Titik Temu

Titik Temu
belajar sekaligus bermain-main


__ADS_3

Kebahagiaan tak terhingga adalah, ketika ketika melihat sebuah senyuman terukir dari wajah seseorang, atas apa yang telah kita berikan padanya. Aretha telah menduga, jika anak-anak Mahardika akan merasa sangat bahagia ketika diajak study tour mengelilingi beberapa museum. Namun, dia tidak menduga jika kadar kebahagiaan mereka, akan jauh lebih besar dibandingkan apa yang telah Aretha pikirkan.


Dengan menggunakan bus yang disewa oleh anak-anak Lion Gang, seluruh anak-anak Mahardika renacanya akan dibawa menuju 3 tempat. Yaitu, Museum Sri Baduga, Museum Asia Afrika dan juga Puspa Iptek.


Museum Sri Baduga menjadi museum pertama yang akan mereka kunjungi. Seluruh anak-anak diminta berbaris dengan rapi sesuai kelas masing-masing. Aretha bersama Giandra dengan segera mencari seluruh anak didiknya dan meminta mereka untuk segera berbaris.


"Halo semuanya, dengerin kakak yah" teriak Jovan dengan menggunakan mic. Seluruh anak-anak yang awalnya heboh berbincang dan ada beberapa yang melihat sekelilingnya pun. Seketika memfokuskan perhatian mereka pada sosok Jovan yang berada tepat dihadapan mereka.


"oke, makasih karena sudah tenang. Seperti yang sudah kalian lihat dan baca, sekarang kita sudah ada didepan gedung museum Sri Baduga. sebentar lagi kita akan masuk kedalam, namun kakak minta sama kalian untuk tetap berada didekat guru-guru kalian. Mengerti?"


"mengerti" teriak anak-anak Mahardika bahagia.


"dan untuk semua guru yang membimbing, jangan lupa untuk selalu memperhatikan murid kalian. Dan kalau ada yang ingin pergi ke toilet, tolong ijin dulu sama guru kalian. Mengerti?"


"mengerti!" seru anak-anak mahardika.


Setelah Jovan menginterupsi untuk masuk kedalam, satu persatu setiap kelas masuk kedalam bangunan.


"waw, bagus banget" ujar salah satu anak didik Aretha.


Tidak hanya anak-anak Mahardika yang merasa kagum dengan isi dari museum yang saat ini sedang mereka kunjungi. Namun Aretha pun merasa sangat takjub dengan peninggalan-peninggalan yang menyimpan banyak sejarah itu. Jika boleh jujur, ini juga kali pertama bagi Aretha mengunjungi museum. Selama ini, dia tidak pernah sekalipun menginjakkan kakinya ke tempat bersejarah tersebut.


"Pirit Batu pirit terbentuk karena mineral yang disusun oleh senyawa besi-belerang FeS2, berwarna kuning seperti emas. Pirit banyak terdapat di dalam batuan bekuan atau endapan. Kalau larut dapat membentuk asam sulfat yang mengganggu, baik untuk pertanian maupun bangunan teknik, termasuk batuan galian. Sifat batuan ini jika terpengaruh tekanan, suhu atau lingkungan kimiawi, dapat berubah sifat menjadi padat hingga kristal atau butirnya hilang bentuk aslinya, berumur : Pliosen (2-5 juta tahun ) lokasi : Majalengka, Jawa Barat"


Giandra dengan cermat membacakan deskripsi dari batu yang berada dihadapan mereka saat ini. Seluruh anak-anak menganggukkan kepalanya mengerti.

__ADS_1


Setelahnya, mereka kembali melanjutkan penjelajahan mereka untuk mengelilingi seluruh area museum. Dengan bergantian Aretha dan Giandra membacakan deskripsi yang tertulis, karena beberapa anak ada yang belum bisa ataupun lancar membaca. Beberapa anak juga mengajukan beberapa pertanyaan, Aretha dan Giandra menjawab pertanyaan mereka dengan bantuan mbah g*og*e, karena mereka pun tidak terlalu mengerti banyak.


Setelah selesai mengunjungi seluruh area Sri Baduga, perjalan kembali dilanjutkan dengan mengunjungi Asia Afrika. Seperti sebelumnya, Giandra dan juga Aretha pun membacakan apa yang tertulis pada deskripsi. Kunjungan diakhiri dengan seorang pemandu yang menjelaskan perihal sejarah konferensi Asia Afrika. Seluruh anak-anak mahardika dengan anteng, mendengarkan penjelasan pemandu tersebut.


