Titik Temu

Titik Temu
pulang, rumah, juga mengikhlaskan


__ADS_3

Apakah perpisahan, menjadi jawaban atas semua pertanyaan kita selama ini?


****


"Halo Giandra, ngapain lo duduk di samping cewek gue?"


Kemunculan Jovan yang tiba-tiba, berhasil mengejutkan keempat orang dimeja tersebut. Secara bersamaan, mereka menatap ke arah Jovan yang saat ini sedang menatap Giandra dengan seksama.


"Gak ada aturan gue gak boleh duduk disini kan? Ini tempat umum, siapapun boleh duduk dimana saja" balas Giandra seraya menatap Jovan.


Jovan mengangguk-anggukkan kepalanya setuju, lelaki itu menatap satu persatu orang yang berada di meja tersebut. Dia bergeming cukup lama menatap kearah Aretha, gadis yang beberapa hari terakhir membuatnya kelimpungan setengah mati. Merasa sangat heran karena semakin lama mencintai Aretha, sosoknya semakin cantik dan Jovan dapat menyadari kalau semakin banyak orang yang menyukai gadisnya itu. Tentunya hal itu membuat Jovan merasakan ancaman, semakin banyak orang yang menyukai Aretha, maka semakin banyak peluang bagi dirinya untuk kehilangan gadis tersebut. Karena sejak awal, tidak ada peluang dalam hubungannya bersama Aretha.


Namun, ada sesuatu hal yang mengganjal hati Jovan. Dia terlalu bingung untuk memilih pilihan yang paling tepat dalam menghadapi cintanya. Apakah tuhan? Ataukah cinta?


"Ada urusan apa lo kesini?" Tanya Jovan akhirnya.


Giandra menyunggingkan senyumnya "bukannya gue udah bilang yah tadi? Gue kesini buat ketemu sama pacar" ujarnya.


"Siapa yang lo sebut pacar Gi?" Tanya Jovan mulai tersulut emosi. Bahkan kedua tangannya, kini telah terkepal sempurna.


Giandra beranjak dari duduknya, kemudian berdiri tepat dihadapan Jovan "seharusnya lo tahu posisi lo Jo. Sejak awal kalian berdua gak akan ada harapan" ujarnya seraya memegang kedua bahu Jovan.


Jovan berdecih tidak suka mendengar penuturan temannya itu. Dengan ekspresi jengkelnya, dia mengatakan "ini urusan gue dan dia, lo gak perlu terlalu khawatir Gi, gue bisa ngurusin hubungan kami. Dan gue harap, lo jangan terlalu ikut campur dalam urusan gue dan Aretha" peringatnya.

__ADS_1


Giandra mengangkat kedua tangannya di udara, kemudian menatap Jovan juga Aretha bergantian "kalian punya cinta, tapi dunia punya norma. kalian punya keinginan, namun Agama memiliki aturan" ujarnya sebelum akhirnya melangkah pergi.


Namun sebelum pergi, Giandra sempat membisikkan sesuatu pada Aretha "angkat telpon gue nanti malam, kita bicarain masalah study tour anak-anak Mahardika" pesannya.


Dengan wajah menyebalkannya, Giandra menatap Jovan beberapa saat, kemudian menepuk bahu kanan lelaki itu. Sebelum akhirnya dia pergi begitu saja, tanpa memperdulikan tatapan orang-orang disekelilingnya. Kemunculan Giandra tentu saja membuat kepala Aretha sakit, dia muncul secara tiba-tiba dan menghancurkan segala hal yang ada didalam pikiran dan juga hati Aretha.


Apa yang Giandra katakan memang benar, Aretha akui itu. Namun, bukankah Giandra terlalu ikut campur? Mereka hanya pernah bertemu sekali, yaitu saat mengajar anak-anak Mahardika beberapa hari yang lalu. Hubungan mereka tidak sedekat itu, sehingga tingkah laku Giandra terkesan Freak dan menyebalkan. Dibandingkan menyukai sosoknya, justru tumbuh benih-benih kebencian didalam hati Aretha. Yah,,, semoga saja Giandra bisa kembali waras, sehingga perasaan benci dalam hatinya akan segera sembuh.


"Bisa kita bicara sebentar?" Tanya Jovan seraya menatap Aretha lekat.


Sisil dan juga Bella yang menyadari situasipun, akhirnya beranjak dari duduknya kemudian berpindah tempat duduk, seraya membawa makanan pesanan mereka.


"Bicaranya nyantai aja, dua jam kedepan masih jam bebas" bisik Bella sebelum meninggalkan Aretha juga Jovan.


Lelaki itu akhirnya duduk pada kursi yang berada di hadapan Aretha "kamu udah makan?" Tanyanya.


