
Ruangan belajar yang disediakan untuk tempat belajar tambahan, kini berubah menjadi ruangan duka yang penuh akan kenangan indah didalamnya. Dengan sedikit ragu, Aretha memutar kenop pintu kemudian masuk kedalam, tanpa menutup pintu terlebih dahulu.
Sebagaimana janji kepala sekolah, ruangan ini benar-benar tidak dirubah. Bahkan buku-buku yang sering digunakan oleh 8 korban masih tersimpan diatas meja. Papan tulis pun masih terdapat coretan-coretan. Bahkan banyak kertas latihan yang berserakan. Tong sampah pun, masih tersisi dengan kertas-kertas.
Dengan langkah pelannya, Aretha berjalan menuju mading yang tersimpan disudut ruangan. Tangannya mengusap beberapa tulisan yang kini mulai berdebu. Sepertinya sedikit orang yang datang berkunjung kesini, mengingat didalamnya menyimpan memori yang terlalu menyakitkan. Bunga-bunga yang dulu disimpan di depan photo-photo para korban pun, masih tersimpan dengan rapihnya. Perbedaanya hanyalah bunga itu kini mulai layu.
"Nath, sekarang aku harus bersandar sama siapa lagi. Kalau kamu pergi?"
Secara tidak sengaja, Aretha membaca satu tulisan yang tertulis dalam kertas sticky note berwarna pink. Nathan, kali terakhir Aretha mengobrol dengannya, saat mereka tidak sengaja bertemu di warung mang Budi. Kini, lelaki yang ingin menjadi nakal itupun, telah pergi untuk selama-lamanya. Tidak akan ada lagi lelaki berprestasi yang selalu menjadi kesayangan bapak kepala sekolah. Tidak akan ada lagi nama Nathan di postingan media sosial sekolah. tidak ada lagi murid yang dibenci karena tidak mau memberikan contekan.
__ADS_1
Entah siapa yang menuliskan pesan itu, namun Aretha berharap dia bisa bahagia dan merelakan kepergian Nathan. Pasti sulit, bahkan hingga kini pun Aretha masih berusaha mengikhlaskan kepergian Azka. Tapi harus bagaimana lagi? Tidak ada jalan yang bisa kita pilih selain terus berjalan dan menjalani kehidupan. Karena kenyataan menyakitkannya adalah kematian hanyalah fase kehidupan yang akan dialami oleh manusia manapun. Perjalanan kehidupan menuju alam keabadian, kehidupan yang sesungguhnya.
"Tha?"
Tidak mungkin Aretha tidak mengenali suara yang baru saja memanggilnya, suara laki-laki yang sangat dia cintai. Laki-laki yang masih mau berteman serta bersahabat dengannya, sekalipun perasaan cintanya telah ditolak. Laki-laki yang berada disisinya disaat dia kehilangan Azka. Laki-laki yang menopangnya ketika Aretha tidak mampu berdiri.
"Mereka, pergi dengan meninggalkan kenangan manis yang terasa begitu pahit Jo" ujar Aretha seraya menatap photo-photo teman-temannya, yang kini telah pergi untuk selamanya.
Kepergian Azka, membawa perasaan bersalah yang begitu besar dalam hati Aretha. Berapa kalipun dia berusaha untuk baik-baik saja, berapa kalipun dia mengatakan tidak apa-apa. Nyatanya hati serta fisiknya tidak mampu berbohong, Aretha tidak baik-baik saja, berpura-pura baik-baik saja bukan berarti dia benar-benar baik saja.
__ADS_1
Entah berapa banyak topeng yang harus dia kenakan. Entah berapa banyak pil obat tidur yang harus dia minum, supaya dia mampu tertidur lelap dan menutup matanya. Entah berapa lama lagi dia bisa berhenti meminum obat anti depresi. Nyatanya, kepergian Azka benar-benar membuat Aretha hampir gila. Kini, Aretha sadar jika alasan kenapa dulu dia bisa sembuh, bukanlah karena bantuan psikolog ataupun psikiater. Tetapi karena ada Azka disisinya, karena Azka menjadi suport system nya serta memberikannya motivasi untuk bertahan dan alasan untuk bertahan.
Azka selalu mengajaknya pergi ke pengajian dan membimbingnya untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Hingga tangisan Aretha semakin pecah ketika Jovan memeluknya erat. Entah sosok seperti apa lagi yang akan Jovan lihat dari gadis yang dicintainya itu. Nyatanya, cinta Jovan padanya, membuat Aretha terbebani. Dia takut Jovan pergi, dia takut Jovan pun akan membencinya dan membuangnya. Dia takut terlalu bergantung pada Jovan. Aretha takut kehilangan untuk yang kesekian kalinya.
"Menangislah, kamu juga manusia Tha. Tidak perlu berbohong pada dirimu sendiri, kamu pun manusia biasa. Kamu pun berhak untuk bersedih, kamu pun boleh menangisi kepergian Azka. Berhentilah berpura-pura Tha, kamu tidak perlu lagi memakai semua topeng itu. Kamu berhak menjadi dirimu sendiri. Makasih, makasih karena sudah bertahan, makasih karena sudah berjuang. Kamu hebat Tha, kamu berhak untuk bahagia. Lepaskan Tha, lepaskan semua beban itu. Kamu hebat, makasih-makasih karena sudah bertahan Tha. Aku bersyukur karena mengenal kamu, aku bersyukur karena kamu ada disisiku. Kamu pun, harus bangga sama dirimu sendiri, karena telah mampu berjalan sampai pada titik ini. Tidak perlu menjadi sempurna Tha, karena selama ini kamu hebat, makasih, makasih karena telah hidup"
Ada beberapa hal yang orang lain tidak mengerti, ada beberapa kejadian yang orang lain tidak ketahui, ada beberapa kesedihan yang tidak dapat dirasakan oleh orang lain. Sedari kecil, Aretha dituntut untuk menjadi sempurna, dia dituntut untuk hidup bahagia walaupun sebenarnya dia tidak bahagia. Perceraian orang tuanya bukanlah satu-satunya kesedihannya. Nyatanya, ketika orang tuanya masih bersama pun, Aretha sudah memakai topengnya. Dia sudah berpura-pura baik-baik saja dan membohongi dirinya sendiri.
__ADS_1
Kalimat yang baru saja Jovan ucapkan, benar-benar meluluh lantakkan seluruh pertahanan Aretha. Kalimat yang selalu Azka ucapkan, kini diucapkan oleh lelaki yang dicintainya. Jika dulu hanya Azka yang menjadi suport systemnya, kini justru banyak orang yang merangkulnya. Bahkan ayah pun, kini mulai membuka dirinya, kak Rama pun kini selalu menemani Aretha dan manjaganya. Namun, sampai kapan? Ayah pun akan kembali ke jogja, karena disana istrinya tinggal. Kak Rama juga akan kembali ke Balik papan, karena disana tempat dia bekerja, juga tempat dimana dia dan istrinya akan menetap.
Lalu Jovan pun, dia akan pergi untuk melanjutkan pendidikannya. Dia pun akan kuliah dan bertemu dengan teman-teman barunya, dia akan memiliki dunianya sendiri. Semuanya akan pegi meninggalkannya, bagaimana mungkin Aretha berani bersandar kepada mereka, sedangkan Aretha tahu jika akhirnya mereka akan kembali pergi dan berpisah darinya. Dan Aretha pun akan kembali sendirian.