
"Kamu kenal dia?" Tanya Aretha pada Jovan. Pertemuannya dengan Jovan terjadi secara tiba-tiba, namun Aretha merasa sangat bersyukur karena Jovan datang dan membantunya.
Jovan yang sedang fokus menyetir mobilnya pun, melirik Aretha sekilas seraya menganggukkan kepalanya "iya, dia dulu anggota Lion Gang" jawabnya.
Aretha menganggukkan kepalanya mengerti, ingatannya kembali berkelana pada kejadian beberapa menit yang lalu. Saat seorang laki-laki asing mendatanginya dan menjelek-jelekkan nama Azka. Saat itu, Aretha tidak kuasa untuk menahan emosinya, namun sebelum dia berhasil memukul pemuda itu. Jovan tiba-tiba datang dan memukul dia dengan tanpa ampun. Aretha sendiri tidak tahu, apa yang akan terjadi pada dirinya seandainya Jovan tidak muncul.
Walaupun Azka sangat jago dalam hal bela diri, namun Aretha justru sebaliknya. Dulu dia terlalu larut dalam kesedihannya, hingga tidak memiliki waktu untuk meningkatkan valuenya sendiri. Hingga ketika dia telah berhasil sembuh dan berdamai dengan keadaan, dia baru menyadari jika semua orang telah berjalan jauh meninggalkannya. Namun Aretha tidak menyesal, walaupun cukup lama dia berjalan di tempat, hal itu jauh lebih baik dibandingkan jika dia tidak pernah mencoba berjalan. Karena jalan finish semua manusia sama, yaitu mendapatkan ridho Allah SWT dan masuk kedalam surganya.
"Apa yang dia katakan gak bener kan? Bahkan dulu Fahrul bilang sebaliknya"
Jovan mengerti kekhawatiran Aretha, dia pun dapat mengerti jika gadis itu tidak mampu mengontrol emosinya. Karena Azka terlalu berharga dan terlalu baik untuk dijelek-jelekkan seperti itu. Sosoknya terlalu Utopia untuk seorang manusia, terlalu sulit untuk menemukan sahabat sebaik dia.
__ADS_1
"Kamu lebih mengenal Azka dibandingkan siapapun Tha. Azka itu baik, itu yang harus kamu inget. Apa yang pernah Fahrul katakan sama kamu, semuanya benar. Dimana manusia hidup, disitu ada yang suka dan ada yang tidak suka. Azka mengusai Lion Gang, disaat-saat terpuruknya, disaat Lion Gang berada dalam titik terendah, disaat perebutan kekuasaan sedang terjadi. Lelaki yang tadi ketemu sama kamu, dia adalah orang yang ingin merebut Lion Gang dari ketua sebelumnya, namun sayangnya dia tidak pernah memiliki peluang untuk menang. Disaat sang ketua mati, disitu anggota harus mencari ketua yang baru. Beberapa orang dicalonkan untuk menjadi ketua, namun justru menjadi titik kehancuran Lion Gang secara internal"
Sebelum melanjutkan ucapannya, Jovan melirik Aretha lamat-lamat "tanpa mengaku sebagai ketua, Azka membereskan semua kekacauan yang terjadi. Memperbaiki Lion Gang, tidak hanya secara fisik, namun juga secara rohani. Hingga akhirnya, semua anggota Lion Gang menunjuk Azka untuk menjadi ketua" Jovan menjelaskan semuanya secara terperinci. Lelaki itu, tidak ingin ada perasaan janggal dihati Aretha perihal Azka. Seperti katanya barusan, Azka itu terlalu baik untuk dijelek-jelekkan.
"Dan dia? Siapa?" Tanya Aretha masih tidak mengerti.
"Dia salah satu orang yang dicalonkan untuk menjadi ketua. Namun seperti yang aku katakan tadi, Azka lah yang akhirnya berhasil menjadi ketua. Selain merehab anggota yang mengonsumsi obat-obatan. Dan membuat anggota Lion Gang mendalami ilmu agama di pesantren. Azka juga mengeluarkan orang-orang yang memberontak saat itu, dan dia salah satu pemberontak yang mengadu domba beberapa anggota"
Ada satu kalimat yang selalu Aretha sukai. Tulislah kebaikan orang lain dengan tinta emas, namun tulislah keburukan orang lain diatas pasir. Seperti apa yang Jovan katakan, manusia itu akan ada yang suka dan akan ada yang benci. Yang paling penting, jangan pernah larut dengan keduanya. Karena ketika kita terlalu larut akan pujian manusia, maka kita akan terbuai dan lupa beristigfar. Kita juga jangan terlalu larut dengan kebencian orang lain, karena ketika kita terlalu larut kedalamnya, kita akan lupa jika banyak orang yang mencintai kita. Karena 1000 kebaikan apapun yang kita lakukan, tidak akan menjadikan kita sebagai malaikat. Namun dengan 1 kesalahan, mampu menjadi alasan untuk menjadikan kita sebagai iblis.