Aretha menggelengkan kepalanya, disertai mulutnya yang dikerucutkan "belum, makanan aku tadi dimakan sama Giandra" adunya.


Jovan menghembuskan napasnya jengkel, kenapa Giandra selalu mengganggu hari-hari orang lain? Tidak bisakah dia hidup tenang dan damai? Sepertinya Giandra akan mati jika hanya duduk manis.


"Aku pesenin yah? Kamu mau makan apa?"


"Emmm, batagor aja deh"

__ADS_1


Jovan menganggukkan kepalanya mengiyakan, kemudian berdiri dari duduknya dan berjalan kearah stand batagor. Setelah memesan makanan untuknya dan Aretha, Jovan pun kembali berjalan menghampiri tempat Aretha duduk.


"Selama ini Giandra gangguin kamu?" Tanyanya setelah mendudukkan dirinya dihadapan Aretha.


"Enggak, aku juga kaget banget dia tiba-tiba ada disini" jawab Aretha disertai gelengan kepalanya.


"Dia emang Jalangkung, selalu muncul tanpa diundang dan hilang tanpa diusir" ujar Jovan.


Aretha tertawa bahagia mendengar candaan Jovan. Melihat Aretha yang tertawa bahagia, berhasil membuat kedua sudut bibir Jovan terangkat sempurna. "Soal ajakan dia untuk pacaran, kamu mau?" tanya Jovan serius.


Aretha terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya menggelengkan kepalanya "enggak, kamu kan tahu aku sukanya sama siapa" jawabnya.


"Tapi kamu juga tahukan? Kalau suka sama aku, pasti sakit Tha. Kamu pun sadarkan, kalau hubungan kita tidak pernah ada peluang?"


Aretha menarik napasnya dalam-dalam, kemudian menghembuskannya. Dengan senyuman yang sangat cantik, dia menatap Jovan "Kalau sayang sama seseorang, emang banyak sakitnya Jo. Kamu tahu kenapa? Karena kamu udah nempatin diri dia dihati kamu, di tempat yang paling dalam. Yang paling jauh, sampai-sampai kamu enggak sadar kalau dia udah jadi bagian dari diri kamu sendiri"


"Tha, enggak peduli seberapa besar kita suka sama seseorang, kalau dia bukan rumah yang tepat, kalau dia bukan jalan pulang yang benar, pada akhirnya kamu akan kembali mencari jalan pulang yang tepat. Dan andai suatu saat kamu enggak tahu harus ke mana buat bersandar, inget kalau aku akan selalu ada dibelakang pundak kamu. Jadi, kamu boleh egois Tha, kamu boleh menyerah. Kalau kamu ingin pergi, kamu bisa memilih pergi" dengan kepala tertunduk, Jovan mengatakan sesuatu hal yang dirinya sendiri tidak tahu, apakah dia akan sanggup menghadapi konsekuensi atas apa yang baru saja dia ucapkan.


Beberapa menit Aretha terdiam dalam kegamangannya, termanung dengan pemikirannya sendiri. Dia tahu, dia tahu jika pembicaraan ini, pasti akan mereka lewati suatu saat nanti. Namun, gadis itu tidak menduga jika pembicaraan ini, akan terjadi secepat ini. Berapa kali pun mereka mencoba menghindarinya, kenyataan tidak dapat mengubah apapun. Fakta jika mereka berdua berbeda keyakinan, tidak akan pernah berubah kapan pun itu.


Sekuat tenaga Aretha menahan air matanya untuk tidak jatuh, dengan sedikit bergetar, dia menatap Jovan lekat "kamu mau kemana Jo?" Tanyanya. Tidak mungkin Jovan mengatakan semua ini, kecuali ada kejadian yang mengharuskan mereka memutuskan secepat mungkin. Mungkin, alasan Jovan menanyakan semua ini, karena lelaki itu hendak pergi jauh.


Terdengar suara helaan napas Jovan, dengan wajah sayunya dia menatap Aretha. "Aku, belum memutuskannya Tha. Tapi,,, aku takut kamu kecewa"

__ADS_1


Aretha menghirup napasnya dalam-dalam seraya mengeluarkannya. Tawa renyah keluar dari mulutnya " bertualanglah kebelahan bumi manapun. Selama apapun. Sejauh apapun. Tapi jika kita sama-sama belum memiliki rumah, dan menemukan solusi atas perbedaan ini. Maka pulang dan kembalilah hanya padaku. Aku. Tapi jika salah satu dari kita telah memiliki rumahnya, atau kita tidak memiliki solusi atas perbedaan ini. Maka kamu jangan pulang dan kembali. Mari kita sama-sama saling melupakan dan mengikhlaskan"


__ADS_2