
Hubungan Aretha bersama kak Asma semakin dekat. Calon kakak iparnya itu, telah menginap di rumah Aretha dalam waktu yang cukup lama. Tidak terasa perempuan itu akan kembali lagi ke Balik Papan dan meninggalkan Aretha serta kekasihnya yaitu Kak Rama. Dengan menggunakan mobil milik kak Rama, seluruh keluarga mengantar kepergian Kak Asma ke Bandara.
Beberapa kali Aretha bertanya pada kakaknya itu, kapan lelaki itu akan kembali ke Balik Papan. Namun, dibandingkan menjawab pertanyaan Aretha, kakaknya itu malah mengatakan jika dia akan berpikir lagi. Mungkin, dia masih terlalu sulit meninggalkan keluarganya yang masih sangat kacau. Atau mungkin, dia tidak tega meninggalkan Aretha tinggal sendirian, karena saat ini tidak ada Azka yang akan menemani segala keseharian Aretha. Tidak akan ada Azka yang menjaga Aretha. Kini, jika dia kembali ke Balik Papan, maka Aretha akan tinggal sendirian.
"Hubungan kamu baik-baik saja kan dengan Asma?" Tanya Oma tatkala mereka sedang rehat di Gazebo.
"Baik kok Oma" jawab Aretha seraya memakan seblak yang baru saja dibelinya di warung tetangga.
"Bagus, jangan sampai kamu punya masalah dengan calon kakak ipar kamu itu. Kalau ada yang kamu tidak nyaman darinya, obrolkan baik-baik. Mengerti?"
Aretha menganggukkan kepalanya mengiyakan, menyetujui nasihat Omanya itu. Terdengar suara helaan napas Oma, sebelum akhirnya wanita paruh baya itu menyahut.
"Oma denger-denger kamu kemarin mengajar di sekolah Mahardika?" Tanyanya.
"Iya Oma, sama temen-temen Are dan anak-anak Lion Gang" jawab Aretha.
"Hah..... kamu tahu nak? Saat itu, Azka meminta ijin pada Oma untuk mewakafkan tanah milik bundanya itu. Oma melarang sebenarnya, karena tanah itu akan menjadi mahal dimasa depan nanti, dan uang hasil penjualannya bisa digunakan untuk Azka dan keluarganya. Namun, dibandingkan menuruti apa yang Oma katakan, Azka justru mewakafkan tanah itu dan membangun sekolah diatasnya. Awalnya Oma dan Opa marah besar, karena walaupun Azka merupakan anak tunggal, dan harta yang ditinggalkan oleh Lia menjadi hak Azka. Namun, kami menginginkan dibangun perusahaan di tanah itu, tempatnya sangat strategis. Azka mengatakan gini sama Oma, azka sedang berinvestasi untuk akhirat, harta yang Azka wakafkan saat ini tidak akan hilang apalagi merugi. Ada hak orang lain didalam rezeki yang Azka miliki"
Aretha terdiam mendengarkan cerita Oma. Entah sebesar apa hati Azka, kenapa dia bisa sebaik itu? Walaupun Azka terlahir dalam keluarga yang berada, tapi sedikit orang yang akan mengikhlaskan hartanya untuk kepentingan bersama. Pelet anak-anak Mahardika memang begitu kuat, Azka saja bisa tersihir masuk kedalamnya.
__ADS_1
"Oma pernah datang ke sekolah Mahardika?" Tanya Aretha kemudian dijawab gelengan kepala oleh Oma.
"Kalau Oma punya waktu, sebelum pulang ke German, kita berkunjung bersama-sama kesana. Kita lihat perjuangan Azka yang masih tersisa di dunia ini" ajak Aretha disertai senyuman khasnya.
"Iya, ayo"
Kedua perempuan itu tersenyum bersama, sebelum akhirnya tawa ringan keluar dari mulut keduanya. Manusia hanya akan meninggalkan 2 hal didunia ini, kebaikan juga anak-anak yang sholeh-sholehah. Kebaikan Azka masih saja terkenang hingga saat ini, beberapa orang yang Aretha temui selalu saja mengatakan jika Azka orang baik. Benar, dimana pun kaki Azka berpijak, disana tersisa serpihan kebaikan yang tidak lekang oleh waktu, sekalipun sosoknya telah pergi meninggalkan dunia ini.
