Titik Temu

Titik Temu
hiduplah dengan bahagia


__ADS_3

Om Radi yang Aretha kenal adalah orang yang cukup tegas, tapi baik. Orang yang akan dengan sangat sabar mengajari Azka menaiki sepeda. Orang yang setiap paginya Aretha kecil sapa, karena beliau yang selalu membersihkan halaman rumah. Namun sepertinya, Aretha harus belajar lagi perihal sosok Om Radi, karena om Radi yang berada dihadapannya saat ini, bukanlah om Radi yang Aretha kecil kenali dulu.


"Pembicaraan ini kita lakukan, untuk menemukan solusi dari permasalahan Aretha. Jika kalian tidak bisa sama-sama mengatur emosi. Maka kita akhiri saja pembicaraan ini, dan membiarkan Aretha menentukan jalan hidupnya sendiri" Abi yang saat itu sedang duduk pun, akhirnya berdiri saking keosnya perdebatan antara Opa dan Om Radi.


"Tolong, tenanglah. Kita semua ingin yang terbaik bagi Aretha, jadi tolong turunkan ego kalian" ujar ayah memohon dengan sangat.


Setelah mendengar ucapan Abi serta Ayah, akhirnya Opa dan Om Radi kembali mendudukkan diri. Mencoba menetralkan kembali emosi mereka yang sebelumnya hampir meledak.


"Baiklah, mari kita lanjutkan. Karena kita telah mendengar penjelasan dari Oma dan Opa, sekarang mari kita dengarkan penjelasan dari nak Rama" ujar Abi seraya menunjuk kak Rama


Kak Rama menegakkan tubuhnya seraya menatap setiap orang satu persatu "saya sadar, dimasa lalu saya telah melakukan kesalahan yang sangat besar. Sebagai seorang kakak, seharusnya saya menjaga dia dan berada disampingnya. Penyesalan memang selalu berada diakhir cerita, sekarang saya menyesali segala tindakan saya dimasa lalu dan ingin menebus segala kesalahan saya. Walaupun saya tahu, masa lalu tidak dapat dirubah, tapi saya ingin menciptakan kenangan manis dimasa depan Aretha. Maafin kakak dek" kak Rama menatap Aretha penuh penyesalan, setelahnya dia pun memeluk adiknya itu erat.


Dengan senang hati, Aretha membalas pelukan kak Rama. Merasa bersyukur karena memiliki seorang kakak sebaik kak Rama. Walaupun masa lalu memang tidak dapat dirubah, seperti kata kak Rama, kita bisa menciptakan kenangan indah dimasa mendatang. Masa lalu kelam, bukan berarti masa depan kita pun akan ikut kelam.

__ADS_1


"Sekarang, mari kita dengarkan pernyataan dari Bani" ujar Abi setelah Aretha dan Rama melepaskan pelukannya.


Ayah Bani menunduk beberapa saat, sebelum akhirnya menatap Aretha lekat "nak, maaf untuk segala kesalahan ayah dimasa lalu. Maaf karena tidak menyadari segala tindakan kejam ibu tirimu. Maaf juga karena sudah bersikap acuh kepadamu selama ini. Ayah tidak akan menjanjikan apapun, karena ayah sadar jika ayah hanyalah manusia biasa. Yang tidak tahu masa depan akan berjalan seperti apa, ayah juga tidak yakin akan tahu sikap ayah di masa depan seperti apa. Karena itu, kamu bebas memilih hidupmu sendiri nak, pilihlah sesuai keinginanmu. Ayah akan selalu berada disampingmu, dan mendukung segala jalan hidup kamu. Pintu rumah ayah di Jogja akan selalu terbuka untuk kamu. Kapanpun kamu rindu rumah, datanglah dan temui ayah"


Terharu? Tentu saja. Bahkan mimpi untuk melihat ayahnya bersikap seperti saat dia masih anak-anak saja, telah lama hilang. Selama ini, Aretha bahkan tidak pernah bermimpi untuk disayangi kembali oleh ayahnya itu. Bahkan gadis itu tidak pernah membayangkan, akan ada hari dimana ayahnya kembali datang dan memberikannya pelukkan yang hangat.


