
Sungguh jantung dita berdetak lebih kencang dari biasanya saat tangannya di genggam erat oleh bian, sempat dia berusaha melepas genggaman itu, tapi bian malah memperkuat genggamannya
Sekalipun dia sedang berbincang dengan albi , tapi tidak di pungkiri, bahwa hatinya berdesir saat tangannya di genggam kuat oleh bian
"lewat genggam tanganku ini, seluruh rasa aku salurkan pada mu, jika ada kata yang lebih indah dari kata cinta, akan aku ucapkan itu anandita"
Dengan terus menatap dita, bian bergumam dalam hatinya, berharap dita paham akan hal itu
Pintu lift terbuka, setelah sampai di lantai apartemen bian, dan bian pun melepaskan genggamannya, sebelum albi melihatnya
"Kita duluan ya dit, sampai bertemu besok" bian dan albi keluar dari lift itu
"iya ,selamat malam" Dita tersenyum kepada mereka berdua
Dita sudah memasuki apartemennya, sejenak dia berhenti di balik pintu, menyenderkan tubuhnya pada pintu, dan menatap tangannya yang tadi di genggam bian
"Kenapa, aku selalu lemah jika itu menyangkut kamu bi, Pertahananku seakan mulai runtuh"
.
.
.
Dita berada di kantornya ,seperti biasa dia sedang berjibaku dengan berkas berkas disana, sebagai ceo ,banyak dokumen yang harus dia periksa dan di tanda tangani
Dita terus saja fokus dengan laptop di depannya, hingga suara ketukan pintu, menghentikan kegiatannya.
"Permisi bu"
__ADS_1
"Kenapa nay" nayla yang masuk keruangan dita
"Kita sudah siap meeting, pak bian dan dinda sudah menunggu di ruang meeting" Dinda adalah model papan atas yang bekerja sama dengan perusahaan dita
"oke, baiklah, kita kesana sekarang"
Dita segera berjalan menuju ruang meeting diikuti oleh nayla disana, karena memang hari ini jadwal mereka untuk membahas acara pemotretan, untuk peluncuran fashion terbaru, hasil dari rancangan dita sendiri
Ceklek.
"Selamat siang, maaf sudah membuat menunggu"
"Tidak apa bu , santai saja" Karena memang dinda sudah sering bekerja sama dengan dita, mereka sudah dekat, dan tau satu sama lain
"Baik lah, kita mulai meetingnya"
Meeting pun di mulai, dita menjelaskan semua konsep yang dia inginkan, melihat dita begitu serius, membuat bian tersenyum kagum melihatnya
Dan rapatpun berlangsung 1 jam lebih, setelah semuanya sepakat dengan waktu yang di tentukan , dita mengakhiri meetingnya
Dinda dan nayla sudah meninggalkan ruangan, tersisa bian dan dita disana
"Kamu masih banyak pekerjaan" tanya bian
"Sudah selesai , kenapa"
"Kalo gitu, ikut aku" bian langsung menarik lengan dita, membawanya keluar dari kantor, dan langsung menuju mobilnya
"Hey, Aku belum bilang setuju untuk ikut denganmu" dita protes saat mereka sudah berada di dalam mobil
__ADS_1
"Aku tidak meminta persetujuanmu"
"Dasar pemaksa"
Dan bian hanya tersenyum menanggapi dita, Sangat menggemaskan baginya, melihat dita jengkel seperti itu.
Bian dan dita sudah sampai di restoran cepat saji yang tidak jauh dari kantornya
"Kenapa kita kesini" tanya dita
"Aku pengen ice cream disini, dulu kamu suka bangat ice cream, ayo masuk" dita mengikuti saja langkah bian
Dan bian memesan 2 ice cream vanila dan 2 air mineral, karena dulu dita sangat menyukai ice cream vanila, sementara bian mengantri, dita memilih kursi yang berada di area luar,
Tidak lama, bian datang dengan membawa ice creamnya
"Ini, masih suka ice cream vanilakan" bian memberikan ice cream pada dita
"Mungkin"
"Kenapa mungkin"
"Sudah lama aku tidak memakannya" dita berbicara datar menatap ice cream tersebut
"Kenapa bisa, padahal ini favorit mu, aku ingat betul , dulu kamu sering memintaku untuk membeli ice cream vanila"
"Banyak hal yang berubah, Ice cream vanila mengingatkan aku pada sosok bian, 10 terakhir ini, aku selalu menghindari hal apapun yang mengingatkan aku padanya"
.
__ADS_1
.
.