
Derajat paling tinggi dari mencintai adalah mengikhlaskan orang yang sangat kita cintai pergi untuk selama-lamanya. Mengikhlaskan dan tidak meratapi kepergiannya. Mempercayai jika semua yang terjadi merupakan takdir terbaik yang telah dituliskan oleh Allah SWT.
Dengan satu piring pisang goreng, juga satu piring gorengan tempe dan tahu. Aretha, Oma dan juga kak Asma-calon istri kak Rama, duduk selonjoran diatas gazebo. Mengobrolkan berbagai hal yang telah terjadi, juga membicarakan perihal masa depan percintaan antara kak Asma dan juga Kak Rama.
"Bagaimana kamu bisa dekat dengan Rama?" Tanya Oma pada kak Asma.
Aretha yang sedang menyesap teh miliknya pun, ikut menatap lekat kearah kak Asma. Dia juga penasaran dengan kisah percintaan kakaknya itu, karena jujur saja, Aretha tidak berani menanyakannya langsung kepada kak Rama.
"Saya dan Rama bertemu ditempat kerja, dia rekan kerja yang sangat kompeten dan mampu diandalkan. Jadi saya yang saat itu masih menjadi karyawan baru, beberapa kali meminta tolong dan meminta pendapat darinya yang seorang senior teladan. Ternyata kami memiliki beberapa kecocokan, karena kami memiliki beberapa hobi yang sama. Tanpa diduga, hubungan kami menjadi sangat dekat. Satu tahun setelah kedekatan kami, akhirnya Rama menyatakan keseriusannya. Tentu saja saya tidak menolak niatan baik itu, karena saya juga suka sama dia. Dan saya juga tidak ingin menunda-nunda niatan baik itu"
"MaasyaAllah" ujar Aretha kagum.
"Semangat, perjuangan kalian masih sangat panjang. Jangan lupa untuk senantiasa berdiskusi ketika ada masalah ataupun ketidak cocokan. Semoga niatan baik kalian berjalan lancar. Jangan ragu untuk bertanya ataupun meminta tolong pada kami, para orang tua" nasihat Oma seraya mengusap punggung kak Asma pelan.
Kak Asma menganggukkan kepalanya mengiyakan "iya Oma. In Sya Allah" ujarnya.
__ADS_1
"Kalian sudah membicarakan akan tinggal dimana setelah menikah?" Tanya Oma seraya memakan pisang goreng dengan bumbu cokelat.
Asma melirik Aretha sekilas, sebelum akhirnya kembali menatap kearah Oma "saya sih inginnya tetep tinggal di Balik Papan. Mengingat kami bekerja disana, dan keluarga saya juga ada disana. Tapi semua saya kembalikan lagi pada Rama, dimana pun nanti dia ingin menetap, saya akan ikut" ujarnya.
"Sekalipun harus meninggalkan karir kamu?"
Asma tersenyum hangat mendengar pertanyaan Oma, sebelum akhirnya dia menyesap kopi hitam miliknya "ketika saya memutuskan untuk menikah, saya telah menyerahkan segala kehidupan saya, kepada dia yang saya pilih sebagai suami. Sekalipun saya harus meninggalkan karir yang sudah saya rintis, saya siap. Walaupun begitu, saya berharap Rama masih mengijinkan saya untuk bekerja. Karena bekerja sudah menjadi bagian dari hidup saya. Saya sangat mencintai pekerjaan saya saat ini"
Oma menatap Aretha lekat, sebelum akhirnya kembali menatap kak Asma dengan senyuman manisnya "masih banyak yang harus kalian diskusikan. Sebaiknya kalian diskusikam sebelum menikah, supaya tidak menjadi masalah dikemudian hari" nasihatnya.
"Baik, Oma"
"Iya Oma?"
"Setelah lulus nanti, kamu akan melanjutkan pendidikan kamu kemana?" Tanya Oma.
__ADS_1
Aretha menatap langit yang perlahan menjingga, beberapa kali dia menghembuskan napasnya. Pertanyaan ini, semakin sering dia dengar setelah kepergian Azka. Orang-orang terus saja bertanya tentang rencana masa depannya, mereka khawatir jika Aretha kehilangan arah, ataupun salah memilih jalan hidupnya. Tapi, ada satu hal yang mereka lupakan, semua rencana yang telah kita siapkan sematang apapun, tidak akan ada harganya ketika Allah berkata lain.
