
Danau yang sering kali dikunjungi oleh Aretha bersama dengan Azka, tidak berubah sedikitpun. Masih saja asri, masih saja sejuk dan masih saja bersih. Yang berbeda hanyalah, kedatangan Aretha seorang diri ke danau tersebut. Tidak ada lagi azka yang menemani, tentunya tidak akan ada lagi.
Mata Aretha menatap fokus kearah danau yang memantulkan bayangan bulan, padahal tadi dia berangkat dari Restoran menjelang maghrib, siapa yang menduga jika dia akan sampai tepat setelah adzan isya berkumandang. Tadi, setelah musyawarah selesai, Aretha memutuskan untuk pergi ke danau ini dengan menggunakan angkutan umum. Karena menggunakan angkutan umum, jadinya dia harus berjalan kaki beberapa meter setelah dia turun dari angkot.
Keputusannya untuk pergi kedanau ini, setelah perdebatannya dengan orang tua kandungnya terjadi. Setelah musyawarah selesai, setelah keputudan Aretha disetujui oleh semua orang yang berada di ruangan itu, bunda dan om Radi memintanya untuk mengobrol bertiga bersama Aretha. Awalnya Aretha menolak, namun ucapan Abi membuat Aretha mau tidak mau menganggukkan kepalanya. "Bicaralah dengan orang tua kamu, ada yang perlu kamu ketahui dari mereka. Kalian harus menyelesaikan masalah yang membuat hubungan kalian merenggang" titah Abi, sebelum akhirnya semua orang beranjak pergi meningglkan Aretha bersama bunda dan om Radi.
"Kita bicara sambil makan yah?" Pinta bunda.
Dengan sangat terpaksa, Aretha menganggukkan kepalanya seraya berjalan kembali kearah meja kemudian mendudukkan dirinya pada kursi yang disediakan.
"Apa yang mau kalian bicarakan?"tanya Aretha to the point.
"Kita makan dulu, gak baik makan sambil mengobrol" ujar Om Radi.
Tentu saja ucapan om Radi membuat Aretha memberenggut kesal, namun akhirnya dia tetap melakukan apa yang dikatakan oleh ayahnya itu. Dia pun dengan perlahan menyantap makanan yang telah dihidangkan di meja.
Setelah 30 menit berlalu, akhirnya om Radi juga bunda menatap Aretha lekat. Kedua orang tua itu, beberapa kali menghembuskan napasnya dalam-dalam. Sebelum akhirnya om Radi menyahut.
__ADS_1
"Nak, ikut lah dengan kami. Ijinkan kami untuk menjadi orang tua kamu" pintanya.
"Bukankah kita sudah mendiskusikannya tadi? Bukankah kalian juga telah setuju?" Aretha tentu saja tidak suka mendengar permintaan dari ayah kandungnya itu. Padahal tadi semuanya telah sepakat, bahkan kedua orang itu menyetujuinya. Tapi kenapa sekarang dia justru meminta Aretha untuk ikut bersama mereka?
"Iya, kami telah setuju. Kami pun ingin yang terbaik bagi kamu. Tapi ayah mohon, berikan kami kesempatan untuk memperbaiki semua yang telah terjadi"
"Iya nak, ijinkan kami untuk memperbaiki semuanya"
Aretha mendesis tidak suka mendengar ucapan kedua orang dihadapan, memperbaiki? Yang benar saja.
"Kalian pasti sudah tahu, jika kalian tidak bisa memperbaiki segalanya. Kalian tidak bisa menghidupkan kembali tante Lia dan juga bayi yang ada dikandungannya. Kalian pun tidak akan bisa membuat Azka hidup lagi, kalian tidak bisa mengembalikan kenangan masa kecil aku dan kak Rama. Yang mana yang ingin kalian perbaiki?" Tanya Aretha emosi.
"Iya, bunda dan ayahmu ini tidak mampu memperbaiki segala hal yang telah terjadi. Tapi kami ingin mencoba mengubah masa depan kami dan juga masa depan kamu nak" ujar bunda seraya hendak menggenggam tangan Aretha.