****
__ADS_1
Jika kamu ingin menjadi orang baik, maka hiduplah bersama orang-orang baik, kelilingi dirimu dengan lingkungan yang positif dan memberikan dampak baik kamu kehidupan kamu. Terakhir kali Aretha menginjakkan kakinya di pesantren, yaitu saat dia datang ke pernikahan kak Khadijah bersama dengan Azka. Padahal saat itu, Azka berjanji akan membawa kembali Aretha ke pesantren ini dan belajar bersama. Namun, manusia hanya mampu berencana, Allah lah yang menentukan segala takdir juga hidup hambanya.
Dengan berjalan kaki, Aretha masuk ke area pesantren. Suasana asri menyambut kehadirannya. Beberapa santri berlalu lalang melewatinya, disertai senyuman mereka yang begitu damai. Kakinya melangkah melewati koridor kelas-kelas yang sedang melangsungkan pembelajaran. Sengaja tidak berjalan dipinggir lapangan, supaya dapat memperhatikan suasana kelas yang berada di area pesantren.
Aretha pikir, kelas antara laki-laki dan perempuan akan dipisah, namun ternyata disatukan. Tidak jauh beda dengan sekolahnya, hanya saja, interaksi antara laki-laki dan perempuan sedikit jarang. Bedanya, disekolahnya Aretha bisa duduk dimana saja, mau didepan atau dibelakang, bebas. Dipesantren ini, laki-laki berada di jajaran depan dan perempuan berada di jajaran belakang.
Langkah kaki Aretha terhenti tatkala indra pendengarnya mendengar lantunan ayat suci Al-Qur'an yang dilantunkan dengan begitu merdu. Dengan rasa penasarannya yang begitu tinggi, gadis itupun mengintip kelas tersebut. Terlihat seorang guru muda, sedang memimpin membacakan ayat suci Al-Qur'an, disusul suara murid-murid yang mungkin masih seusia anak Sd. Untuk beberapa saat, Aretha hanyut dalam lantunan ayat suci Al-Qur'an. Bahkan tanpa terasa, air matanya jatuh membasahi kedua pipinya.
Begitu banyak dosa telah Aretha lakukan, entah sudah berapa kali gadis itu melakukan tindakan bunuh diri, bahkan kata ikhlas masih terasa sulit untuk merelakan kepergian Azka. Dia bahkan hampir gila, karena kehilangan kakak laki-lakinya itu. Aretha lupa, dia lupa jika dia dilahirkan di dunia ini, khakikatnya hanya untuk beribadah. Dia terlalu terbuai dengan kolam dunia, hingga melupakan lautan akhirat. Bahkan dia merasa malu dengan dirinya sendiri, terlalu malu mengakui segala masa lalunya yang jelas-jelas jauh dari kata baik.
Namun, dengan masa lalunya yang begitu kelam. Dengan alasan kehadirannya yang begitu hina. Bukan berarti, masa depan serta akhir hayatnya juga kelam. Dengan memperbaiki dirinya saat ini, mungkin dia akan meninggal dalam keadaan husnul khatimah. Tidak ada manusia manapun, yang ingin meninggal dalam keadaan suul khatimah. Sehina apapun Aretha pada dirinya sendiri, bukan berarti dia rela menginjakkan kakinya dalam kelamnya api neraka. Aretha yakin, Allah pasti menyayanginya, karenanya dia tidak pernah mengijinkan Aretha meninggal dengan cara yang tidak baik.
__ADS_1
Ka, jika kepergianmu membuka mataku perihal akhirat. Maka ijinkan aku untuk mengikhlaskanmu. Dimana pun jenazah kamu berada, dimana pun kamu berada saat ini, semoga kamu ditempatkan ditempat terbaiknya. Terima kasih untuk segala kenangan indah yang telah kita lalui bersama, kamu...berhasil. kamu berhasil menjadi kakak yang begitu baik. Terima kasih karena telah mengenalkanku pada Abi dan Umi. Terima kasih karena telah meninggal dalam keadaan baik. Semoga husnul khatimah Ka. Dan semoga kita dapat kembali bertemu di surganya Allah SWT.