
Katanya, apa yang kita ucapkan merupakan sebuah do'a, jadi sudah sepantasnya manusia mengucapkan yang baik-baik. Karena apa yang kita ucapkan, kadang kala akan kembali pada kita sendiri. Jika boleh jujur, Aretha ingin sekali mendapatkan pengakuan dari orang tua kandungnya, kalau dia anak mereka, anak kandung mereka. Walaupun kehadirannya tidak diinginkan, namun gadis itu tidak mampu berbohong, jika sebenarnya. Dia pun menginginkan keluarga yang lengkap.
Tidak, bukan berarti Aretha tidak menghargai segala perjuangan yang telah dilakukan oleh Azka, oma, Opa, ayah ataupun kak Rama. Bukan berarti dia tidak mencintai orang-orang yang telah mengorbankan segalanya untuknya. Hanya saja, ada kalanya dia bertanya-tanya apakah orang tua kandungnya pernah menyesal, membuang Aretha begitu saja. Sedikit saja, apakah mereka pernah mencintainya dan merindukannya?
Aretha bersyukur, sangat bersyukur karena dikelilingi oleh orang-orang baik yang senantiasa melindunginya serta mencintainya. Walaupun Aretha kekurangan kasih sayang, tapi dia tidak akan pernah mengemis untuk mendapatkan cinta. Apalagi, kini orang tua kandungnya telah hidup bahagia, mereka telah memiliki keluarga lengkap yang telah mereka tunggu-tunggu kehadirannya.
Kehadiran Aretha justru akan merusak kebahagiaan mereka, karena Aretha adalah duri yang seharusnya tidak pernah tumbuh. Dia bukan duri pada tangaki bunga mawar, dia adalah duri pada tangkai bunga matahari, tidak seharusnya dia ada dan tumbuh disana.
Dengan menggunakan mobil milik Kak Rama, Aretha dan kakaknya itu pergi untuk dinner bertiga bersama dengan kak Asma. Karena ada urusan dengan beberapa temannya, kak Asma akhirnya berangkat setelah urusannya dengan teman-temannya selesai. Bagaimanapun, sudah sejak lama kak Asma tidak pernah lagi datang ke Jakarta, jadi sudah pasti calon kakak iparnya itu merindukam kebersamaannya dengan teman serta sahabatnya.
"Dek" panggil Rama seraya melirik Aretha sekilas lalu kembali fokus menatap kearah jalan raya.
"Iya kak?"
__ADS_1
"Tadi kakak tidak sengaja mendengar obrolan kamu dengan Oma dan Asma" ujar Kak Rama seraya melirik Aretha yang sedang menatap kearahnya "kakak tanya sama kamu, apa kamu serius tidak akan melanjutkan pendidikan kamu, dan akan belajar pelajaran agama islam di pesantren abi dan umi?" Tanyanya setelahnya.
Aretha menarik napasnya dalam-dalam, kemudian menatap kak Rama lekat "awalnya sih gitu kak. Tapi kayaknya aku harus pikirin lagi, Oma gak setuju sama pilihan aku untuk tidak berkuliah" ujarnya
Dengan wajah yang penuh akan senyumannya, Rama mengusap puncuk kepala Aretha pelan. "Dek, kamu serius dengan keinginan kamu itu? Kenapa kamu berubah pikiran dan lebih memilih untuk menyerah akan mimpi kamu sebagai seorang psikolog?" Tanyanya beruntun.
"Dulu,,,, aku pikir, para psikolog merupakan orang-orang hebat yang mampu mengembalikan kembali semangat hidup yang telah lama pupus. Mereka orang hebat yang mampu memberikan motivasi disaat kita benar-benar butuh itu. Karena itu aku ingin menjadi psikolog. Aku ingin membantu orang-orang yang yang membutuhkan semangat dan juga motivasi untuk hidup, aku ingin menjadi tempat bersandar, bagi orang-ornag yang tidak memiliki tempat untuk bersandar. Tapi,,,, setelah kepergian Azka. Kini aku sadar jika, aku sembuh bukan hanya karena bantuan psikolog ataupun psikiater, tapi karena Azka ada disisiku. Dia ada menemani dan memotivasi aku untuk senantiasa bertahan"
Rama menghentikan laju mobilnya, kemudian menatap kearah adik tersayangnya. Begitu banyak momen yang telah dia lewatkan, tidak hanya menutup mata perihal perbuatan ibu tirinya. Rama juga tidak ada disamping Aretha, disaat gadis itu benar-benar membutuhkan sosoknya. Sungguh, Rama merasa jika dia adalah kakak yang tidak berguna, kakak yang tidak ada disaat adiknya benar-benar membutuhkan dirinya untuk berada disisi adiknya itu.
