
Katanya, ketika kita berbuat kebaikan, kita harus menyembunyikannya bahkan jangan sampai tangan kiri tahu. Aretha sungguh merasa sangat heran, padahal semasa hidup, Azka dikenal dengan sebutan anak nakal dan juga jahat. Namun, saat dia telah tiada, bagaikan air hujan yang berjatuhan membasahi bumi. Segala kebaikan yang telah Azka lakukan semasa hidupnya, menjadi kebaikan yang melekat saat orang-orang menyebut namanya.
Dengan penuh takjub, Aretha menatap bangunan sekolah yang masih dalam proses pembangunan. Setelah proses pembagian makanan selesai, seluruh anggota Lion Gang yang dipimpin oleh Jovan, melanjutkan perjalanan menuju sebuah sekolah yang berada di pinggiran kota. Katanya, mereka ingin melihat progres dari pembangunan sekolah itu.
Sebelum sampai ke sekolah ini, Jovan mengatakan jika sekolah ini dibangun atas dasar rencana dari Azka. Melihat banyaknya anak-anak Mahardika yang menginginkan melanjutkan pendidikannya, membuat Azka mencetuskan ide tersebut. Dengan mewakafkan tanah peninggalan tante Lia, juga dengan bantuan biaya dari seluruh anggota Lion Gang dan juga pesantren, akhirnya sekolah impian anak-anak Mahardika berhasil dibangun.
"Rencananya, yang ngajar di sekolah ini siapa aja Jo?" Tanya Aretha penasaran.
Jovan melirik Aretha sekilas, kemudian kembali menatap bangunan yang mulai berdiri kokoh "siapa pun boleh mengajar disini Tha, kamupun kalau mau, bisa mengajar disini. Sekolah ini, tidak hanya dibangun untuk belajar Formal seperti sekolah pada umumnya. Tapi juga akan mengajarkan berbagai keterampilan yang cocok dengan minat anak-anak. Untuk pelajaran formal, akan diajarkan oleh guru-guru di pesantren Umi dan abi Azka. Tapi untuk keterampilan, anak-anak Lion Gang akan turut serta"
Walaupun Azka yang merencanakan semua kebaikan itu, walaupun semua kehebatan ini dirancang oleh Azka. Entah kenapa Aretha merasa bangga sendiri, karena orang yang telah melakukan semua kebaikan itu adalah orang yang sangat dekat dengannya. Seandainya, seandainya dia mengetahui semua ini sejak lama, seandainya dia lebih berusaha memahami dan mendekatkan dirinya dengan Azka. Sayangnya semua itu hanya angan belaka, jika memang kebaikan ini dirancang oleh Azka, maka Aretha dengan senang hati akan melanjutkan kebaikan kakaknya itu.
"Aku cukup menguasai pelajaran Biologi, boleh ikutan ngajar kan?" Tanya Aretha.
Jovan tersenyum bahagia mendengar pertanyaan Aretha "iya bisa" jawabnya. Melihat Aretha yang bisa kembali tersenyum, melihatnya begitu antusias dengan kegiatan hari ini. Membuat Jovan begitu bahagia, karena akhirnya dia mampu melihat senyuman itu terukir kembali pada wajah cantik gadisnya.
"Ka, seperti janji gue pada lo. Gue akan senantiasa ngejagain Aretha, sekalipun dimasa depan nanti, bukan gue jodoh dia" batin Jovan.
__ADS_1
"Aku juga cukup jago dalam melukis, boleh ikutan ngajar kan? Siapa tahu ada anak-anak yang memiliki mimpi untuk jadi pelukis. Yah,,, walaupun gak sehebat pelukis terkanal diluar sana, tapi aku cukup percaya diri untuk hal lukis-melukis" ujar Bella. Sedari tadi, gadis itu mendengarkan obrolan Aretha dengan Jovan, dan dia pun ikut tertarik untuk mengajar anak-anak Mahardika.
"Boleh, makasih udah mau gabung bareng-bareng kita" jawab Jovan.
"Aku juga cukup mahir dalam merajut, boleh gabung kan?" Tanya Sisil.
Perasaan bahagia memenuhi seluruh hatinya, ka, niatan baik lo tidak pernah gagal. "Iya boleh" jawab Jovan antusias.
