Titik Temu

Titik Temu
people come and go


__ADS_3

Dibalik pertemuan, pasti ada perpisahan. Seperti lirik lagu Endank soekamti. Datang akan pergi, lewat kan berlalu, ada kan tiada bertemu akan berpisah. Awal kan berakhir, terbit kan tenggelam, pasang akan surut bertemu, akan berpisah. Tidak ada manusia yang siap untuk melepaskan, tidak ada manusia yang rela untuk berpisah. Namun dalam hidup, manusia datang silih berganti, menyisakan pengalaman hidup yang tidak akan pernah terulang kembali. Seberapa keras pun menolak, seberapa eratpun kita memegang ikatan, fase kehidupan tidak akan pernah mampu dicegah. people come and go, seperti itulah dunia ini bekerja.


Belajar tidak hanya harus disekolah, tidak harus dari orang yang berpendidikan tinggi. Adakalanya, bertemu dan berbicang bersama seseorang, membuat kita belajar akan sesuatu hal yang baru. Pertemuan Aretha dan juga Jovan, mengajarkannya tentang arti mengikhlaskan dan juga memperjuangkan. Mengajarkannya perihal rasa suka, yang tidak harus berakhir menjadi sebuah kepemilikan.


Kisah percintaan perbedaan keyakinan, merupakan titik dari sebuah keberanian. Keberanian untuk menyerah pada hal-hal yang sudah enggak bisa kita perjuangkan lagi. Keberanian untuk berhenti, juga melepaskan. Supaya keduanya sama-sama mencari jalannya sendiri. "kalian punya cinta, tapi dunia punya norma. kalian punya keinginan, namun Agama memiliki aturan" ucapan Giandra beberapa hari yang lalu, masih saja membekas dalam benak Aretha. Ucapan lelaki itu terlalu benar hingga membuat Aretha sulit untuk melupakannya.


Walaupun kisahnya dengan Jovan memiliki banyak rintangan juga tantangan, walaupun kisah mereka tidak pernah mendapatkan restu dari kedua keluarga. Namun Aretha tidak menyesal, baginya,,, mencintai Jovan bukanlah sebuah kesalahan. Melainkan sebuah anugerah yang mengajarkannya beberapa pengalaman hidup. Mungkin, disaat nanti mereka telah sama-sama dewasa, kisah percintaan mereka kala dimasa remaja, menjadi kenangan yang tidak akan pernah dilupakan. Pengalaman yang mengajarkan arti dari sebuah pendewasaan diri.


Perjalanan percintaan perbedaan keyakinan mereka, dimulai ketika mereka mengunjungi Pameran. Pernyataan cinta yang tidak pernah Aretha bayangkan akan keluar dari mulut Jovan. Saat dimana cintanya masih menggebu-gebu, saat dimana dia belum tahu jika dirinya dengan Jovan berbeda keyakinan. Aretha pikir, semuanya akan berjalan dengan sangat lancar, selayaknya hubungan percintaan remaja pada umumnya. Namun, kenyataan memaksanya untuk tetap sadar. Jika perbedaan yang ada diantara mereka, tidak akan bisa menjadi jembatan penghubung. Namun justru, danau yang memisahkan mereka. Danau yang hanya bisa disebrangi, dengan cara meninggalkan salah satunya. Yaitu tuhan, atau orang yang dicintai.


"Tempat ini, gak berubah yah Jo?" Dengan seksama, Aretha menatap sekelilingnya, tempat ini, mengingatkannya pada momen yang telah lama terlupakan. Momen dimana, Aretha melihat secercah cahaya dalam cinta bertepuk sebelah tangannya.


"Iya, tidak hanya tempat ini yang tidak berubah, namun kita juga tidak berubah" ujar Jovan, dengan senyuman teduhnya dia menatap Aretha "masih menjadi teman, dan akan tetap menjadi teman" ujar Jovan setelahnya.


Aretha menghembuskan napasnya dalam-dalam, seraya merenggangkan kedua tangannya. "Karena sudah terlanjur kesini, kita nikmatin semua Fasilitas disini yuk? Kita lupain sejenak segala beban yang ada dalam pikiran kita"


Sepulang sekolah, Jovan secara tiba-tiba mengajak Aretha untuk berkunjung ke suatu tempat. Katanya, ada tempat yang ingin dia kunjungi, sebelum mereka sama-sama berpisah. Tentunya Aretha meng-iyakan permintaan pemuda itu, karena dia ingin menyelesaikan apa yang sudah seharusnya dia selesaikan. Dia tidak ingin, ada energi-energi yang tersisa, yang akan menjadi bom waktu dikemudian hari.