"Dek, maafin kakak. Maaf karena tidak ada disamping kamu, disaat kamu benar-benar butuh kakak. Maaf" Rama menggenggam tangan Aretha erat, seraya menatap adiknya itu dengan tatapan penuh penyesalan.
Gadis kecil itu menggelangkan kepalanya cepat "enggak kak, kakak gak perlu minta maaf. Kakak ada kok disaat Are butuh kakak. Selama ini, kakak tidak benar-benar pergi meninggalkan Are sendirian. Disaat Are butuh solusi, disaat Are butuh teman ngobrol, kakak selalu ada dan meluangkan waktu kakak. Kakak bahkan memberikan uang bulanan untuk Are, disaat kakak memiliki kesempatan untuk meninggalkan Are sepenuhnya, disaat kakak bisa pergi tanpa pulang kembali. Kakak tidak melakukannya, kakak kembali pulang, dan menemani Are disini"
__ADS_1
Sebuah pelukan hangat, Aretha dapatkan dari kakak tersayangnya itu. Iya, kak Rama tidak benar-benar meninggalkannya, dia masih berada disisi Aretha walaupun dipisahkan dengan jarak. Aretha pun, tidak akan pernah menyalahkan segala pilihan kakaknya itu, seperti ayah yang memutuskan untuk menikah kembali. Kak Rama pun, membutuhkan ruang untuknya menerima segala kenyataan, membutuhkan tempat untuknya berkeluh kesah. Dan Aretha bukanlah rumah yang bisa memberikan kehangatan bagi kakaknya itu.
"Dek, apapun keputusan kamu. Apapun pilihan hidup yang ingin kamu pilih nanti, kakak akan senantiasa mendukung kamu. Jika memang mendekatkan diri kamu kepada sang maha kuasa Allah SWT, mampu membuatmu tenang dan memilih bertahan, maka kakak akan mendukung itu. Kakak sendiri yang akan mengatakannya langsung kepada Oma" ujar kak Rama seraya mengusap air mata yang jatuh membasahi pipi Aretha
"Tapi kak,,,, Oma bilang...."
"Dek, gak ada salahnya untuk menyerah ditengah jalan, gak ada salahnya kamu putar balik arah dan mencari jalan lain yang memang jalan yang benar ingin kamu tuju. Daripada terus melanjutkan langkah kamu, tapi kamu tersesat nantinya, dan kamu tidak bahagia dengan jalan itu, lebih baik kamu kembali pulang dan mencari jalan lain yang benar-benar ingin kamu tuju. Masih ada bangak waktu dek, masih ada banyak waktu untuk kamu, mengejar mimpi kamu, terlepas dimasa depan nanti kamu akan jadi psikolog atau bukan. Yang penting, kamu bahagia dengan hidup kamu dek, karena kamupun pantas mendapatkan semua itu"
"maksih kak, makasih karena telah menjadi kakak Are, makasih karena telah menerima kehadiran Are" ujar Areth tulis.
Rama kembali melajukan sepeda motornya, hari semakin malam, Asma pasti sudah menunggub di retoran itu.
"dek, ikutlah dengan kakak ke Balik papan. Disana juga ada pesantren yang bisa kamu jadikan tempat belajar. Tidak harus pesantren abi dan umi bukan? Kakak juga sudah membicarakan semuanya dengan Asma dan ayah, mereka setuju. Dibandingkan tinggal disini sendirian, lebih baik ikut dengan kakak dan kak Asma"
__ADS_1