Titik Temu

Titik Temu
rencana masa depan


__ADS_3

"Travelling ke Kutub Utara yuk?" Ajak Jovan Tiba-tiba.


"Tiba-tiba?" Aretha yang awalnya sedang mengerjakan soal-soal ujian pun, kini mengalihkan atensi matanya seraya menatap Jovan dengan penuh tanda tanya.


Dengan antusiasnya Jovan menganggukkan kepalanya "iya, kita hunting aurora bareng. Terus masuk ke goa es crystal terbesar di Erofa. Terus ngopi bareng sambil liatin salju" ujarnya antusias.


"Liatin salju mah di korea juga bisa" sanggah Aretha seraya kembali mengerjakan soal-soal latihan.


Jovan mendelik tidak suka mendengar sanggahan Aretha. Dengan wajah memelasnya, dia menatap Aretha lekat "tapi di Korea gak ada aurora" ujarnya.


"Di kutub utara juga gak ada idol k-pop"


"Bisa! Kita bisa undang mereka buat dateng ke sana Tha"


"Tapi bakalan mahal banget Jo. Aku gak mampu buat nyewa mereka, aku gak sekaya itu"


Hingga akhirnya, lelaki itupun menghembuskan napasnya lelah. Sebelum akhrinya sebuah ide cemerlang memenuhi segala pemikirannya. "gini aja, kita pergi ke Kutub Utara, terus pergi ke Korea Selatan, gimana? Kamu mau gak?"


"Oke, deal"


Setelahnya, keduanya berjabat tangan sembari saling tatap. "Tapi...." Jovan menatap Aretha ragu.

__ADS_1


Aretha menunggu Jovan melanjutkan ucapannya, dengan wajah ragu-ragu, lelaki itu pun menatap Aretha dengan seksama "Kalau kita gak jodoh gimana? Sejak awalkan kita beda keyakinan" ujarnya dengan kepala menunduknya.


Aretha terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya berkata "jodoh itu gak ada yang tahu Jo. Kalaupun kita gak berjodoh, kita bisa dateng ke kutub Utara dengan pasangan kita. Aku dengan pasangan aku, dan kamu dengan pasangan kamu. Bukan berarti gak berjodoh, gak bisa buat kita pergi kesana bareng-bareng"


Baik Aretha maupun Jovan, keduanya sama-sama menyadari jika tidak akan ada peluang dalam hubungan mereka. Nyatanya, selama apapun mereka saling mengenal, sedekat apapun hubungan mereka, tuhan dan agama yang mereka yakini, selalu menjadi tembok pembatas antara hubungan mereka. Tembok yang tidak akan pernah mampu merek langkahi, apalagi lewati. Mereka, sama-sama mencintai ditempatnya masing-masing. Tempat, yang tidak bisa membuat mereka beranjak barang sejenak.


Hingga detik mereka kembali berpikir tentang hubungan keduanya kedepannya, mereka sama-sama tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Terlalu sulit untuk menyerah, juga terlalu sulit untuk bertahan. Rasanya seperti buah simalakama, maju mundur kena. Namun, satu hal yang selalu mereka yakini. Dibalik setiap kisah yang telah mereka lalui bersama-sama, pasti ada hikmah yang akan mereka petik dikemudian hari. Tidak mungkin Allh SWT mempertemukan dan menumbuhkan rasa cinta di hati keduanya, jika tidak ada hikmah serta pelajaran didalamnya.


Hingga yang bisa mereka lakukan saat ini adalah dengan menjalani segalanya dengan sabar dan taat pada agam yang mereka anut.


"Oke, tapi aku selalu berharap kita akan pergi ke sana berdua. Kamu pasti tahu jika aku selalu berharap kita akan berjodoh Tha" Jovan tahu, dia memang egois, dia terlalu takut untuk menyerah dalam hubungan ini. Bersama Aretha itu sakit, tapi kalau gak sama-sama dia, jauh lebih menyakitkan.


Dengan senyuman yang tidak luntur dari sudut bibirnya, Aretha kembali menganggukkan kepalanya seraya melanjutkan kegiatannya mengerjakan soal-soal ujian. Karena saat ini, dia bersama dengan Jovan sedang mengerjakan tugas di perpustakaan. Akhir-akhir ini tugas sekolah semakin menumpuk, belum lagi soal-soal latihan yang diberikan di tempat Les. Ternyata menjadi kelas 12 sesibuk itu, mereka harus pinter-pinter mengatur waktu antara mengerjakan tugas sekolah, juga memperlajari soal-soal untuk masuk Universitas.