Setelah kepergian Azka, kini Aretha sadar jika maut tidak ada yang tahu. Jodoh dan maut itu berdekatan. Tidak ada seorang pun yang mampu menghindari takdir dari kematian. Azka itu orang yang perpeksionis dan juga terencana, setiap apapun jalan yang dia pilih, dia pasti telah memikirkannya 10 bahkan 100 kali. Sayangnya, semua rencananya tidak berguna disaat Allah memintanya untuk segera pulang.
Kini, tidak ada yang Aretha inginkan selain hidup sebaik mungkin dan meninggal dalam keadaan husnul khotimah. Sungguh, Aretha ingin mendekatkan dirinya kepada Allah SWT, dan meninggal dalam keadaan beribadah dan berserah diri pada sang Maha Kuasa.
"Are akan belajar di pesantren Oma. Are tidak akan kuliah" jawabnya.
Setelah pembicaraannya dengan ayah tadi pagi, Aretha semakin yakin untuk memperbaiki dirinya, dan mendalami secara mendalam perihal agama islam. Azka bisa meninggalkannya, kak Rama akan meninggalkannya, ayah akan meninggalkannya, Jovan pun suatu saat nanti akan meninggalkannya. Namun, sebanyak apapun orang-orang pergi meninggalkannya, hanya Allah lah yang akan senantiasa berada disamping kita dan menjaga kita. Hanya kepada Allah lah, Aretha mampu berserah diri dan bergantung.
"Apa?" Tanya Oma terkejut. Saking terkejutnya, wanita paruh baya itu sampai memuncratkan air teh yang baru saja diminumnya. "Jangan gila kamu nak, bukankah kamu ingin jadi psikolog? Kenapa kamu berubah pikiran. Pikirin lagi, ini perihal masa depan kamu. Jangan bermain-main" lanjutnya seraya menatap Aretha penuh penekanan.
"Azka sudah mengorbankan banyak hal untuk kamu, apakah ini balasan yang kamu berikan? Menyerah dalam hidup dan mimpi kamu? Jika kamu tidak bisa membalas segala pengorbanan Azka, setidaknya hiduplah sebaik mungkin. Jangan kecewakan kami yang telah percaya sama kamu. Azka saja bisa belajar agama islam sembari sekolah, masa kamu tidak bisa. Oma gak mau tahu, Oma mau kamu lanjutin sekolah kamu. Setidaknya kalau kamu sayang sama Oma, Opa dan Azka" ujar Oma seraya beranjak pergi meninggalkan Aretha berdua bersama dengan kak Asma.
Bukankah dulu, Aretha pernah mengatakan jika keluarganya dan keluarga Azka bukanlah keluarga yang sangat mendalami agama islam? Bisa dibilang, Azka dan Aretha tumbuh tanpa ajaran agama islam, mereka hanya belajar dasar-dasarnya saja. Karenanya, Aretha selalu kagum kepada Azka yang sangat mendalami ilmu islami.
__ADS_1
Oma adalah wanita karier yang sangat sibuk bekerja, beliau adalah wanita yang mementingkan pekerjaannya lebih dari apapun. Sangat wajar jika Oma kecewa dengan apa yang akan Aretha pilih untuk kelangsungan hidupnya. Tidak, Oma bukan orang yang anti agama. Hanya saja, seperti apa yang Oma katakan barusan. Azka saja bisa mendalami agama islam sembari bersekolah, lalu kenapa Aretha tidak bisa? Harusnya bisa bukan?
Tidak ada bantahan yang bisa Aretha lontarkan, karena apa yang dikatan oleh wanita paruh baya itu memang benar adanya. Sudah seharusnya Aretha menyelasaikan apa yang sudah dia mulai, tidak bisa dia menghentikannya begitu saja ditengah jalan. Aretha sangat-sangat menghormati Oma dan Opa, karena mereka adalah orang yang berada disisinya dan mendukungnya, disaat orang-orang pergi meninggalkannya seorang diri. Mungkin, gadis itu perlu memikirkan kembali, jalan seperti apa yang akan dia tempuh untuk kedepannya. Pendapat Oma tidak ada salahnya untuk dipertimbangkan. Benar, Azka telah mengorbankan banyak hal untuk kelangsungan hidup Aretha.