Seperti ketika mereka pertama kali datang ke pemeran ini, kali ini mereka memainkan lempar bola. Dengan mengucap basmallah terlebih dahulu, Aretha melempar bola plastik berwarna merah kearah tumpukan botol. Dan,

__ADS_1


Brakk


"yey,,,, berhasil!!" saking bahagianya, Aretha hingga melompat-lompat dari tempatnya berdiri. Kali terakhir dia memainkan permainan ini, dia mengalami kekalahan telak. Yah, kegagalan mengajarkan kita cara untuk bangkit kembali.


"aku hebat banget kan, Jo?" tanya Aretha dengan bangga.


Seutas senyum terbit pada sudut bibir Jovan, "iya, hebat banget" jawabnya seraya menganggukkan kepalanya.


"emmm, karena dulu kamu yang menang dan aku yang pilih hadiah. Kali ini karena aku menang, kamu yang pilih hadiahnya Jo"


Jovan menganggkat salah satu alisnya. Dia menatap Aretha tidak percaya "really?" tanyanya.


"oke"


Setelahnya, lelaki itupun memilih hadiah yang dirasa cocok untuknya. Pandangannya jatuh pada satu boneka yang berada pada gantungan paling atas. Boneka itu, mengingatkannya pada boneka yang menjadi pilihan Aretha dulu. Dengan senyuman yang tidak pernah luntur, dia pun memilih boneka yang sama seperti boneka yang dulu dipilih oleh Aretha, yaitu boneka ice bear.


"ice bear?" tanya gadis itu tidak percaya.


"iya"

__ADS_1


Setelahnya, mereka kembali berkeliling dan memainkan seluruh permainan yang ada di pameran tersebut. Sesekali, mereka tertawa bahagia karena mengalami kekalahan. Adakalanya juga, Aretha memaksa Jovan untuk memainkan permainan yang tidak diinginkan oleh Jovan.


"kita main itu yuk?" ajak Aretha.


"gak usah, aku gak jago ngelukis" tolak Jovan tanpa pikir panjang.


Aretha mengerucutkan bibirnya tidak suka, dengan paksa dia menarik baju Jovan dan membawa lelaki itu kearah lapangan. "kita gambar wajah masing-masing yah?" pinta Aretha setelah mereka sama-sama mendudukkan dirinya.


Tanpa membantah, Jovan menganggukkan kepalanya setuju. Dengan sangat fokus Jovan melukis wajah Aretha, begitupun sebaliknya. Mereka berdua sama-sama hanyut dengan apa yang mereka kerjakan. Lukisan ini, mungkin akan jadi lukisan pertama, sekaligus lukisan terakhir yang mereka gambar. Karena bisa jadi, pertemuan ini menjadi pertemuan terakhir mereka.


Karena setelah bulan terbenam dan matahari kembali terbit, mereka akan kembali pada dunia masing-masing. Mereka akan sibuk melaksanakan ujian-ujian yang selama ini telah mereka persiapkan.


Senyuman bahagia terbit pada sudut bibir keduanya. Setelah dipasangkan figura, mereka akhirnya menukar lukisan masing-masing. Aretha terdiam beberapa saat, memperhatikan lukisan yang dilukis Jovan untuknya.


Gambarnya memang tidak terlalu bagus, namun Aretha dapat melihat kesungguhan lelaki itu dalam membuat karya seni yang saat ini dipegang olehnya. Gadis itu semakin terpaku saat melihat tulisan yang berada disudut kertas.


"senyuman yang cantik dan akan selalu cantik. Ku titipkan dirimu pada semesta, biarlah tuhan menjagamu dimanapun kakimu berpijak. Senyuman manis itu, jangan pernah luntur. Tetaplah bahagia, dan aku pun akan tetap bahagia. Perihal takdir, mari kita serahkan semuanya pada tuhan"


Bertemu bersama Jovan, merupakan titik kebahagiaan yang tidak dapat terkira. Sosoknya terlalu baik, hingga menyisakan banyak kenangan baik. Didalam bianglala yang menampilkan cahaya setiap sudut kota, diatas ketinggian 69 meter, mereka memutuskan untuk sama-sama mengikhlaskan, memutuskan untuk kembali menjadi teman baik. Biangalala menjadi saksi atas kedewasaan mereka, menjadi saksi atas cinta yang berakhir dengan cara yang baik-baik. Perpisahan mereka, mematahkan segala argumen yang mengatakan jika perpisahan hanya akan menorehkan luka. Karena nyatanya, walaupun mereka berpisah, walaupun mereka menyerah atas cinta yang tumbuh didalam hati keduanya. Mereka masih dapat berteman dan berinteraksi seperti biasanya.

__ADS_1


Pameran menjadi titik awal pertemuan mereka. Titik temu yang berhasil menyatukan sebuah perbedaan, walau hanya untuk sesaat. Pameran juga yang menjadi titik akhir hubungannya bersama Jovan, titik akhir yang menjadi pemisah hubungan mereka. Titik akhir dari arti sebuah pendewasaan diri. Titik yang semakin mendekatkan keimanan mereka pada sang pencipta.


__ADS_2