Belum sampai 5 menit setelah Aretha fokus mengerjakan kembali soal-soal latihan, Jovan sudah memanggilnya lagi seraya menatapnya lekat. "Apa?" Tanya Aretha.


"Aku udah ngobrol dengan Bella, katanya kamu gak akan kuliah dan akan mempelajari agama islam di pesantren. Itu benar? Bella gak bohong?" tanyanya penuh tanya.


"Bella gak bohong, untuk saat ini aku akan lebih mempelajari agama islam" jawab Aretha.


"Kenapa? Kamu kan ingin jadi psikolog? Kamu bahkan sekarang sedang mengerjakan soal-soal ujian untuk masuk Universitas"

__ADS_1


Akhirnya Aretha menyerah, seraya menyimpan pensilnya pada meja, gadis itupun ikut menatap Jovan lekat. Memang butuh kesabaran tinggi untuk mengerjakan soal ujian bersama Jovan. Walupun tampilannya sangat kalem dan lucu, tapi ada satu sikapnya yang jarang diketahui oleh orang lain. Seperti saat ini, dibandingkan menemaninya untuk mengerakan soal ujian. Jovan justru mengajak Aretha untuk berbincang bersama. Tentunya tindakannya itu mampu menghilangkan fokus Aretha.


"Itu dulu Jo, sekarang aku lebih ingin memperbaiki diri. Karena umur tidak ada yang tahu, aku ingin dipanggil oleh Allah SWT dalam keadaan husnul khotimah. Ada satu ucapan Azka yang selalu aku ingat Jo, dimana kaki berpijak, disitu langit dijungjung. Setiap negara memiliki aturannya sendiri-sendiri untuk warganya. Ketika kita menginjakkan kaki di suatu negeri, kita harus mengikuti aturan yang telah ada di negeri itu. Begitu pun dengan bumi ini Jo, Allah telah menurunkan kita ke dunia ini, tidak hanya dengan memberikan rizeki, tapi juga bersama dengan perintah dan larangannya. Bumi ini milik Allah SWT, sudah sepantasnya kita mengikuti aturan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Kira-kira begitulah agama yang aku anut"


Dengan seksama, Jovan memperhatikan Aretha. Beberapa kali lelaki itu mengagguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Aku tidak ingin menjadi pemberat bagi Azka, kak Rama dan juga ayah di akhirat nanti, aku sayang mereka Jo. Dan rasa sayang tidak hanya diekspresikan dengan wujud cinta dan kasih sayang di dunia saja, tetapi juga menjaga diri kita sebaik mungkin, menaati segala perintah serta larangan Allah SWT. Apalagi aku seorang wanita, ketika aku memperlihatkan auratku di hadapan orang yang bukan mahromku. Ketika manusia berpegangan tangan dengan laki-laki yang bukan mahromnya. Dia tidak hanya menjerumuskan dirinya ke neraka, tetapi dia juga menarik ayahnya, suaminya, saudara lelakinya dan juga anak lelakinya untuk masuk bersama-sama dengannya." Ujarnya panjang lebar.


Secara perlahan Jovan mengusap surai kepala Aretha, sebelum akhirnya ditepis pelan oleh gadis tersebut, seraya mengatakan jika dirinya dan Jovan bukan mahrom, jadi tidak boleh berpegangan ataupun bersentuhan. Kini, Aretha telah meyakinkan pada dirinya sendiri, jika dia akan hijrah secara pelan-pelan menuju jalan yang baik


"Apapun yang menjadi pilihan kamu, aku akan dukung Tha" ujarnya.


"Makasih"


Jovan itu baik, saking baiknya, Aretha tidak memiliki alasan untuk membenci lelaki itu. Karenanya, cukup sulit bagi Aretha untuk move on darinya.


"Kamu masih sering nongkrong di warung mang Budi?


Jovan tersenyum seraya menggelengkan kepalanya "udah jarang sih, semenjak Azka gak ada, warung itu sudah gak hidup lagi. Seakan-akan ikut pergi bersama jiwa Azka" jawabnya sendu.


"Oh iya, nanti sore aku sama anak-anak, mau ngajar di sekolah Mahardika, kamu mau ikut?"

__ADS_1


"Ikut dong, masa enggak" jawab Aretha antusias.


"Nanti kita berangkat bareng"


__ADS_2