Titik Temu

Titik Temu
bali cincin baru dek?


__ADS_3

Petikan senar gitar terdengar diantara sunyinya malam. Dibawah sinar rembulan yang ditemani bintang-bintang kecil, suara merdu kak Rama terdengar begitu menenangkan. Bagaikan singa yang berani melawan sepinya sebuah kesunyian.


Dengan seksama, Aretha menatap lautan cahaya yang berada diatasnya, kemudian dia mengangkat tangan kanannya seraya menatapnya dalam. Tersemat cincin kecil, berbentuk bintang kecil pada bagian tengah.


"Beli cincin baru dek?" Tanya Kak Rama seraya menatap cincin yang tersemat pada jari manis adik nya itu.


Aretha menggelangkan kepalanya, dengan senyuman manisnya, dia menatap kak Rama sekilas "enggak, Jovan yang ngasih" jawabnya.


Kak Rama seketika menghentikan petikan gitarnya, dengan wajah terkejutnya dia menatap adiknya itu "kamu dan dia pacaran? Bahkan kalian sudah ingin melanjutkan ketahap serius?" Tanyanya lagi.


"Aku gak pernah pacaran sama dia kak"


"Terus dalam rangka apa dia ngasih kamu cincin? Gak mungkin karena kalian milih berpisah kan?"

__ADS_1


Beberapa menit Aretha terdiam, tidak menjawab pertanyaan kakaknya itu. "Jadi beneran?" Tanya Kak Rama ragu.


"Jovan nyerah kak, aku juga nyerah. Tapi,,, kok rasanya ada yang ngeganjal yah kak? Aku ngerasa, ada sesuatu yang membuat aku berat banget buat ikhlasin dia. Sejak awal aku tahu, aku tahu kalau berpisah menjadi solusi yang terbaik dalam hubungan aku dan dia. Karena itu aku tidak pernah ingin melewati garis pembatas, aku tidak ingin memiliki hubungan lebih dari teman sama dia. Tapi kenapa hati Are sakit banget yah kak?"


Kak Rama terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya menyahut "Mungkin cara terbaik untuk move on dari cerita kayak gini adalah dengan cara berhenti yakin, sama apa yang kita kira selalu tepat. Karena bentuk yang tepat, kadang gak baik juga buat kita" kak Rama menaruh gitarnya diatas dipan. Kemudian ikut merebahkan tubuhnya disamping Aretha. Dengan wajah teduhnya, dia menatap bintang-bintang yang masih bersinar dengan begitu terang. Padahal polusi udara begitu tinggi didaerah tempatnya tinggal, sebuah keajaiban bintang masih terlihat jelas di tempatnya berada saat ini.


"Dek, Kadang hal baik dibungkus dengan hal yang menyakitkan. Karena, kita gak bisa menolong orang yang gak mau ditolong, kita gak bisa mempertahankan orang yang sudah seharusnya dilepaskan. Karena perasaan satu-satunya itu, bukan hanya tentang sama-sama, tapi tentang ngelihat dia bahagia. Terlalu banyak menaruh cinta, sama saja dengan terlalu banyak menaruh harapan, yang akan berujung pada kesakitan yang dalam"


Seperti apa yang mamah Jovan katakan, tidak ada orang tua manapun yang rela anaknya berbeda keyakinan dengan orang tuanya. Ayah, kak Rama, Azka, Oma dan Opa, Abi dan Umi, maupun orang tua kandungnya, pasti tidak akan ikhlas anak yang mereka didik serta besarkan sedari kecil, berbeda keyakinan dengan mereka. Karenanya, Aretha tidak pernah mau, Jovan pindah keyakinan hanya karena lelaki itu mencintainya. Karena perihal agama serta keyakinan, tidak bisa dipilih hanya karena orang yang kita cintai menganut agama tersebut. Manusia itu mengecewakan, tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Tidak ada jaminan orang yang kita cintai, akan selamanya baik. Tidak ada jaminan, kita tidak akan merasa bosan padanya. Karena hati manusia, mudah sekali berubah-rubah.


