
Apa yang kau ingin dariku ya tuan?? langkahmu terburu buru hingga ketika waktu arunika, isakkan tangis ku selalu membasuh.
"Kamu tidur di rumah Azka dek?"
Aretha yang awalnya hendak menggenakan sepatunya pun, menghentikan kegiatannya seraya menoleh kearah kak Rama yang sedang mencuci mobil. "Iya" jawabnya.
"Sepulang sekolah nanti, kamu ada waktu? Ada yang ingin kakak bicarakan sama kamu" ujar kak Rama.
Sepersekian detik, Aretha tidak mampu mengatur ekspresi wajahnya. Namun setelahnya, diapun tersenyum cerah kearah kakaknya itu. "Wah apanih? Tiba-tiba banget. Jangan bilang kakak mau traktir Are"
"Hahahhah, apapun, apapun yang kamu mau. Kakak akan belikan" jawab kak Rama seraya tertawa.
Aretha berjalan kearah kakaknya itu, kemudian memeluk leher kak Rama dari belakang. "Nanti Are minta yang mahal, kakak nyesel loh" ujarnya.
"Emang apasih yang akan kamu beli? Mentok-mentok paling album k-pop" ujar kak Rama meremehkan.
"Nah, kakak tahu!! Udah yah, Are berangkat dulu. Assalamu'alaikum"
Setelahnya, Aretha melepaskan pelukkannya kemudian berjalan keluar halaman rumah disertai senyuman lebarnya. Walaupun Aretha dapat menebak apa yang akan kakaknya ucapkan nanti, walaupun gadis itu terlalu takut untuk menedengar semuanya. Namun tidak ada yang bisa dia lakukan, selain berpura-pura tidak tahu serta bersikap seakan baik-baik saja.
Karena dia tidak ingin membuat orang-orang yang mencintainya khawatir, dia tidak ingin memberikan beban pada seorang kakak yang telah memikul beban yang sangat berat. Aretha ingin, meringankan segala beban yang telah dipikul oleh orang-orang yang mencintai.
Aretha sendiri tidak tahu, dia tidak tahu akan seperti apa perjalanan hidupnya di masa depan nanti. Tapi yang pasti, dia ingin menjalani kehidupan dengan penuh kebahagiaan, dia ingin melupakan sejenak segala kesedihan yang selama ini telah menggerogori seluruh keluarganya. Dia ingin menjadi Aretha Zayba Almira, yang menjalani kehidupannya dengan penuh kebahagiaan. Kini, gadis itu telah kembali tumbuh setelah bertahun-tahun meninggal.
****
"Bel?" Panggil Aretha.
"Hmmmm?"
Mereka yang awalnya hendak keluar dari dalam masjid, akhirnya lebih memilih berdiam diri didalamnya untuk menyejukkan diri. Memang, Masjid merupakan tempat yang paling nyaman untuk dijadikan tempat neduh.
__ADS_1
"Dulu kamu dekat sama Azka yah?" Tanya Aretha pada Bella.
"Hah? Deket? Siapa yang bilang?" Alih-alih menjawab pertanyaan Aretha, Bella justru ikut bertanya kepada Aretha.
"Fahrul, Jovan juga bilang gitu" jawab Aretha seraya menatap Bella lekat.
Mendengar jawaban dari Aretha, Bella pun menghembuskan napasnya beberapa kali, seraya menatap keluar jendela. "Untuk dibilang dekat, kita gak sedekat itu Tha. Hanya....pernyataan cinta yang membuat kami berkomunikasi. Kamu tahu Tha? Aku udah ditolak hampir 5 kali sama Azka, karena penolakan itu jugalah yang membuat aku beberapa kali menghampiri Azka di warung mang Budi" jawab Bella.
"Kamu ditolak 5 kali? Beneran?" Tanya Aretha serta Sisil terkejut.
Dengan senyuman yang tidak luntur sedikitpun, Bella menganggukkan kepalanya mengiyakan.
"Pantang menyerah banget yah kamu Bel" ujar Sisil kagum.
Bella tertawa mendengar pujian Sisil, sebelum akhirnya kembali menghirup napas dalam-dalam " tapi aku bersyukur sih, aku bersyukur banget karena Azka tidak pernah mau pacaran sama aku. Jika seandainya dia berpacaran sama aku, aku takut malah jadi pemberat bagi Azka di akhirat nanti. Aku takut malah menjerumuskan Azka ke neraka" ujarnya.
Baik Sisil maupun Aretha, keduanya sama-sama terdiam setelah mendengar ucapan Bella "sorry Bel, aku pikir, aku yang paling kehilangan Azka. Tapi kamu juga kehilangan dia" ujar Aretha seraya memeluk Bella erat.
