Titik Temu

Titik Temu
Memaafkan


__ADS_3

Dokter yang menangani bian , terlihat keluar dari ruangan, Dita dan Albi segera menghampirinya


"Bagaimana keadaannya dokter" tanya dita


"Pasien baik baik saja, hanya keningnya harus di jahit, sekarang sudah bisa di pindah ke ruang rawat inap, Perawat sedang menyiapkan kamar untuk pasien" jelas dokter tersebut


"Tidak ada yang seriuskan lukanya dok?"


"Syukurnya tidak ada, untuk sekarang biarkan dia istirahat, karena pasien juga masih dibawah pengaruh obat bius"


"Baik dokter"


"Kalau begitu, saya permisi"


"Terimakasih dokter" ucap dita dan albi bersamaan


Terlihat beberapa perawat sedang mendorong brankar yang di tempati bian, bian akan di pindahkan keruang rawat kelas vip, sesuai keinginan dita tadi.


Dita dan Albi mengikutinya, sedangkan nayla undur diri, untuk kembali ke kantor, karena masih banyak pekerjaan yang belum selesai, apalagi dita berada disini, jadi banyak pekerjaannya harus dia handle


Sudah berada didalam ruang rawat, dita terus saja menatap sedih ke arah bian yang masih terlelap.


"Dit, ini sudah lewat jam makan siang loh, kita makan dulu yu" Ajak Albi


"Oh iya, kamu saja makan sana, aku belum ingin makan" Tolak dita


"Huft, ya sudah, aku ke kantin sebentar ya, nanti ku bungkuskan makan untukmu" Albi segera berlalu dari sana


Dita mendekat kearah bian, duduk di kursi seraya menggenggam tangan bian, dia terus saja menatap iba ke arah bian, memperhatikan wajah yang selalu dia rindukan, hingga dia tertidur dengan posisi duduk, wajah beralaskan kasur pasien, dan dengan tetap menggenggam tangan bian

__ADS_1


Hampir 10 menit dita tertidur, dan bian mulai terbangun dari tidurnya, dia merasakan ada yang menggenggam tangannya, perlahan dia membuka mata, dan tersenyum melihat dita tertidur lelap disana


Perlahan bian melepaskan tangannya dari genggaman dita, dan beralih menyentuh lembut kepala dita, dan membuat dita terbangun dari tidurnya


Melihat bian sedang menatapnya, dita segera beranjak memeluk erat bian dan menangis dipelukannya


"Loh kenapa nangis" tanya bian


"Kamu jahat bi, kamu ga tau aku sekhawatir apa"


"Kalo dengan terluka, aku bisa dipeluk gini, ga apa aku terluka terus"


"Ish kamu tuh sembarangan ya kalau ngomong"


"Hehehe, terimakasih ya"


"Pelukannya, hehehe"


"ishh, Kalau kamu dingin dan sinis itu sudah biasa, tapi gombal kaya gini, belajar darimana sih kamu"


Bian tersenyum menanggapinya, rasanya senang saat dita khawatir padanya, Ada peluang untuk dia memdapatkan lagi cinta yang selalu dia rindukan


"Tapi serius loh, aku senang kamu khawatir kaya gini, aku senang di perhatikan" ucap bian seraya menggengam tangan dita


"Ya sudah kamu cepat pulih, aku sibuk tau ,banyak kerjaan"


"Siapp bos"


Ceklek

__ADS_1


Pintu ruangan terbuka, terlihat Albi disana, dengan membawa bungkusan berisi makanan untuk dita, Dan reflek dita segera melepaskan genggaman Bian


"Hadehh udah sadar, langsung mesra mesraan" gerutu Albi


"Ah ganggu lo, ngapain sih kesini" sinis Bian


"Yeee, gue bawain makanan buat dita, dari siang belum makan dia


"Eh lo tau al? Sadar akan sindirian albi, bian jadi salah tingkah sendiri, dia merasa tidak enak hati pada albi


"Santai aja kali, ga usah tegang gitu, entar pingsan lagi lo" Seru albi


"Tapi lo ga apa apa kan?"


"Ya sebenarnya sih patah hati gue, tapi ya ga masalah, kalau gue sih banyak yang naksir, kalau lo kan ,dita doang yang mau" ledek albi


"Kurang ajar lo ya"


Dita sendiri jadi tertawa melihat perdebatan Bian dan Albi, baginya hiburan tersendiri melihat mereka berdebat


"Kalian ya, kalo ketemu, selalu aja berdebat"


"Dianya rese sih" jawab Bian


"Engga, biannya aja sentimen" jawab Albi


"Terserah kalian lah, aku mau makan dulu" dita melangkahkan kakinya kearah sofa disana, segera dia nikmati makanan yang tadi di bawakan Albi


Sementara Albi dan bian masih melanjutkan perbincangan mereka, dengan banyak perdebatan disana.

__ADS_1


__ADS_2