
"Lantas bagaimana, dengan orang orang yang pernah bersamamu"Bian bertanya tentang cowok yang pernah berpacaran dengan dita
"Kandas gitu aja, sudah banyak bertemu orang orang, jadi untuk menentukan, malah jadi makin susah"
"Iya susah, kalau kamu nyarinya yang kaya aku" Dengan percaya dirinya bian berkata seperti itu, Membuat dita menyunggingkan senyumnya
"Susahlah, harus ke swiss dulu, ga tau alamatnya lagi"
Dan akhirnya mereka pun, sama sama tersenyum dengan candaan sederhana yang keluar dari mulut mereka masing masing
"oh iya, bagaimana kabarnya Rio dan Mei" Dita bertanya pada bian
"Mereka di Bali, rio dan mei menikah, dan jalanin usaha disana, Rio pernah kirim email undangan pernikahannya, tapi karena ada halangan, aku tidak bisa menghadirinya"
"Oh ya, jodoh ga ada yang tau ya"
"Mungkin karena mereka selalu bersama, dan malah ada rasa masing masing"
"Bisa jadi sih"
"Lucu ya, aku yang dihakimi atas kejadian itu, ga taunya mereka malah berjodoh"
"Jalan tuhan memang kadang rumit, tapi indah pada akhirnya"
Setelah menghabiskan ice creamnya, dita menenggak air mineral, karena merasa haus banyak berbincang dengan bian.
Glek
"Nikah yuk"
__ADS_1
Uhuk uhuk
Dita tersedak minumannya, karena syok dengan ajakan bian, yang mengajak menikah dengah sesantai itu, dan bian pun memberikan tisu padanya
"Mau ga?" setelah dita terlihat tenang, bian kembali bertanya
"Mau apa?"
"Nikah"
"Kamu ngajak nikah ,kaya ngajak aku makan ice cream" protes dita
"Kita kan sudah sama sama dewasa, aku pergi kesini juga untuk membawamu ke bandung, mengenalkannya pada orangtua ku"
"Tapi kamu belum mendapatkan persetujuanku"
"Persetujuaanmu sedang aku perjuangkan" Sekejap dita terbawa suasana dengan kata kata bian
"Tentu saja"
"Sudah sore, aku harus kembali ke kantor, mobil ku disana"
"Ya sudah ayo"
Dan mereka pun meninggalkan tempat itu, Bian membukakan pintu mobil untuk dita, perlakuan manis yang belum pernah bian lakukan, pada wanita manapun
Di dalam mobil, dita belum memakai sabuk pengamannya, bian mendekat kearahnya sedikit membungkuk seperti orang yang akan mencium, dan reflek dita memejamkan matanya
"Kenapa merem gitu" Bian berkata sambil tangannya memasangkan sabuk pengamannya
__ADS_1
"Ah engga, kelilipan" gugup dita
"Kamu mau mengulang, yang tempo hari di apartemenmu" dengan sedikit senyuman, bian sengaja menggoda dita
"Jalan bi" Malu sekali dita saat ini, dia paham apa yang di bicarakan bian
Dengan sedikit senyum menggoda, bian menjalankan mobilnya
"kenapa lu merem sih dit, bodoh bodoh " Dita merutuki dirinya dalam hati
"loh kenapa ke jalan ini" Dita sadar jika itu jalan langsung ke apartemennya, bukan ke arah kantornya
"Mobil mu aman disana"jawab bian
"Tapi besok aku kerja gimana berangkatnya bian"
"Berangkat bareng aku lah" Bian sengaja melakukan itu, agar bisa berangkat bersama, karena besok juga pemotretan akan berlangsung
"Tapi pemotretan itu jam 10, Sedangkan aku jam 8 sudah berangkat"
"Tidak masalah, aku bisa menunggu di ruanganmu"
"Terserah kamu saja lah" dan akhirnya dita mengalah saja
Mereka sudah sampai di parkiran apartemennya, saat dita hendak membuka pintu mobilnya, bian menarik lengannya. membuat dita terhenti
"Apa lagi?" tanya dita
"Kamu mau mengulangnya lagi?" bian sengaja tersenyum menggoda, membuat pipi dita merah merona
__ADS_1
"Lepas" Dita menghempaskan tangan bian, dan langsung keluar dari mobilnya, dia tidak habis pikir dengan bian, kenapa si kulkas itu jadi berubah.