Rengkuhan ayah benar-benar membuat Aretha luluh lantak, kini tidak ada yang dia harapkan lagi selain kebahagiaan bagi orang-orang terkasih. Mungkin, inilah saatnya Aretha melupakan segalanya dan berdamai dengan keadaan. Karena, jika bukan dia yang memulai, lalu siapa lagi?


"Nak, Aretha. Seperti yang kamu tahu, mereka berdua adalah orang tua kamu yang sesungguhnya. Abi meminta mereka untuk hadir disini, karena mereka pun memiliki hak yang sama untuk merawat kamu. Karena itu, mohon berikan keleluasan hati, untuk mendengarkan segala penjelasan mereka" ujar Abi seraya menatap Aretha lekat.


"Iya nak, ikutlah dengan kami. Mari kita ciptakan keluarga bahagia bersama ayah, bunda dan adik kamu" ujar om Radi.


Secara perlahan, Aretha menghembuskan napasnya dalam-dalam. Beberapa kali dia menundukkan kepalanya, tidak mampu untuk menatap kedua orang yang berstatus sebagai orang tua kandungnya itu. Beberapa kali dia meyakinkan dirinya sendiri, jika apa yang dia pilih setelahnya, merupakan jalan terbaik bagi kelangsungan hidupnya.

__ADS_1


Satu persatu dia menatap wajah orang-orang yang berada diruangan itu. Secara perlahan, dia melepaskan genggaman tangan bunda, kemudian menegakkan tubuhnya. "Jujur saja, Are sangat berterima kasih atas semua cinta yang telah kalian berikan. Terkadang, Are selalu bertanya-tanya, apakah Are pantas mendapatkan cinta sebesar ini? Sedangkan, ada kak Rama dan Azka yang tidak sempat merasakan semua perasaan cinta ini, dari kalian, orang tua kami"


"Bolehkah Are bertanya sesuatu pada om Radi?" Tanya Aretha seraya menatap om Radi penuh harap.


Anggukan kepala pria itupun, membuat Aretha tersenyum sekilas "pernahkah om merasa menyesal meninggalkan tante Lia dan Azka? Pernahkah om merasa sedih atas kematian Azka? Pernahkah om mencoba mencari jenazah Azka?" Tanyanya beruntun.


Namun, keterdiaman om Radi, serta kepala yang ditundukkannya, membuat Aretha tersenyum kecut "om, tidak hanya Are yang membutuhkan kasih sayang ini. Tidak hanya Are yang membutuhkan rumah untuk pulang, tapi kak Rama dan juga Azka, mereka juga sama-sama butuh rumah untuk pulang"


"Sejak beberapa hari terakhir, Are telah memikirkan semuanya. Are akan tetap tinggal disini, dan tidak pergi kemana-mana. Are akan belajar di pesantren Umi dan Abi, dan perihal kuliah, Are ingin menundanya dahulu. Karena, Are ingin belajar dulu ilmu agama dan memperbaiki diri. Kita gak pernah tahu kapan Allah SWT meminta kita untuk pulang bukan?"


"Satu hal yang Are minta, hiduplah dengan bahagia. Dan lanjutkanlah hidup kalian sebagaimana mestinya. Karena walaupun perlahan, Are pun akan terus melanjutkan hidup"


Abi serta Umi tersenyum bangga mendengar segala jawaban serta keputusan Aretha. Tidak pernah mereka bayangkan jika Aretha akan memilih, pilihan yang tidak ada didalam musyawarah ini. Sepertinya, kehilangan Azka telah benar-benar merurabah gadis itu.

__ADS_1


"Baiklah, semoga semua orang disini mampu menerima segala keputusan dari Aretha. Saya harap kalian menghargai segala keputusannya. Seperti permintannya, mari kita lanjutkan hidup kita, dan hiduplah dengan bahagia" ujar Abi


__ADS_2