
Berapa kali pun Aretha mengatakan pada dirinya sendiri jika dia baik-baik saja, jika dia tidak merindukan rumah dan segala kenangan didalamnya. Nyatanya, dia tidak mampu menahan air matanya, tatkala satu suapan sayur sop masakan Umi masuk kedalam mulutnya. Ternyata, dia masih merindukan rumahnya, dia masih berharap keluarganya dapat kembali bersama. Namun, Aretha bisa apa? Dia tidak memiliki kekuasaan apapun untuk mengembalikan rumahnya yang telah runtuh.
Ternyata, satu suapan makanan rumahan, mampu meruntuhkan segala pertahanan yang telah Aretha bangun selama bertahun-tahun. Ternyata dia tidak lebih dari seorang anak yang merindukan rumah dan juga keluarganya. Selemah itu dia ternyata.
"Astagfirullah nak, kenapa? Masakan Umi tidak enak yah?" Umi menatap Aretha dengan pandangan khawatirnya. Beberapa anggota keluarga lain pun, menatap Aretha dengan pandangan khawatirnya.
Dengan segera, Aretha mengusap air matanya. Kemudian menatap kearah Umi dengan disertai senyuman manisnya "enggak Umi, enak banget" ujarnya seraya kembali melanjutkan kegiatan makannnya.
"Makan yang banyak yah?" Dengan pelan, kak Khadijah mengusap punggung Aretha.
"Iya kak" jawab Aretha.
Ibrahim yang berada diujung meja pun, menatap Aretha beberapa saat, sebelum akhirnya menggelengkan kepalanya seraya melanjutkan kegiatan makan. Dia tidak mengenal siapa Aretha, karena nya dia cukup penasaran dengan sosok gadis yang terlihat sangat disayang oleh kakek dan neneknya itu. Yah, menghabiskan waktu bertahun-tahun di tanah Mesir, membuatnya banyak kehilangan informasi terkait keluarga besarnya.
"Kamu menginap disini kan?" Tanya Umi.
Aretha menggelengkan kepalanya, seraya tersenyum sopan pada wanita paruh baya itu. "Enggak Umi, besok Are akan sekolah. Jadi kayaknya gak bisa" tolak Aretha sopan.
"Yah,,,, padahal kakak pengen ngobrol banyak sama kamu" dengan wajah kecewanya, kak Khadijah menatap Aretha. Perempuan itu merasa sangat bahagia dengan kehadiran Aretha, dia pikir Aretha akan menginap beberapa hari di pesantren ini. Tapi ternyata tidak,
"Nanti kalau Are libur yah kak? In Sya Allah Are akan nginap disini"
"Tapi kan, minggu depan kakak akan pulang ke rumah kakak. Susah banget yah buat ketemu sama kamu" ujar kak Khadijah seraya menundukkan kepalanya kecewa. Terlihat perempuan itu meneteskan air matanya.
__ADS_1
Setelah menikah, kak Khadijah memang dibawa oleh suaminya ke rumah keluarganya. Jadi, jarang sekali kak Khadijah berada di Pesantren ini. Hari ini, kebetulan sekali kedatangan Aretha bertepatan dengan jadwal ngajar kak Khadijah.
"Kalau Azka masih ada, kamu pasti akan nginep disini" monolog kak Khadijah, namun masih dapat didengar oleh semua orang yang berada di meja makan.
"Khadijah!" Peringat Umi.
"Tapi emang benar kan, kalau ada Azka, kamu pasti akan nginep disini. Pagi-pagi kalian akan pulang dan berangkat sekolah dari sini"
"Astagfirullah sayang, kamu jangan bicara begitu, istigfar! Maaf yah Aretha, sekarang kak Khadijah sedang hamil muda, jadi mood nya sulit dikontrol. Tolong dimaklum yah?" dengan sangat sopan, suami kak Khadijah meminta maaf kepada Aretha. Sebelum akhirnya kedua pasutri itu beranjak dari duduknya kemudian pergi meninggalkan area dapur.
Fakta jika kak Khadijah sedang mengandung, tentunya membuat Aretha terkejut. Dia baru saja mengetahui fakta tersebut. Selama ini, dirinya terlalu larut dalam kesedihannya, sehingga tidak terlalu memperhatikan kondisi sekitarnya. Abi dan Umi juga tidak pernah sekalipun mengatakan kabar bahagia itu.
