
Bertemu kembali dengan Oma dan Opa, merupakan sebuah kebahagiaan sekaligus kesedihan. Senang karena setelah sekian lama, akhirnya dapat bertemu kembali. Namun sedih karena, kini Azka cucu mereka telah pergi untuk selamanya. Juga kini, Aretha tahu bagaimana posisinya di keluarga tante Lia. Aretha adalah anak yang tidak pernah diinginkan kehadirannya, juga anak yang menjadi penyebab hancurnya dua keluarga.
Malam hari pukul 20.00 WIB, Aretha beserta kak Rama dan ayah datang bersama-sama ke bandara. Mereka datang untuk menjemput Oma dan Opa, juga calon istri kak Rama yang secara kebetulan akan sampai secara bersamaan. Kedatangan Oma dan Opa, jelas untuk mencari keberadaan Jenazah Azka yang tewas dalam kecealakaan pesawat Rajawali air. Rencananya, Oma dan Opa akan turut serta dalam proses pencarian itu, karena berapa banyak pun agen yang disewa, tidak ada satupun yang menemukan petunjuk.
Sedangkan pacar kak Rama datang untuk bertemu dengan Ayah dan juga Aretha. Walaupun ayah sudah bertemu dengan keluarga calon istri kak Rama, tapi Aretha belum pernah bertemu dengannya. Jadi, kedatangannya secara khusus diperuntukan untuk mengenal dan dekat dengan Aretha- adik dari calon suaminya.
"pacar kakak, jam berapa sampainya?" tanya Aretha penasaran.
"setengah jam lagi, Kalau Oma dan Opa sebentar lagi kayaknya" jawab Kak Rama, lelaki itu melirik jam tangannya sekilas, sebelum kembali fokus menyantap makanan yang dia beli tadi di jalan, karena tadi dia tidak sempat makan malam.
"Pacar kakak baik gak?" Tanya Aretha seraya ikut memakan camilan yang tadi sempat dia beli sebelum berangkat ke Bandara.
"Baik, cantik juga. Kamu pasti suka sama dia"
Aretha menundukkan kepalanya, seraya menghela napas dalam-dalam. "Semoga yah kak, semoga dia suka sama Are" ujarnya sembari menatap ke arah Kak Rama.
Rama menghentikan kegiatannya menyantap nasi Padang miliknya, kemudian menatap Aretha dengan seksama "dek, dia pasti suka sama kamu. Justru kakak khawatir kamu yang gak suka sama dia" Dengan lembut, Rama mengelus kepala Aretha pelan.
"Aku pasti suka kok kak. Siapapun perempuan pilihan kakak, aku pasti akan suka" ujar Aretha.
"Dek, kalau kamu gak suka sama dia. Kalau dia justru jahat sama kamu, ataupun berlaku kasar sama kamu. Jangan ragu untuk mengatakannya sama kakak, karena kakak tidak akan ragu untuk tinggalin dia"
Aretha menggelengkan kepalanya, dengan pelan dia mengelus tangan kakaknya itu "enggak kak, aku mau kakak bahagia. Kalau dia bisa buat kakak bahagia, kakak harus pertahanin dia. Jangan pernah tinggalin dia, hanya karena aku gak cocok sama dia. Aku mau kakak hidup bahagia"
__ADS_1
Beberapa menit Rama terdiam mendengarkan ucapan Aretha, beberapa kali dia menghembuskan napasnya dalam untuk menenangkan perasaannya "dek, kakak gak mau kejadian di masa lalu terulang kembali. Kakak gak mau ninggalin kamu lagi, kamu adik kakak. Sudah sepantasnya kakak menjaga kamu, kakak gak mau kejadian di masa lalu terulang lagi. Kakak minta maaf atas semua sikap kakak dulu, maaf karena telah tutup mata dan membiarkan kamu terluka. Sekarang, kamu adalah prioritas kakak. Kakak gak akan pernah mau kehilangan kamu, hanya karena seorang wanita. Jika dia gak baik sama kamu, dia pun gak akan baik untuk kakak"
Hingga detik ini pun, Rama menyesali segala pilihannya di masa lalu. Dia menyesal karena telah menutup mata dan membiarkan Aretha disiksa oleh ibu tirinya. Kini, Rama memiliki kesempatan kedua untuk berubah, tidak akan pernah dia biarkan kejadian di masa lalu terulang kembali. Rama memang mencintai Asma, dia sangat menyayangi calon istrinya itu. Namun, jika Asma tidak mampu memperlakukan Aretha selayaknya adiknya sendiri. Jika Asma berlaku kasar pada Aretha, apalagi dengan menyakiti fisik dari adiknya itu. Maka Rama tidak akan segan untuk meninggalkannya. Karena kini, Aretha adalah prioritasnya.
