Titik Temu

Titik Temu
hiduplah bahagia


__ADS_3

Pada dasarnya, manusia baik dan manusia jahat, tersebar begitu banyak di muka bumi yang luas ini. Hanya karena satu makhluk berasal dari lingkungan yang buruk, bukan berarti makhluk itupun akan sama buruknya. Setiap manusia memiliki hak dan juga kesempatan yang sama untuk menjadi manusia yang baik. Sekalipun dia lahir dari lingkungan yang benar-benar buruk.


"Ayah denger dari Rama, kemarin kamu dateng ke Pesantren? Giman? Seru?" Tanya ayah.


Saat ini, Ayah, kak Rama dan juga Aretha sedang melaksanakan ritual makan pagi bersama. Tentunya dengan makanan yang dibuat khusus oleh Aretha, berbekal pengalamannya belajar dari Azka dulu. Entah Aretha harus merasa bersyukur atau merasa sangat sedih. Karena segala hal yang dilakukannya, selalu saja mengingatkannya pada sosok Azka.


"Iya, seru banget Yah. Are baru tahu kalau pesantren milik Abi dan Umi sangat luas. Fasilitasnya juga lengkap banget" jawab Aretha antusias.


"Ada yang bikin kamu tertarik?" Tanya Ayah seraya menatap Aretha penasaran.


Untuk sejenak Aretha memikirkan jawaban atas pertanyaan Ayah. Karena walaupun dia telah berkunjung ke sana. Aretha tidak pernah mengunjungi segala Fasilitas yang ada di Pesantren itu. Dia hanya pernah ke rumah Abi dan Umi juga membantu mereka di kebun. Hanya itu.


"Emm,,, sebenarnya, Are juga belum mengelilingi seluruh area Pesantren. Tpi katanya, disana ada tempat pacu kuda dan juga kuda-kudanya. Are pengen banget belajar berkuda" jawab gadis itu dengan antusias.


"Ada area pacu kuda?" Tanya Kak Rama terkejut.


"Katanya sih ada, tapi Are belum ngeliat secara langsung sih"


"Wah... mewah banget yah" ujar Kak Rama Takjub, Aretha pun menganggukkan kepalanya mengiyakan. Menyetujui apa yang baru saja dikatakan oleh kakaknya itu.


"Jadi, kamu serius mau belajar disana?"

__ADS_1


Aretha melirik ayah yang saat ini sedang menatapnya dengan seksama. Kemudian menganggukkan kepalanya yakin "iya ayah" jawabnya tegas.


Dengan senyuman bangganya, ayah Bani mengusap kepala Aretha yang dibaluti jilbab "hari ini, ayah yang antar kamu ke sekolah yah?" Pintanya.


"Ayah gak kerja?"


"Kerja, setelah nganterin kamu, ayah akan berangkat ke tempat kerja"


"Emangnya gak ngerepotin?" Tanya gadis itu tidak enak.


Terdengar suara tawa dari sang ayah juga kakaknya itu. Bahkan kak Rama mencubit pipi Aretha saking gemas "enggak, gak ngerepotin" jawab Ayah disertai tawanya.


Setelahnya, mereka kembali melanjutkan kegiatan makan dengan disertai beberapa canda tawa. Suasana makan yang telah mereka rindukan sejak lama. Tidak bohong jika mereka sama-sama merindukan kebersamaan ini, kebersamaan yang mungkin akan sulit terjadi lagi di masa depan. Karena, mereka akan kembali pada orang-orang tersayang, yang saat ini sedang menunggu kepulangan mereka.


"Sekolah yang bener, jangan pacaran mulu" nasihat ayah setelah Aretha turun dari motor.


"Ayah apaan sih, Are gak pernah pacaran. Gak punya pacar juga" ujar Aretha kesal.


"Tapi itu pacar kamu sudah nunguin disana" ujar sang ayah seraya menunjuk seorang laki-laki yang sedang berdiri di depan gerbang sekolah.


Aretha mengikuti arah yang ditunjuk sang ayah. Terlihat Jovan yang sedang berdiri di depan gerbang, seraya melihat kearah mereka "ayah mah...." dengan manjanya Aretha menatap ayahnya itu. Bahkan kini bibirnya telah mengerucut sempurna.