Tidak ada yang bisa mereka lakukan, selain mengikhlaskan kepergian teman-teman mereka. Walaupun ikhlas belum mampu menjadi teman, namun bukan berarti tidak bisa terealisasikan. Suatu saat nanti, mereka pasti akan terbiasa. Suatu saat nanti, kenangan-kenangan yang telah terlewati bersama para korban. Akan menjadi kenangan manis yang tidak akan pernah terulang kembali.
***
Diantara ruas jalan, diantara banyaknya lalu lalang kendaraan bermotor. Terdapat kenangan manis yang tersimpan dengan rapatnya. Aretha lupa, dia lupa jika semua ruas jalan ini menyimpan kenangannya bersama dengan Azka. Dia lupa jika seluruh hari-harinya dilalui bersama dengan pemuda itu.
Kak Rama datang menjemputnya ke sekolah bersama dengan kak Asma. Katanya, pembicaraan mereka nantinya merupakan pembicaraan yang sangat penting. Karena itu kak Rama memutuskan untuk menjemputnya, karena katanya semua orang telah berkumpul di tempat dan sedang menunggu kehadiran Aretha.
Ingatan Aretha kembali berkela pada kejadian istirahat tadi, saat dia menanyakan pada Bella perihal kejadian beberapa bulan yang lalu. Saat hubungannya dengan Azka merenggang, saat Bella membela Aretha dihadapan Azka. Disaat Azka hendak memukul Bella. Dibandingkan kesal ataupun marah, Bella justru tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Aretha.
"Hahahahahha, itumah cuman sandiwara Tha" ujarnya disertai tawa renyahnya.
"Sandiwara?" Tanya Aretha dan Sisil berbarengan.
__ADS_1
Bella menganggukkan kepalanya "iya, sandiwara. Jadi gini, Azka tiba-tiba minta aku buat bantuin dia menyelesaikan masalahnya dengan kamu Tha. Saat itu, aku males banget bantuin dia, dia kan baru aja nolak aku. Tapi dia mohon-mohon Tha, katanya apapun yang aku mau pasti akan dia kabulkan. Tentu saja aku tergiur dengan penawaran dia, jadi seperti yang kalian tahu. Terjadilah kejadian itu" ujarnya menjelaskan.
"Pasti ide kamu kan?" Tebak Sisil.
Kemudian Bella menganggukkan kepalanya mengiyakan. "Aku juga gak nyangka kalau Azka mau ngelakuin itu" jawabnya.
"Dasar ratu drama"
Dibandingkan merasa marah dengan hinaan Sisil, Bella justru tertawa bahagia.
"Apa yang kamu minta? Kamu kan berhasil buat aku dan Azka baikan" tanya Aretha penasaran.
"Jalan-jalan"
"Bodoh banget kamu Bel, padahal kamu bisa minta dia jadi pacar kamu. Kan dia bakalan kabulin apapun keinginan kamu Bel" Aretha menganggukkan kepalanya, menyetujui apa yang baru saja Sisil ucapkan.
"Enggak lah, aku gak sejahat itu. Lagian, aku gak mau pacaran sama Azka, hanya karena paksaan. Aku suka dia, tapi aku gak mau memiliki dia yang tidak suka sama aku. Mungkin ini memang yang terbaik, aku... sangat menghargai prinsip Azka untuk tidak berpacaran, aku tidak ingin dia melanggar prinsipnya, hanya karena tidak ingin melanggar janji dia"
Jujur saja, Aretha merasa sangat kagum dengan pemikiran Bella. Padahal saat itu, dia bisa saja meminta Azka untuk berpacaran dengan dia. Azka juga pasti akan menepati janjinya itu, karena Azka adalah orang yang akan senantiasa menjaga janjinya. Tapi Bella tidak melakukannya, dia benar-benar mencintai Azka. Sehingga tidak ingin membuat orang yang dia cintai melanggar prinsipnya sendiri. Sayangnya, penantian Bella justru berujung pada kematian Azka.
Cintanya, tidak seindah cinta Ali dan Fatimah.
"Dek?!" Panggil kak Rama.
"Iya kak?" Jawab Aretha sedikit terkejut.
"Ngapain ngelamun. Lagi lamunin apa?"
"Heheh, enggak kok kak" jawab Aretha sedikit canggung.
"Untuk pembicaraan kita nanti, pilih lah sesuai apa yang kamu mau. Jangan pikirin soal balas budi atau apapun itu, kamu berhak untuk bahagia. Pilihlah, sesuai yang kamu mau, karena ini menyangkut hidup juga kebahagiaan kamu. Biarkan kakak yang membereskan sisanya" nasihat kak Rama.
__ADS_1
"Iya kak" jawab Aretha tanpa bantahan sedikit pun.