"Cinta membuat sebuah kata tidak mungkin, dapat berubah menjadi mungkin. Namun, mencintai seseorang, tidak harus berakhir menjadi sebuah kepemilikan. Dek, jodoh itu sudah ada yang ngatur, kamu gak perlu takut tentang itu. Yakinilah, segala pilihan yang kalian pilih saat ini, adalah pilihan yang terbaik. Kakak selalu bangga sama kamu dek, kakak bangga karena kamu tidak pernah melewati batas. Secinta apapun kamu sama dia, kamu tidak pernah berusaha melangkah lebih jauh"


Nasihat kak Rama, terasa membersihkan segala keresahan yang selama ini mengotori seluruh isi hati serta pikiran Aretha. Dengan wajah berserinya, dia tersenyum pada kakaknya itu. Merasa sangat bahagia karena, bisa mengobrol sedalam ini bersama dengan kak Rama. Terlalu lama berjauhan, ternyata tidak membuat mereka menjadi canggung ataupun saling menjauh. Disaat semua masalah telah selesai, disaat mereka telah sama-sama mengutarakan isi hati masing-masing. Tihang pembatas yang selama ini berada diantara mereka, kini telah roboh dan menumbuhkan kembali ikatan-ikatan yang selama ini telah putus.

__ADS_1


"seandainya Azka gak ada disampingku saat itu, seandainya dia gak pernah larang aku buat deket-deket sama Jovan. Mungkin akhir ceritanya akan berbeda kak. Mungkin, kisahku dengan Jovan, masih terus berjalan. Aku bersyukur kak, karena Azka sangat over protectif padaku dulu. Seandainya tidak seperti itu, mungkin Aretha yang kakak lihat saat ini, bukanlah Aretha yang sekarang kakak kenal"


Dulu, Aretha selalu merasa sikap Azka begitu keterlaluan. Dia selalu berpikir jika Azka terlalu berlebihan. Namun kini, setekah Azka pergi untuk selamanya. Aretha daoat menyadari jika segala hal yang Azka lakukan padanya, adalah untuk kebaikan Aretha. Seandainya Azka tidak pernah melarangnya ini dan itu, mungkin Aretha akan hidup dengan seenaknya, tanpa memperdulikan apakah yang dilakukannya halal ataukah haram.


Aretha kembali menatap kearah langit, suasana seperti ini, membuatnya mengingat kembali sosok Azka yang telah pergi pada pangkuan tuhan. Jika Azka masih ada, mungkin kini mereka akan mengobrol bertiga hingga dini hari. Kini, tidak hanya merindukan kehadirannya, dan juga sosoknya. Namun Aretha juga merindukan senyuman, serta kata-katanya yang selalu memotivasi. Bahkan sosok Azka yang marah-marah, begitu Aretha rindukan.


"Sebelumnya aku tidak pernah percaya, bahwa bintang selalu berada diangkasa. Tapi kini, setelah Azka pergi begitu jauh. Melihat bintang, menjadi salah satu hal yang aku senangi. Karena aku berharap, ada Azka diantara ribuan bintang itu" dengan wajah sendunya Aretha menatap kearah Kak Rama "Bukankah segalanya terasa lebih baik, jika dia ada disini? Tidak apa-apa meski sedikit merepotkan, asalkan dia tetap ada bersama kita" ujarnya selanjutnya.


"Kamu benar dek, kakak juga selalu merindukan kehadiran Azka. Melepaskan kepergian Azka memang gampang, yang sulit adalah kenangan yang masih tertinggal, padahal dia udah pergi begitu jauh. Namun kerinduan akan sosoknya, semakin lama semakin mendalam"


Tidak ada cara termudah, yang bisa keduanya temukan untuk mengobati kerinduan mereka akan sosok Azka. Hari-harinya terlalu banyak dihabiskan bersama lelaki itu. Hingga, diruas jalan manapun, selalu menyimpan kenangan bersama dengannya.


"dek, kadang kakak suka berpikir jika, mungkin saja alasan tidak dapat ditemukannya jenazah Azka. Karena Azka masih hidup, karena dia selamat dari tragedi mematikan itu. Walaupun terdengar mustahil dan seperti didalam sinetron, kakak selalu berpikir jika semua itu adalah sebuah kemungkinan dan keajaiban yang bisa saja terjadi"

__ADS_1


__ADS_2