Setelah kepergian tante Lia, Azka menerima warisan yang tidak sedikit. Bahkan seperti kata Aretha sebelumnya, dengan hidup bersantai-santai saja, tidak akan membuat Azka menjadi miskin. Walaupun Azka menerima warisan yang tidak sedikit, Oma dan Opa masih senantiasa mengirimkan uang bulanan untuk Azka. Bahkan Om Radi pun masih selalu mengirimkan uang setiap bulannya pada Azka, walaupun selalu berakhir penolakan, tapi om Radi tidak menyerah. Lelaki paruh baya itu, selalu mentransfer uang ataupun mengirmkannya langsung ke rumah Azka. Belum lagi Umi dan Abi, mereka juga selalu mengirimkan uang bulanan untuk Azka.
Dengan semua uang yang mengalir untuknya, Azka tidak menjalani kehidupannya dengan bersantai ataupun berleha-leha, dia fokus mengejar mimpinya untuk menjadi seorang pilot, bahkan dia berhasil mendapatkan beasiswa. Azka juga beberapa kali mengikuti turnamen game online, dia menghasilkan uang yang tidak sedikit dari kemenangannya dalam turnamen itu.
Dengan kebesaran hatinya, ternyata dia banyak menanam kebaikan bagi orang-orang disekitarnya. Memiliki harta yang tidak sedikit, tidak membuat Azka menjadi sombong. Namun justru semakin banyak harta yang dimilikinya, semakin menunduk pula Azka. Dia semakin mendekatkan dirinya pada orang-orang yang membutuhkan, membantu mereka tanpa perlu terlihat oleh orang-orang, tanpa perlu pengakuan dari orang-orang.
***
"Tadi aku ngobrol sama Fahrul" ujar Aretha seraya menatap Jovan lekat.
__ADS_1
Kini, mereka berdua sedang dalam perjalanan untuk pulang kerumah. Terlalu bersemangat bermain dengan anak-anak Mahardika, membuat mereka lupa waktu. Bahkan kini, matahari telah meninggalkan eksistensinya, menyisakan gelapnya malam dengan ditemani terangnya sang rembulan. Mungkin, jika Azka masih hidup. Dia pasti sudah mengomeli Aretha dengan berbagai ceramahnya karena adiknya itu telah melewati jam malam yang telah dditetapkan olehnya. Hah.... ternyata Azka seberpengaruh itu dalam hidupnya, segala hal yang dilakukannya selalu mengingatkannya pada kakaknya itu.
"Oh yah? Kamu kenal dia?" Tanya Jovan, dia melirik Aretha sekilas, kemudian kembali fokus menatap jalanan.
"Dia teman aku dan Azka waktu Sd. Dia cerita banyak hal padaku" jawab Aretha.
"Kalau boleh tahu, kalian bicarain apa aja emang?"
"Segala hal tentang Azka dan Lion Gang"
Jovan melirik Aretha sekilas seraya tersenyum pada gadis itu "lalu, apa ada yang ingin kamu tanyakan padaku?"
"Katanya, Azka merubah Lion Gang yang nakal, jadi lebih baik. Katanya kalian juga dulunya nakal banget, bahkan ada beberapa yang gunain obat-obatan. Kalau boleh tahu, kenapa kalian bisa berubah jadi lebih baik? Padahal tabiat susah sekali dirubah. Tidak mungkin kan, kalian berubah hanya karena Azka meminta kalian berubah?"
Walaupun Fahrul telah mengatakan segalanya, tapi ada beberapa pertanyaan yang berkecambuk dalam pikiran Aretha. Bagaimana mungkin orang yang senakal itu, bisa berubah secepat itu. Mereka yang mungkin telah menerima berbagai cacian dan hinaan, bagaimana mungkin bisa secepat itu berubah, hanya karena Azka melarang dan memperintahkan mereka untuk menjadi lebih baik. Okelah jika memang karena Azka ketuanya, tapi tidak mungkin semudah itu, ada beberapa hal yang tidak bisa dirubah jika orang itu tidak memiliki keinginan untuk berubah.
Rasanya, semuanya terasa seperti Utopia. Segala cerita tentang pencapaian yang telah Azka lakukan, terlalu indah, namun terasa mustahil untuk direalisasikan. Terlalu mustahil untuk merubah orang-orang sebanyak itu, hanya dengan kekuasaan dan perintah. Banyak peluang pemberontakan yang bisa mereka lakukan, tapi kenapa mereka tidak melakukan semua itu?
__ADS_1
"Azka itu, terlalu baik sampai orang-orang segan dan tunduk padanya....."