Titik Temu

Titik Temu
kerja kelompok


__ADS_3

Tugas kelompok selalu menjadi tugas yang disukai ataupun tidak disukai. Alasannya karena, ada yang mengerjakan dan tidak mengerjakan. Adakalanya tugas kelompok hanya dikerjakan oleh seorang saja, seharusnya bukan tugas kelompok namanya, melainkan tugas individu. Seperti halnya saat ini, Aretha harus berlapang dada karena dia harus sekelompok dengan Ade dan juga Adi. Dibandingkan membantunya mengerjakan tugas yang diberikan oleh bu Ratna, mereka justru asik bermain game pada ponselnya.


"Kalian ini mau ngerjain atau enggak sih?" tanya Aretha jengkel.


Adi melirik Aretha sekilas, kemudian kembali fokus pada ponselnya "urang bagian ngeprint. Tenang aja, gak usah patungan" ujarnya.


"urang juga bagian bayar" timpal Ade.


Kedua saudara kembar itu, benar-benar membuat Aretha semakin kesal. Memangnya dengan memiliki uang, mereka bisa mendapatkan segalanya apa? Yang namanya tugas kelompok itu gak gini, diskusi, saling cari materi, dan ngerjain bareng-bareng. Bukan malah menyerahkan semuanya pada satu orang, dan dengan bangganya mereka menyerahkan uang milik mereka.


Dengan emosi, Aretha menggebrak meja "gak gini yang namanya kerja kelompok. Kalau kalian gak mau memberikan kontribusi apapun, aku akan keluar dari kelompok ini" ujarnya kesal.


Ade menghentikan permainan gamenya, kemudian menatap Aretha sinis "udah urang bilang kan? Urang yang akan ngeprint dan bayarin. Menurut maneh itu gak ada kontribusinya apa? urang ngeluarin duit dan menurut urang, eta udah ada kontrribusinya" sanggahnya tidak terima.


"kalau uang kamu sebanyak itu, lebih baik kamu bayar tukang joki tugas. aku gak butuh uang kamu"


Adi yang mendengar ucapan Aretha pun, ikut berdiri dari duduknya "kita gak pinter, cuman itu yang kita bisa" ujarnya.


Aretha menghembuskan napasnya dalam, seraya memegang pelipisnya yang tiba-tiba terasa pusing "kalau kalian ngerasa gak bisa, belajar! Setiap manusia itu sama, gak ada yang bisa langsung jadi ahli. Butuh proses, dan waktu. Dengan kalian ngelakuin ini, gak akan ngebuat kalian jadi lebih baik. Okelah,, nilai kalian bagus di sekolah, walaupun kalian gak begitu ngerti pelajaran yang diajarkan, tapi gak segala hal terpaku pada nilai. Menurut kalian, sampai kapan kalian akan bisa kayak gini? Sampai kapan dunia akan selalu terpaku pada kalian? Gak segala hal yang ada didunia ini, bisa kalian dapatkan dengan uang"


Dengan segera, Aretha membereskan semua peralatan belajarnya kemudian memasukkannya kedalam tas. Jika memang mereka tidak mau bekerja sama, maka Aretha pun tidak akan mau satu kelompok dengan mereka. Dia akan membicarakan hal ini dengan bu Ratna. Terserah Adi dan Ade akan berpikir apa terhadapnya, kalaupun mereka memusuhinya nantinya, Aretha gak akan peduli. Dia tidak ingin satu kelompok dengan orang yang hanya memanfaatkannya saja.


Adi dan Ade yang melihat Aretha membereskan barang-barangnya pun menatap gadis itu penuh keheranan "maneh ngapain beresin semua ini? Mau kemana?" tanya Adi.


"pulang" jawab Aretha seraya menggendong tas miliknya.


"loh? Bukannya kita mau kerja kelompok yah? Ngerjain tugasnya juga baru mulai, ngapain pulang?" tanya Ade.


"pikir aja sendiri" ujar Aretha acuh. Seraya meninggalkan kedua saudara kembar tersebut. Besok, Aretha pastikan akan membicarakan masalah ini dengan bu Ratna. Dia akan meminta guru Biologi itu untuk mengijinkannya mengerjakan tugas sendirian. Semoga saja bu Ratna mengerti.

__ADS_1


*****


Seperti biasa, hari-hari Aretha dimulai dengan sarapan nasi goreng buatan ayah. Juga berangkat sekolah dengan diantar oleh ayahnya itu. Tentu saja Aretha sangat menikmati hari-harinya ini. Walaupun dia harus memikirkan kembali perihal permintaan orang tua kandungnya, untuk dinner pada malam minggu nanti bersama mereka. Sebenarnya, Aretha tidak ingin mendekatkan dirinya pada mereka, selama mereka masih tidak menyayangi kak Rama dan juga Azka. Karena gadis itu merasa tidak pantas untuk menerima segala cinta itu.


