
"Psst..."
"Psst..."
Aretha dan juga Sisil yang sedang fokus mengerjakan soal pun, melirik Bella malas. "Apa?" Tanya Sisil jengkel, karena sedari tadi Bella terus saja menganggu kegiatannya.
"Kantin yuk, laper nih. Emangnya kalian pada gak laper apa?" Tanya Bella seraya membereskan alat-alat lukis miliknya. "bakso mang Dodi kayaknya enak banget dimakan siang-siang gini. Ayolah keburu abis" lanjutnya
"Duluan aja, masih ada 10 soal yang belum aku kerjakan" ujar Aretha, dengan santainya dia kembali mengerjakan soal-soal latihan untuk masuk Universitas. Seakan-akan iming-iming memakan bakso mang Dodi, tidak membuatnya tertarik.
Kini, mereka telah menginjak kelas 12, bukan saatnya lagi untuk main-main. Mengingat banyaknya ujian-ujian yang menanti mereka, dari mulai Uts, Uas, ujian kelulusan, belum lagi ujian untuk masuk Universitas. Walaupun Aretha masih belum tahu apakah dia akan melanjutkan kuliahnya atau tidak, tapi dia tetap akan mempersiapkan dirinya. Karena bagaimanapun, walaupun kak Rama dan Ayah tidak masalah jika Aretha tidak melanjutkan kuliahnya. Namun, Oma masih mendesaknya untuk melanjutkan pendidikannya. Dan Oma, bukan lah orang yang akan menyerah begitu saja, sebelum keinginannya terpenuhi, maka Oma akan terus mendesak Aretha sampai Aretha yang menyerah sendiri.
"Iya, kamu kalau laper duluan aja. Aku mah nanti aja" ujar Sisil.
"Ya Allah,,,, kayaknya cuman kalian aja deh yang masih semangat belajar kayak gini. Cuman kalian aja yang ngabisin waktu istirahat buat belajar di perpustakaan"
"Kata siapa? Semuanya lagi sibuk belajar padahal. Kayaknya cuman kamu aja deh yang gak belajar? Tugas tadi pagi aja kamu nyalin sama a---"
Secara paksa, Bella menutup mulut Sisil yang akan membongkar aibnya dihadapan anak-anak yang berada di dalam Perpustakaan "ini mulut kayaknya laper banget, asam lambungnya sampai kecium gini" ujarnya seraya menatap kearah Aretha.
__ADS_1
"Ayolah, kita makan dulu. Belajar juga perlu energi. Gue traktir deh, apapun yang kalian mau, silahkan dibeli. Mumpung dapat transfer dari abang aku di luar negeri." ajaknya.
"Oke" putus Aretha bahagia. Rezeki mah jangan ditolak, harus diterima dengan lapang dada. Kapan lagi seorang Syauqia Bella Anatasya mentraktir makan. Selain berisik, Bella itu cukup pelit jika perihal uang. Kecuali ketika suasana hatinya sedang baik, dia akan menjelma menjadi malaikat, seperti sekarang.
"Sejak kapan kamu suka belajar Tha? Padahal biasanya kita malas-malasan bersama" Tanya Bella heran, pasalnya Aretha merupakan partner yang gampang diajak malas-malasan, sekaligus partner yang gampang diajak melakukan hal-hal sesat seperti membolos jam pelajaran. Jadi sangat luar biasa melihat Aretha yang menyibukkan hari-harinya dengan belajar.
"Yeyyy, si Are gak belajar tetap rangking satu. Lah kamu, gak belajar dapat rangking berapa?" Sindir Sisil.
"Ini nih, ini. Salahnya sistem pendidikan disekolah kita, harusnya gak ada tuh rangking-rangkingan. Karena semua manusia memiliki kelebihannya sendiri-sendiri, kita gak bisa maksa ikan buat jalan di darat, begitupun maksa monyet untuk berenang"
Sisil serta Aretha menganggukkan kepala setuju, apa yang Bella ucapkan memang benar. Namun hal itu, tidak bisa menjadi alasan untuk bermalas-malasan. Semua manusia pasti memiliki tuntutannya sendiri-sendiri, ketika manusia memutuskan untuk bersekolah di satu sekolah. Maka dia harus siap dengan segala aturan yang telah ditetapkan oleh sekolah itu.