Dengan kasar, Aretha menepis genggaman bundanya, dia menatap kedua orang tua kandungnya kecewa. " jangan mengaku sebagai bunda dan ayah aku, jika kalian belum bisa mencintai kak Rama dan juga Azka!! Hanya karena aku lahir dari orang yang kalian cintai, hanya karena aku anak dari kalian. Bukan berarti kalian boleh membenci anak yang lain! Bukan berarti kalian bisa tidak mengakui Azka dan juga kak Rama sebagai anak kalian!!" Secara perlahan, air matanya jatuh membasahi kedua pipinya. Sorot matanya, tidak mampu berbohong jika dia benar-benar kecewa dengan orang tua kandungnya.
"Kalian harus tahu, kalian harus tahu jika cinta yang kalian miliki, tidak bisa menjadi pembenar atas segala hal yang telah kalian lakukan. Kalian harusnya mengakhiri dulu hubungan kalian dengan orang yang saat itu menikah dengan kalian! Bukan malah berselingkuh dan melakukan dosa Zina"
__ADS_1
Ada satu kalimat yang pernah Aretha baca, katanya tidak bisa disebut berselingkuh, jika belum menikah. Menurut Aretha, itu hanyalah alasan yang mereka keluarkan untuk menjadi pembenaran atas kesalahan mereka. Baginya, entah itu berpacaran ataupun menikah, jika kita mengkhianati orang yang saat itu sedang menjalin hubungan bersama kita, dengan cara berpacaran lagi bersama wanita lain. Itu tetap berselingkuh, mau mereka telah menikah ataupun sedang berpacaran.
Jika memang alasannya untuk mencari yang terbaik, untuk mencari ibu atau ayah yang terbaik untuk anak kita nantinya. Seharusnya tidak melakukan komitmen dengan satu wanita. Penjajakan yah penjajakan, tapi tidak dengan cara menyakiti wanita lainnya, dengan dalih mencari yang terbaik.
Jika dia tidak bisa menjaga janjinya sendiri kepada pasangannya, jika dia tidak mampu menjaga komitmen yang telah diikrarkan, jika dia tidak mampu menjaga kehormatannya bersama dengan kekasihnya. Lalu bagaimana dia bisa menjaga janjinya bersama dengan Allah?
Tidak ada bantahan apapun yang diutarakan oleh kedua orang tua kandungnya, mereka sama-sama terdiam dengan kepala yang menunduk. Setelahnya, bunda menatap Aretha lekat "maaf nak, maaf karena telah melukai kalian sedalam ini. Kini, semuanya menjadi pilihan kamu, kamu benar. Kita sudah sejahat itu, bagaimana mungkin kami masih berani mengharapkan cinta dari mu" ujarnya sebelum akhirnya beranjak pergi setelah mengusap punggung Aretha pelan.
"Ayah menyesal nak, ayah menyesali segalanya. Azka dan kamu sama, kalian anak yang sangat ayah sayangi. Ayahpun merasa sangat sedih dengan kematian Lia dan juga Azka. Tidak hanya kamu yang merasa bersalah, ayahpun merasa bersalah dan menyesal karena tidak sempat meminta maaf pada mereka. Maaf nak, maaf karena kami telah egois. Kapan pun kamu rindu rumah, pintu rumah kami di Tangerang akan selalu terbuka untuk kamu" ujar Om Radi sebelum beranjak pergi mengikuti istrinya.
Setelahnya, Aretha hanya mampu menangisi segalanya, bahkan kakinya tidak mampu lagi menopang tubuhnya sendiri. Dengan tangan yang menutupi kedua wajahnya, Aretha menangis tersedu-sedu. Entahlah, dia sendiri tidak tahu apa yang telah dia lakukan barusan. Dia bingung sangat bingung.
Suara dering ponsel menyadarkan Aretha dari lamunannya. Nama Bella tertera disana.
"ada apa Bel?" tanya Aretha setelah mengangkat panggilan telpon itu.
"kamu dimana? Tadi kak Rama hubungin aku, katanya kamu gak bisa dihungin" jawab Bella.
__ADS_1
"aku capek Bel, aku gak tahu harus gimana lagi" ujar Aretha Parau.
"kamu dimana? Jangan lakuin apapun. Aku akan datang kesana" ujar Bella khawatir.