"nih minum" ujar Jovan seraya menyerahkan satu botol air mineral pada Aretha.


Saat ini, Jovan duduk tepat di samping kanan Aretha, sedangkan disamping kirinya terdapat Giandra yang sedang fokus mendengarkan penjelasan.


"makasih" ucap Aretha seraya menerima botol air mineral tersebut, kemudian meminumnya.


Setelahnya, mereka sama-sama kembali fokus dengan penjelasan dari pemandu.


***


Destinasi terakhir mereka adalah dengan mengunjungi Puspa Iptek, berbeda dengan 2 tempat sebelumnya. Saat ini, semua anak-anak Mahardika dibebaskan untuk berkeliling kemana pun, tanpa perlu bersama teman sekelas ataupun guru pembimbing. Asalkan, mereka tidak berjauhan dari teman-temannya.


"sayang banget Bella harus pulang" ujar Sisil dan dibalas anggukkan kepala oleh Aretha.


Seperti rencananya sejak awal, Bella memang tidak akan ikut mengunjungi semua tempat study tour. Bella pulang dengan dijemput oleh salah satu kakak laki-lakinya. Alhasil, dia tidak bisa mengunjungi puspa iptek yang sangat terkenal dengan jam matahari raksasanya.


"wah, kacanya bagus Sil. Kamu coba masuk deh" usul Aretha setelah melihat salah satu anak Mahardika yang masuk kedalam kaca yang bolong pada bagian tengah atas. Dimana, anak itu keluar dari bolong itu dan hanya terlihat badan bagian atasnya saja.


"kamu aja Tha, aku fotoin"


Dengan bahagia Aretha menganggukkan kepalanya, kemudian dia masuk kedalam sana dengan Sisil yang sudah siap untuk memphotonya.

__ADS_1


"1..2...3" tepat setelah Sisil mengucapkan nomor tiga, terdengar suara cekrek.


"ganti gaya Tha" perintah Sisil.


Aretha dengan seraga mengaganti gayanya, salah satunya seperti orang yang terkejut karena setengah dari badannya menghilang. Aretha kembali menghampiri Sisil, setelah berhasil mengambil hampir 10 foto dengan gaya yang berbeda-beda.


"kamu mau cobain Sil?" tanya Aretha.


"gak ahk, aku mau cobain yang lain"


Setelahnya, mereka kembali mengelilingi area puspa iptek. namun langkah mereka terhenti ketika melihat Jovan yang menaiki sepedanya diatas tali.


"bahaya gak sih?" tanya Aretha khawatir.


Dengan segera Sisil menggelengkan kepalanya "kayaknya enggak deh. Kan ada tali pengamannya, ada penjaganya juga" ujarnya tidak setuju dengan pendapat Aretha.


"tapi gak ada jaminan kan kalau tali itu gak akan putus?"


"ya... Iya sih, tapi gak mungkin kan mereka seceroboh itu. Mau dikatakan seperti apapun, ini menyangkut nyawa manusia. Gak mungkin lah mereka main-main"


Mau tidak mau Aretha menganggukkan kepalanya setuju, walaupun hati dan juga pikirannya tetap saja khawatir.


Hembusan lega keluar dari mulut Aretha, ketika dia melihat Jovan yang berhasil melewati tali yang sudah seperti tali sirotol mustaqim tersebut.


"tuh kan, gak usah khawatir. Sekarang kita mau lanjut keliling, atau kamu mau nemuin Jovan?" dengan sangat baik hati Sisil akan pergi jika Aretha akan menemui Jovan. Dia kan bukan nyamuk yang harus berada disekitar pasangan muda itu.

__ADS_1


"keliling lagi aja. Ketemu sama Jovan bisa nanti" ujar Aretha seraya melenggos pergi.


Selain pertama kali mengunjungi museum, hari ini juga kali pertama Aretha datang mengunjungi puspa iptek. Jadi dia tidak mau menyai-nyiakan kesempatan yang mungkin tidak akan Aretha ulangi lagi di kemudian hari, berakhir dengan sia-sia. Kapan lagi kan, belajar sekaligus bermain-main?


__ADS_2