Titik Temu

Titik Temu
abi, umi


__ADS_3

Dengan pelan, Aretha mengetuk pintu rumah abi dan Umi seraya mengucapkan salam. Setelahnya, muncul sesosok laki-laki muda dibalik pintu. "Ada yang bisa dibantu?" Tanyanya.


"Abi dan Uminya ada?" Tanya Aretha sopan.


Kedatangan Aretha ke Pesantren ini, bukanlah kedatangan yang sudah disiapkan. Tanpa mengatakan perihal kedatangannya pada Abi dan Umi, Aretha datang begitu saja. Jadi, dia tidak tahu apakah Abi dan Umi sedang ada atau tidak saat ini.


"Mereka sedang ada di perkebunan. Mau nunggu disini atau ikut menyusul kesana?" Tanya pemuda itu sopan.


"Saya ikut kesana" putus Aretha.


"Baiklah mari ikut saya" ajaknya.


Setelah memastikan pintu rumah Abi dan Umi tertutup rapat, pemuda itupun membimbing Aretha menuju tempat pertanian. Dengan berjalan pelan dibelakang pemuda itu, Aretha menatap sekelilingnya. Ternyata, pesantren ini memiliki tanah yang begitu luas dan bisa dibilang masih sangat asri.


"Itu kolam lele?" Tanya Aretha tatkala matanya melihat beberapa kolam ikan yang terbuat dari peralon besar. Melihatnya dari kejauhan, mengingatkan Aretha pada video you*ube yang ditontonnya semalam. Dimana, dia melihat cara serta proses menernakkan ikan lele.


Pemuda itupun melirik kolam ikan lele sekilas, sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya "iya" jawabnya.


"Wah,,,,, siapa yang nernakkin?" Tanya Aretha penasaran.


"Santri dan beberapa pengurus pesantren" jawab pemuda itu.


"Ohhhh" ujar Aretha seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Pesantren ini luas banget yah? Selain punya pertanian dan perternakan, pesantren ini punya Fasilitas apa lagi?"


Aretha itu, walaupun bukan termasuk orang yang pintar. Tapi dia termasuk orang yang gampang penasaran. Jadi, selama dia masih penasaran dan belum puas dengan jawaban lawan bicaranya, maka dia akan terus menanyakan berbagai pertanyaan. Bahkan beberapa orang akan mudah kesal menanggapi pertanyaan Aretha. Karenanya, hanya Sisil, Bella dan Angel lah yang mampu berteman lama dengannya juga sabar dengan segala pertanyaan yang keluar dari mulut Aretha.

__ADS_1


"Pesantren ini memiliki 5 jenjang pendidikan. Dari Tk, Ibtidaiyyah, Tsanawiyyah, Mu'allimin dan juga sekolah Tahfidz. Untuk Fasilitas sekolah, kami memiliki perpustakaan, kantin, lab, ruang komputer, ruang kesehatan, ruangan asrama dan juga kelas. Dan untuk Fasilitas umum dan juga penunjang pengeluaran serta pemasukan pesantren, kami memiliki kolam untuk menternakkan ikan lele, dan juga pertanian sayuran dan buah-buahan yang berada dibelakang gedung pesantren dan kami juga memiliki mini market yang menyediakan berbagai makanan serta pakaian. Untuk penunjang olah raga para santrinya, kami memiliki lapangan untuk memanah, untuk bermain bola basket dan Volli. Dan kami juga memiliki kolam renang yang tidak hanya bisa digunakan oleh para santri dan staf pengajar, namun juga untuk umum. Dan satu hal yang selalu menjadi kebanggan pesantren kami adalah, kami memiliki lapangan pacu kuda dengan 11 ekor kuda yang terlatih. Dan jika santri memiliki hobi mendaki, kami juga menyediakan berbagai Fasilitas untuk mendaki dan berkemah. Tentunya gunung dibelakang pensantren, selalu menjadi gunung yang dijadikan untuk mendaki"


Dengan wajah penuh takjubnya Aretha mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti, entah berapa uang yang harus dikeluarkan untuk bisa bersekolah di pesantren ini. Mengingat, Fasilitas yang disediakan pun tidak kaleng-kaleng. Padahal saat dia menginjakkan kakinya untuk pertama kali ke pesantren ini, Aretha tidak pernah menduga jika pensatren ini memiliki fasilitas yang sangat lengkap. Bahkan Fasilitasnya jauh lebih lengkap dibandingkan Fasilitas yang ada di sekolah Aretha.


