sudah berapa lama berlalu, sejak dia bertemu dengan Oma dan Opa. Seperti tante Lia yang memiliki hati yang baik dan penyabar, Oma dan Opa pun sama. Disaat orang-orang meninggalkannya, disaat Aretha sudah tidak memiliki alasan untuk hidup, disaat titik terendahnya. Oma dan Opa bagaikan pahlawan yang menyelamatkan bumi. Dengan kebesaran hati mereka, mereka merawat Aretha dengan begitu baik, mereka jugalah yang membawa Aretha untuk berobat ke Psikolog dan Psikiater.


Kini, bagaimana dia akan menghadap mereka. karena kini, cucu kesayangan mereka telah pergi untuk selamanya.

__ADS_1


__ADS_2