Bagi Rama, Aretha tidak hanya seorang adik, melainkan dunia dan segala isinya. Dunia yang sempat dia tinggalkan, dunia yang sempat dia lupakan kehadirannya. Kini, tidak akan pernah sekalipun dia meninggalkan adik tersayangnya itu.
"Kak, selama ini kakak sudah cukup menderita, kakak telah menyerahkan segalanya untuk Are. Jadi, Are harap kakak kini memperhatikan kebahagiaan kakak. Jangan pernah tinggalkan dia, hanya karena Are memiliki masalah dengan dia. Kakak, harus bahagia. Kakak harus membangun rumah yang didalamnya terdapat kehangatan. Rumah yang tidak pernah kita dapatkan dulu. Hanya itu permintaan Are kepada Kakak"
Aretha kini telah beranjak dewasa, adiknya itu kini telah memahami segalanya. Bagaikan air hujan yang luruh membasahi bumi. Segala ucapan Aretha mampu membuat Rama menitihkan air matanya. Dalam pelukkan hangat itu, Rama berharap Aretha hidup dengan bahagia. Dia berharap adiknya itu mampu melepaskan segala beban yang telah dipundaknya sedari lama.
***
"Oma..." panggil Aretha tatkala dia melihat Oma dan Opa berjalan dengan menyeret koper mereka.
Oma dan Opa yang mendengar panggilan Aretha pun, akhirnya berjalan menghampiri gadis tersebut.
"Alhamdulillah lancar, kalian sehat-sehatkan?"
Aretha mengagukkan kepalanya mengiyakan "alhamdulillah sehat Oma" jawabnya.
Wanita paruh baya itupun, menatap penampilan Aretha dari atas hingga bawah. Setelahnya, dia memeluk Aretha erat seraya mengusap pelan punggungnya.
"Maafin Are Oma" ujar Aretha seraya membalas pelukan Oma.
__ADS_1
"Suttt, udah gak papa. Ini bukan salah kamu nak, ini memang sudah jalan yang ditakdirkan oleh Allah" jawab Oma.
Untuk kali ini, Aretha bertekad untuk tidak menangis dan meneteskan air matanya lagi. Kali ini, dia ingin menghibur Oma dan Opa yang telah kehilangan cucu kesayangan mereka.
"Belum ada progres apapun?" Tanya Opa pada Bani.
Bani menggelengkan kepalanya "belum. Tapi saya sudah menambah orang-orang yang akan mencari keberadaan jenazah Azka" jawabnya.
Oma menghela nafasnya dalam-dalam. "Jika sampai akhir bulan ini belum ketemu. Kita akhiri pencarian Azka, mungkin memang disanalah tempat yang diijinkan oleh Allah SWT, untuk mengebumikan Azka" ujar Oma setelah melepaskan pelukannya pada Aretha.
"Tapi oma...."
Hingga kini pun, pencarian jenazah Azka masih dilakukan. Orang-orang suruhan abi dan Umi. Juga orang-orang suruhan Ayah, Oma dan Opa pun masih bekerja keras untuk mencari jenazah Azka.
Namun, jika mereka menyerah dan memutuskan untuk menghentikan pencariaanya. Jujur saja, Aretha tidak setuju. Dia masih berharap Jenazah Azka mampu ditemukan, sebagaimana Jenazah para korban lain yang kini telah dikebumikan dengan layak.
Oma menatap Aretha lekat, seraya mengusap lengan gadis itu pelan "nak, kita harus mengikhlaskan Azka. Jika memang jenazah nya sulit untuk ditemukan, mungkin tempat itu tempat terbaik bagi cucu Oma itu untuk beristirahat. Kita, harus mengikhlaskan dia nak"
Hingga akhirnya, Aretha tidak mampu membantah apapun yang menjadi perintah Oma. Karena pada dasarnya, setiap orang pasti menginginkan yang terbaik untuk orang-orang tersayang. Namun, jika kehendak Allah berbeda dengan apa yang kita inginkan, kita bisa apa?
Dan lagi, Aretha tidak memiliki kekuasaan apapun untuk membantah perintah Oma. Dia tidak memiliki harta yang cukup banyak untuk menyewa orang yang bertugas mencari keberadaan Azka.
"Baiklah Oma" ujarnya menyerah.
__ADS_1
Setelahnya, mereka pergi dari bandara setelah calon istri kak Rama tiba 10 menit setelah kedatangan Oma dan Opa. Tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulut Aretha. Dia hanya mendengarkan dengan seksama pembicaraan Oma dan Opa dengan ayah dan kak Rama.
Ka, jika memang keajaiban itu ada. Aku benar-benar berharap, kamu berhasil selamat dan masih hidup. Walaupun mustahil, tapi aku benar-benar keajaiban itu benar-benar nyata.