"Wowww. Kalian hebat banget" ujar Aretha takjub serta bertepuk tangan.


"Kami memiliki stafnya sendiri-sendiri untuk menjaga segala Fasilitas yang telah ada"


"Berarti pesantren ini mahl banget yah? Hanya bisa dimasuki oleh orang-orang yang memiliki uang" ujar Aretha.


Pemuda itupun tersenyum sekilas seraya menggelengkan kepalanya "setiap ornag bisa bersekolah disini. Memang ada iuran setiap bulannya, tapi bukan berarti orang yang tidak memiliki uang, tidak bisa belajar di pesantren ini. Kami memiliki berbagai beasiswa untuk santri-santrinya, selain itu kami juga memiliki donatur dan sponsor tetap, jadi... uang iuran dari para santri, tidak menjadi pemasukan umum bagi pesantren kami. Jadi, bagaimana? Tertarik untuk belajar disini?" Dengan senyuman yang tidak pernah luntur, pemuda itu melirik kearah Aretha sekilas. Sebelum akhirnya kembali fokus menatap kearah depan.


"Saya hanya akan menagntar sampai disini. Abi dan Umi ada didepan, silahkan untuk pergi kesana. Saya permisi dulu" setelah mengatakan itu, pemuda itu pun beranjak pergi meninggalkan Aretha begitu saja.


"Terima kasih" ujar Aretha ketika pemuda itu melewatinya.


"Waalaikum sallam"


****


Seumur hidup, Aretha tidak pernah berkebun apalagi menginjakkan kaiknya di kebun. Jadi, jangan heran jika gadis itu tidak memiliki potensi untuk menjadi petani. Dengan telaten, Aretha memetik tomat yang sudah berubah warna menjadi merah.


"Kalau yang ada hijau-hijaunya sedikit, gak papa Umi?" Tanya Aretha ketika mendapati tomat yang sudah berwarna merah, namun masih ada hijau-hijaunya.


"Petik aja" jawab Umi.


Dengan semangat 25, Aretha kembali melanjutkan kegiatannya untuk memetik tomat-tomat yang sudah matang. Ternyata, berkebun tidak seburuk itu. Hanya saja, dia harus kuat dengan sinar matahari yang menyorotinya dari atas.

__ADS_1


"Kamu tahu Umi dan Abi ada disini dari siapa?" Tanya Umi penasaran.


"Gak tahu Umi, tadi pas Are ke rumah Umi. Ada laki-laki yang bukain pintu, katanya Umi dan Abi sedang ada di kebun. Jadi dia anterin Are ke sini" jawab Aretha seraya mengusap peluh yang membasahi pelipisnya.


"Ohhh, pasti si Ibrahim" ujar Abi.


"Oh....Ibrahim toh namanya"


"Dia cucu Umi, ganteng kan?" Tanya Umi narsis.


"Cucu Umi? Kok udah gede. Kak Khadijah kan baru menikah beberapa bulan lalu"


"Huss.. dia cucu Umi dari anak Laki-laki pertama Umi. Khadijah mah, anak bungsu Umi, jadi dia baru menikah"


"Ohhh, ternyata Umi udah tua yah"


"Kok Are gak liat dia pas kak Khadijah nikah?" Tanya Aretha penasaran.


Dengan membawa sayuran yang sudah memenuhi seluruh isi baskom, Abi pun berjalan kearah Aretha seraya mendudukkan dirinya ditempat teduh. "Saat itu dia masih kuliah di Mesir, jadi gak bisa dateng. Sekarang dia sudah menyelesaikan pendidikkannya, jadi mengajar dan tinggal di Pesantren ini" ujar Abi menjelaskan.


"Oh,,,,,,"


"Nanti, kalau kamu sudah lulus dan belajar si pesantren ini, kamu belajar sama dia yah"


"Loh,,, kok gitu abi? Kan Are gak mungkin belajar berdua sama laki-laki yang bukan mahrom Are. Sama kak Khadijah aja yah Abi?"


Tawa renyah Abi dan Umi terdengar begitu nyaring. Setelahnya, dnegan tangan yang megusap air matanya, abi menatap Aretha lekat "Astagfirullah nak, kamu gak akan belajar berdua sama dia. Kamu, akan belajar di kelas yang dia ajarkan" ujar Abi dengan diselingi tawanya.

__ADS_1


"Ohh,,, iya Abi" jawab Aretha seraya menganggukkan kepalanya setuju.


__ADS_2