"nih, jangan lupa dateng yah" ujar Bella seraya menyerahkan kertas undangan.


"siapa yang nikah Bel?" tanya Sisil seraya membuka kertas undangan yang diberikan oleh Bella.


"bukan nikah, tapi ponakan aku di sunat. Jadi, sekeluarga ngadain syukuran gitu. Dateng yah?"


Aretha pun ikut membaca undangan yang diberikan oleh Bella "hari ini?" tanyanya tidak percaya.


"iya, dateng yah"


Aretha dan juga Sisil saling menatap, sebelum kemudian menatap kembali ke arah Bella "tapi kan hari ini kita ada rencana buat study tour Bel" ujar Aretha tidak enak.


"oh iya bener, nanti jam 10 kan?"


"emmm, kalian dateng malem juga gak papa. Soalnya nanti malem ada pengajian, kalau kalian gak capek sih. Kalau capek gak usah dateng" usul Bella.


"memangnya kamu gak akan ikut study tour Bel?" tanya Sisil penasaran.


"ikut kok" jawab Bella cepat.


"lah, terus syukurannya gimana?"


Bella menatap kearah Aretha yang sepertinya sangat kebingungan "syukuran mah tetap jalan. Gak ada aku pun, masih akan tetap lanjut. Lagian, aku udah janji sama anak-anak Mahardika, masa aku ngelanggar janji aku sendiri. Yah, walaupun aku gak ikut ke semua tempat. Tapi aku ingin hadir buat nemenin"


"anak-anak pasti ngerti kok, keluarga kamu lebih penting loh. momen itu gak akan pernah kamu ulangin lagi" ujar Sisil.

__ADS_1


Bella tersenyum cerah kepada kedua sahabatnya itu "momen study tour ini juga gak akan keulang lagi, aku ingin jadi salah satu orang yang ikut menyaksikan senyuman bahagia anak-anak Mahardika. Kalian tenang saja, aku gak akan ikut ke semua tempat, jadi aku masih bisa kebagian momen bahagia keluargaku" jawabnya.


"Tha, bisa kita bicara sebentar?"


Kehadiran Ade dan Adi membuat ketiga sahabat itu menghentikan obrolannya. Ketiganya sama-sama menatap saudara kembar itu dengan seksama.


"gak" jawab Aretha tegas.


"please sebentar aja, gak akan lama kok" pinta Ade.


"yaudah sok, mau ngomong apa?" tanya Aretha akhirnya.


Adi melirik sekelilingnya, kemudian menatap ke arah Aretha "disini banyak orang. Diluar bisa?" pintanya.


"emangnya kalian mau ngomongin apaan sih? Kalau untuk masalah kemarin, aku akan bilang sama bu Ratna untuk pisah kelompok"


"sebentar aja Tha, gak akan lama kok"


Akhirnya Aretha menyerah, dengan terpaksa gadis itu menganggukkan kepalanya setuju, kemudian mengikuti saudara kembar itu dari belakang.


"sekarang kalian mau ngomong apa? Udah sepi nih" tanya Aretha setelah mereka sampai di belakang sekolah.


"kamu udah bilang sama bu Ratna untuk pisah kelompok?" tanya Ade dan Aretha menjawabnya dengan gelengan kepala.


"syukurlah, tolong jangan pisah kelompok sama kita. Kita bakalan kerjain apapun yang kamu suruh, ngetik ratusan lembarpun kita jabanin. Asal kamu mau ngebimbing kita, kalau gak ada kamu, kita gak tahu akan bisa ngerjain tugas atau enggak. Maafin kami yah Tha?" dengan wajah bersalahnya Ade memohon pada Aretha.


"kalian udah kelas 12 loh, masa gak bisa bikin makalah sama power point"


"jujur saja, selama ini kita emang jarang ngebantuin kerja kelompok. Selama ini kita selalu kebagian ngeprint dan ngebayarin, dan mereka selalu gak keberatan. Kami pikir, itu bukan masalah dan emang seperti itu yang namanya kerja kelompok. Dan kami baru tahu kalau kami salah, setelah kamu ngomong. Maaf karena udah bikin kamu sakit hati, tapi tolong jangan keluar dari kelompok ini" ujar Adi.

__ADS_1


Aretha menghembuskan napasnya lelah "oke, makasih karena udah interospeksi diri. Besok kita lanjutin kerja kelompoknya, hari ini gak bisa, karena aku sibuk"


"siap kapten" ujar Ade dan Adi berbarengan.


__ADS_2