__ADS_1


Dengan gemas, ayah Bani mengusap surai kepala Aretha disertai senyumannya yang begitu tulus. "Kalau mau pacaran sama dia, pacaran aja. Ayah gak akan ngelarang"


"Ck, anaknya mau hijrah. Ayahnya malah menyokong ke tempat yang salah"


Secara spontan ayah tertawa lepas, bahkan lesung pipi pada pipi kanannya pun terlihat. Pemandangan yang sangat jarang Aretha lihat, selain dulu ketika keluarga mereka masih dalam formasi lengkap. Dengan senyuman manisnya, Aretha pun ikut tersenyum bahagia. Kini, Aretha tidak ingin bersikap egois, dia akan melepaskan ayahnya untuk bahagia bersama dengan wanita yang dicintainya. Sekalipun, wanita itu telah menorehkan trauma yang begitu mendalam bagi hidup Aretha.


"Ayah, hidup bahagia yah..." pinta Aretha seraya memeluk ayahnya itu erat.


Bani terdiam kaku mendapatkan tindakan tiba-tiba dari puterinya itu, sebelum akhirnya dia pun membalas pelukan Aretha tidak kalah erat.


"Pulang yah, temui istri ayah dan buat keluarga yang bahagia dan juga harmonis bersama dengannya" ujar Aretha seraya menatap ayahnya itu lekat.


Bani menggelengkan kepalanya, kemudian kembali memeluk Aretha erat "enggak, ayah sudah pikirkan baik-baik. Ayah akan lepasin dia"


"Enggak yah, jangan! Are ingin ayah hidup bahagia, dulu ayah pernah bilang kan? Kalau dia adalah satu-satunya orang yang mampu membuat ayah bahagia. Jadi, jangan lepasin dia yah. Kembalilah pulang, dia pasti sudah menunggu ayah"


"Apa yang sudah dia lakukan di masa lalu sama kamu, tidak bisa dimaafkan. Selama ini ayah buta nak, keputusan ayah untuk mempertahankan dia merupakan kesalahan besar. Karenanya, ijinkan ayah untuk menebus segala kesalahan ayah, ijinkan ayah untuk buat kamu bahagia"


Aretha menarik napasnya dalam-dalam kemudian melepaskannya seraya melepaskan pelukkannya pada sang ayah, kemudian menggenggam tangan pria paruh baya itu erat "yah,, kebahagiaan Are adalah dengan melihat ayah bahagia. Are tahu, trauma yang dialami di masa lalu memang belum sembuh. Are juga gak yakin akan sanggup bertemu kembali dengan dia, tapi Are ingin ayah bahagia. Are ingin semua orang hidup dengan bahagia. Orang tua kandung Are, kini telah hidup dengan sangat bahagia. Kak Rama pun kini sudah menemukan rumahnya dan hidup bahagia bersama kak Asma. Azka,,,,, dia juga sudah bahagia. Are yakin, kini Azka telah berkumpul kembali bersama dengan tante Lia dan adiknya. Dan untuk ayah, Are ingin ayah pun hidup bahagia. Walaupun sulit, tolong lupain masa lalu yah. Ayo kita mulai hidup baru dan membuat kebahagiaan kita sendiri-sendiri. Ayah pun, pantas untuk memiliki keluarga yang harmonis dan juga bahagia"


Tanpa mengatakan sepatah katapun, ayah Bani kembali memeluk Aretha erat. Air matanya bahkan jatuh membasahi kedua pelupuk matanya. Bibirnya terasa begitu kelu, tidak tahu harus mengatakan apa. "Kamu pun pantas untuk bahagia nak"

__ADS_1


Kalimat itu, keluar begitu saja dari mulut Bani. Tanpa mengatakan apapun, puterinya itu justru semakin memeluknya erat. Rasa bersalah semakin menggerogoti hati Bani. Masa lalu tidak bisa diubah, bahkan Bani tidak mampu mengubah segala hal yang telah terjadi dalam keluarganya. Setiap orang memiliki hak untuk hidup bahagia, jika Aretha memintanya untuk hidup bahagia, maka puterinya itu juga harus hidup bahagia.


Walaupun Aretha menyembunyikannya sedalam mungkin, Bani tahu dan juga sadar jika. Puterinya itu selama ini selalu meminum obat anti depresi dan juga obat tidur. Karenanya, baik Bani maupun Rama, mereka berdua tidak ingin meninggalkan Aretha sendirian. Karena alasan itu jugalah mereka selalu menunda-nunda kepulangan mereka ke Balik Papan dan juga Jogjakarta. Walaupun Aretha mengatakan akan semakin mendekatkan dirinya pada Allah SWT, tidak bohong jika mereka merasa takut. Mereka takut Aretha melakukan sesuatu hal yang dapat merenggut namanya. Karena kondisi mental dari puterinya itu sedang tidak baik-baik saja. Dan setan telah memiliki pengalaman ribuan tahun menggoda manusia untuk melakukan dosa.


__ADS_2