"Tapi kamu kan manusia Bel, punya akal, punya pikiran. Karena punya prinsip seperti itu, bukan berarti kamu boleh bermalas-malasan" ujar Sisil seraya kembali mengerjakan soal-soal latihan.
Sebenarnya, belajar bukanlah hal yang digemari oleh Aretha. Jika boleh jujur, Aretha lebih suka membaca komik, ketimbang harus mengerjakan soal-soal Matematika. Namun, kondisinya saat ini berbeda, bukankah Aretha pernah mengatakan jika dia hampir gila setelah kepergian Azka? Satu-satunya cara yang membuatnya mampu melepaskan sejenak kesedihannya itu, adalah dengan belajar dan fokus belajar.
Menghabiskan hari-harinya dengan mengerjakan soal-soal ujian, mampu membuat Aretha lupa akan segala hal yang telah ditinggalkan oleh Azka, akan segala kesedihan serta semua traumanya. Tidak, Aretha tidak benar-benar melupakan Azka. Hanya saja, tidak ada yang bisa dia lakukan untuk melanjutkan hidupnya, selain melupakan fakta jika Azka telah tiada. Menganggap Azka pergi ke German untuk mengejar mimpinya, mampu membuat gadis itu melanjutkan hidupnya, memberikannya secercah harapan. Walaupun dia tidak tahu, sampai kapan dia harus berpura-pura.
"Yah tahu Sil, tahu. Tapi tetep aja lah, harus ada perbaikan dalam sistem pendidikan di Sekolah kita. Gak bisa terus-terusan kayak gini, harus ada perubahan yang bagus bagi dunia pendidikan"
__ADS_1
"Yaudah sih, udah. Katanya kamu mau traktir kita, ayolah lapar nih" ujar Aretha mencoba mengubah topik pembicaraan, karena dia sangat yakin kalau perdebatan ini tidak akan selesai sebelum mendapatkan kesimpulan, akan masalah yang mereka perdebatkan. Kalau tidak dicegah, sampai jam istirahat selesaipun, perdebatan mereka tidak akan selesai-selesai. Alamat gagal ditraktir Bella.
Hingga akhirnya, mereka berdua menyeret Sisil menuju ke Kantin, karena sahabatnya itu masih enggan untuk beranjak dari duduknya.
****
"Lo apa-apaan sih? Kita duluan yang mesen, jangan nyerobot antrian gitu dong" tegas Bella marah, kepada tiga orang laki-laki yang secara paksa menyerobot antrian Bakso mang Dodi.
"Jadi cewek, ngalah lah sama cowok. Dari tadi gue udah ngincer bakso mang Dodi, yang lo pesen itu mangkok terakhir. Ayolah, gue tambahin 3 ribu dah" bujuk cowok dengan baju yang dikeluarkan.
"Enak aja, hanya karena kalian cowok, bukan berarti kalian yang paling berkuasa" ujar Sisil.
"Ayolah gue laper nih, belum makan dari tadi. Gak punya perasaan banget jadi manusia" ujar cowok yang satunya seraya memegang perutnya yang katanya sangat lapar.
"Lo pikir kita gak laper apa? Kita juga laper. Wajah aja ganteng, kelakuan lo minus parah" ujar Bella seraya menatap kesal kearah 3 laki-laki itu, yang sepertinya mereka juga sama-sama kelas 12 seperti dirinya.
"Yang sopan dong jadi orang"
"Jangan bicara soal sopan santun, kalau lo masih suka nyerobot antrian" ucap Sisil.
__ADS_1
"Sorry, sorry. Temen-temen gue salah, maklum mulutnya pada ketinggalan di rumah, jadi gak disekolahin. Sekali lagi, sorry banget" secara tiba-tiba, satu orang laki-laki yang sedari tadi tidak ikut dalam adu mulut. Menyeret kedua temannya pergi meninggalkan Aretha, Bella dan juga Sisil. Beberapa kali lelaki itu mengucapkan kata maaf, atas ketidak sopanan dari kedua temannya itu.