"Maaf nak Aretha, setelah hamil, kondisi mood Khadijah selalu naik turun"
"Khadijah hamil setelah berita kematian Azka. Jadi, kami cukup ragu untuk memberitahu kamu. Karena saat itu, kita semua sedang berduka" ujar Abi seakan menjawab rasa penasaran Aretha beberapa menit yang lalu.
"Iya Abi" jawab Aretha.
"Kamu akan pulang naik apa nak?" Tanya Umi.
"Kayaknya naik ojek online Umi" jawab Aretha sopan.
"Astagfirullah ini udah cukup malem nak, takut kamu kenapa-napa. Rama sedang sibuk atau bagaimana? Daripada naik ojek, mending kamu coba telpon kakak kamu itu" ujar Umi khawatir.
__ADS_1
Aretha melirik jam yang bertengger pada tanggannya, pukul 19.00 tertera disana. "Gak papa Umi, Are gak akan kenapa-napa kok. Gak enak juga harus repotin kak Rama" tolak Aretha.
Menurut gadis itu, saat ini tidak terlalu malam untuk pulang menggunakan ojek online. Mengingat, Aretha juga kerap kali pulang malam, dan alhamdulillahnya kondisinya masih baik-baik saja hingga sekarang. Setelah kepergian Azka, Aretha selalu berusaha untuk hidup mandiri, karena dia tidak ingin terlalu merepotkan orang-orang sekitarnya, dia pun tidak ingin terlalu bergantung sama mereka. Karena, mereka akan kembali pergi meninggalkannya. Dulu dia terlalu bergantung pada Azka, sehingga setelah kematian pemuda itu, Aretha benar-benar kehilangan arah, dan sulit menata kehidupannya kembali. Karenanya, dia tidak ingin kejadian itu terulang kembali.
Mengikhlaskan kepergian orang yang kita cintai memang begitu sulit. Namun lebih sulit lagi, beradaptasi dengan keadaan yang tidak ada dia disekitar kita.
Ibrahim beranjak dari duduknya, kemudian menatap kakek dan neneknya bergantian "Ibrahim akan pergi ke kota untuk membeli makanan ternak. Kalau tidak keberatan, dia boleh kok ikut nebeng sama Ibrahim" ujarnya menawarkan diri.
Dengan segera Aretha menggelengkan kepalanya "e-eh, gak usah kak. Makasih atas tawarannya, tapi Are gak mau ngerepotin siapapun".
"Sudah, kamu pulang dengan diantar Ibrahim saja. Abi akan merasa sangat tenang kalau kamu pulang dengan orang yang Abi percayai" perintah Abi seraya menatap Aretha dengan seksama.
"Tapi abi...."
"Udah, turutin Abi mu yah? Umi dan Abi akan merasa tenang kalau kamu pulang dengan Ibrahim" bujuk Umi seraya menggenggam tangan Aretha erat.
"Iya Umi, Abi" ujar Aretha menyerah.
"Tunggu diluar, saya akan keluarin mobil dulu"
Setelah mengatakan perintah itu, cucu Umi dan Abi itupun beranjak pergi meninggalkan dapur. Setelahnya, Umi meminta Aretha untuk membawa satu keresek besar yang berisikan sayuran serta buah-buahan. Walaupun telah menolak dengan sopan, Abi dan Umi memaksa Aretha untuk membawanya. Katanya "kami tidak bisa memberi kamu apapun, walaupun tidak seberapa, tapi tolong terima ini"
Tidak mungkin Aretha bersikeras menolak kebaikan Umi dan Abi, walaupun kedatangannya dengan tangan kosong, namun kepulangannya justru membawa banyak oleh-oleh yang tentunya membuat Aretha segan untuk menerimanya. Gadis itu tidak terbiasa menerima kebaikan orang lain, karena baginya, hukum timbal balik itu berlaku. Jadi, dia belum bisa terbiasa menerima kebaikan yang tidak mengharapkan balasan yang setimpal darinya.
__ADS_1
Setelah bersalaman dengan Umi, juga mengucapkan salam pada keduanya. Aretha pun masuk kedalam mobil yang dikendarai oleh Ibrahim. Namun sebelum itu, dia meminta maaf terlebih dahulu pada Umi serta Abi atas kejadian tidak mengenakan yang telah dia ciptakan ketika makan tadi. Karena, kak Khadijah menolak untuk menemui Aretha. Yah, sepertinya dia memang harus kembali ke pesantren ini secepatnya. Lebih tepatnya, sebelum kak Khadijah pulang.