Adakalanya Aretha berpikir jika Azka masih hidup, karena hingga saat ini sosoknya masih belum ditemukan. Seandainya Azka masih hidup, maka Aretha akan mengorbankan segalanya untuk Azka. Karena, lelaki itu pun telah mengorbankan segalanya untuk Aretha. Semoga, semoga Azka dapat ditemukan,.walaupun dalam bentuk Jenazah.
"Oma denger dari Rama, katanya kamu deket dengan laki-laki yang beda keyakinan sama kamu? Siapa namanya?"
"Jovan oma" jawab Aretha parau.
"Temen Azka?" Tanya Oma seraya menyantap pisang goreng buatan ayah Bani.
"Iya, sahabat deket Azka" jawab Aretha seraya menatap sosok kak Rama yang sedang mencuci mobilnya.
"Jangan terlalu dekat, karena kalau kamu sudah menjatuhkan hati kamu pada dia sedalam mungkin. Kamu tidak akan lepas darinya" nasihat Oma seraya beranjak pergi meninggalkan Aretha.
__ADS_1
Hubungan Aretha bersama Jovan, selalu mendapat pertentangan dari kedua belah pihak. Hingga kini pun, Aretha tidak dapat melihat cahaya diantara hubungannya dengan Jovan. Karena kemanapun matanya melihat, selalu perpisahan yang menjadi jawaban. Bahkan Aretha masih tidak mampu untuk bertemu kembali dengan orang tua Jovan, pertemuan pertamanya dengan mereka, berakhir dengan cara yang tidak baik. Aretha bahkan masih mengingat ekspresi mamah Jovan hari itu, entah bagaimana dia harus menghadap mereka lagi. Namun yang pasti, Aretha ingin memperbaiki hubungannya dengan mereka. Karena dia tidak ingin memiliki musuh dengan siapapun.
****
Ada 2 tipe manusia didunia ini, yang pertama tipe orang yang menyukai serta menyayangi kita. Sebanyak apapun kita melakukan kesalahan kepada mereka, mereka akan memberikan cinta dan kasih sayangnya kepada kita. Cinta serta kasih sayang yang mereka curahkan, tidak sedikitpun mereka harapkan balasan. Lalu, tipe yang kedua adalah orang yang membenci kita. Sebanyak apapun kebaikan yang kita berikan, mereka akan membenci kita. Karena orang yang membenci dan mencintai manusia, tidak perlu alasan untuk melakukannya.
Karenanya, jangan pernah menyia-nyiakan cinta yang diberikan orang lain kepada kita, karena mungkin kita tidak akan mendapatkannya lagi. Dan jangan jadikan kebencian orang lain kepada kita, menjadi titik terpuruk kita dalam hidup. Karena, kebenciaan dan kasih sayang yang diberikan oleh orang lain, tidak akan membantu kelangsung hidup. Pujian, sanjungan, semuanya hanya meningkatkan ego manusia dan membuatnya terbuai didalamnya. Hingga, kata merendah menjadi kata tersulit.
Aretha pikir, orang-orang akan mengingat kebaikan Azka saja. Namun, seornag laki-laki yang sedang duduk dihadapannya ini, bersikap berbeda. Dibandingkan memuji dan menceritakan kebaikan Azka, dia justru menghina dan terus saja menyebut-nyebut kejahatan Azka.
"Si Azka itu, tukang minum. Dia itu hobi makan obat-obatan, bahkan dia adalah orang yang menjadi pencetus rusaknya moral yang ada di Lion Gang!" Ujar lelaki itu dengan wajah tengilnya.
Sabar Tha, sabar
Jika saja tidak banyak orang disekelilingnya, dan orang yang berada dihadapannya saat ini bukanlah lelaki. Maka tanpa ragu Aretha akan memkul orang itu dengan tangannya sendiri. Padahal Aretha berniat bersantai sebentar di teras Ind*ma**t. Tapi sosok pemuda asing tiba-tiba duduk dihadapannya dan mengatakan hal-hal yang tidak-tidak tentang Azka.
"Pantesan jasad nya gak ketemu. Dosanya kelewat banyak, sampai bumi pun tidak mampu menerima jasadnya untuk dikebumikan" ujarnya tanpa beban.
Hingga akhirnya Aretha tidak mampu lagi menahan emosi. Persetan dengan dia yang akhirnya gak sembuh, Azka itu orang baik. Tidak sepantasnya orang asing mengatakan hal-hal yang kelewat batas seperti itu. Kepalan tangannya sudah siap-siap melayang pada pipi pemuda itu. Namun sebelum kepalan tangannya mendarat, kepalan tangan seseorang berhasil mendahuluinya.
__ADS_1