Titik Temu

Titik Temu
ijin kan ayah untuk menjadi supir pribadi kamu


__ADS_3

"Azka itu, terlalu baik sampai orang-orang segan dan tunduk padanya..... mungkin kamu sudah mendengar tentang bagaimana Azka bisa menjadi pemimpin dari Lion Gang. Tapi, diantara semua orang yang pernah memimpin Lion Gang, hanya Azka yang mampu menjadikan Lion Gang menjadi lebih baik lagi"


"Tapi,,, bagaimana mungkin, orang sehebat kalian, organisasi yang memili pengaruh sebesar itu, dapat tunduk begitu saja pada Azka?" Tanya Aretha semakin penasaran.


Tidak ada yang tidak mengenal Lion Gang, seperti yang dikatakan oleh Fahrul, Lion Gang terkenal sebagai singanya jalanan. Walaupun saat itu Azka merupakan tangan kanan ketua sebskumnya, tapi bagaimana bisa mereka yang memiliki kekuatan sebesar itu, tunduk begitu saja pada Azka.


Jovan melirik Aretha sekilas, kemudian kembali menatap fokus kearah jalanan. "Seperti kataku sebelumnya, Azka itu terlalu baik sampai orang-orang tunduk dan segan padanya. Walaupun semasa kepemimpinanannya, Azka melarang penyebaran alkohol serta obat-obatan terlarang didalam Lion Gang. Tapi semuanya tidak sekejam yang kamu pikirkan Tha, semuanya berjalan dengan terorganisir. Yah, walaupun Azka memberikan perintah itu dengan cukup tegas, tapi Azka tidak pernah memaksa siapapun untuk berubah secepatnya. Dia tidak pernah memaksa anak-anak untuk melakukan rehabilitasi, dia pun tidak pernah memaksa anak-anak Lion Gang untuk berhenti meminum alkohol. Semuanya dilakukan secara bertahap dan tanpa paksaan. Anak-anak yang melakukan rehabilitasi, melakukannya atas dasar keinginan mereka sendiri. Selama seminggu sekali, Azka selalu mengajak anak-anak untuk belajar di pesantren. Katanyanya sih, untuk siraman rohani. Sehingga lambat laun, kami pun mulai berubah kearah yang lebih baik"


Untuk beberapa saat, Jovan menghembuskan napasnya beberapa kali. Ternyata bercerita mengenai Azka, mampu menguras seluruh emosinya. Jovan beberapa kali menengadahkan kepalanya, berusaha mencegah sekuat tenaga supaya air matanya tidak menetes. "Memang dalam prosesnya tidak berjalan semudah itu, banyak dari anak-anak Lion Gang yang menentang keputusan Azka, bahkan beberapa dari mereka memutuskan untuk keluar dan membangun gengnya sendiri. Tapi, salah satu alasan besar kenapa anak-anak Lion Gang bisa tunduk dan patuh pada Azka, karena Azka merangkul mereka disaat mereka terpuruk. Disaat orang-orang membenci mereka, bahkan orang tua mereka pun memilih menyerah terhadap mereka, tapi Azka tidak. Dengan tekadnya, dia terus menyebarkan kebaikan, hingga akhirnya, kebaikannya itu berbuah kebaikan yang lainnya"


Tanpa terasa, air mata Aretha jatuh membasahi kedua pipinya. Gadis itu sangat menyadari jika Azka merupakan orang yang baik. Bahkan lelaki itu masih mau menerima dirinya disaat orang-orang membuangnya, disaat seharusnya Azka pun ikut membencinya. Kini, Aretha sadar, semua kebaikan yang telah Azka lakulan semasa hidupnya, bukanlah kebaikan yang dibuat-buat. Tante Lia telah berhasil membesarkan anak, beliau telah berhasil membesarkan anak yang senantiasa menabur kebaikan di alam dunia.


"Jo, kamu tahu alasan kenapa Azka masuk Lion Gang?"


Jovan menghentikan laju mobilnya karena kini mereka telah sampai di depan gerbang rumah Aretha. Setelahnya, dia menatap Aretha lekat " aku gak tahu banyak hal tentang Azka, tapi ada satu ucapan yang pernah Azka ucapkan padaku. Katanya, ketika kita menjadi manusia yang beragama, maka kita diharuskan untuk mewarnai jaman, bukan diwarnai oleh jaman. Dimana pun kita berpijak, disitu kita harus menanam kebaikan. Karena islam merupakan Rahmatan Lil A'lamin" jawab Jovan.

__ADS_1


"Kebaikan bagi seluruh alam" monolog Aretha.


"Tapi Tha, ada satu hal yang tidak pernah aku mengerti, Azka selalu menghindari perempuan, dia bahkan tidak pernah bersentuhan dengan perempuan manapun. Tapi dengan kamu, dia bahkan tidak segan untuk memeluk kamu, padahal kamu dan dia tidak memiliki hubungan darah. Bukankah hal-hal itu dilarang dalam islam, yah aku sendiri tidak terlalu mengerti tentang islam sih, tapi setahu aku, laki-laki dan perempuan yang bukan Mahram. Maka haram hukumnya untuk bersentuhan walaupun hanya berpegangan tangan"


Dengan senyumannya, Aretha beberapa kali mengangguk-anggukkan kepalanya "karena dia adalah kakakku, dan aku adiknya. Karena itu dia berani memega ataupun memelukku Jo" jawabnya dengan senyuman yang tidak luntur sedikitpun dari wajah cantiknya itu.


"Maksud kamu?"


"Ceritanya sangat panjang Jo, tapi yang pasti, aku dan Azka memiliki hubungan darah. Didalam tubuh kami, mengalir darah yang sama"


Karena Aretha merasa sangat bangga memiliki kakak seperti Azka. Dia bangga karena selama ini selalu dijaga oleh kakaknya itu. Tentunya, Aretha tidak ingin orang-orang salah paham dengan Azka. Dia tidak ingin mencoreng nama baik Azka, dia tidak ingin nama Azka rusak hanya karena Azka berani berhubungan dekat dengan perempuan yang bukan mahram nya.


Walaupun orang-orang akan berpikiran buruk tentangnya, walaupun orang-orang akan ikut membencinya, Aretha tidak peduli. Jika dengan mengatakan segala fakta itu dapat memperbaiki nama serta kehormatan Azka, maka Aretha akan melakukannya dengan senang hati. Karena semua itu tidak sebanding, dibandingkan segala perjuangan yang telah Azka lakukan selama ini.


Karena Azka terlalu baik untuk dijadikan tokoh antagonis.

__ADS_1


****


Entah kapan kali terakhir Aretha merasakan hangatnya rumah, entah kapan kali terakhir dia merasakan masakan ayahnya. Namun kini, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ayah memasakkannya nasi goreng spesial. Nasi goreng yang selalu Aretha rindukan.


Dengan sangat lahap, Aretha memakan masakan yang mustahil dia rasakan jika semua kejadian buruk yang menimpanya tidak pernha terjadi. Memang benar dengan apa yang difirmankan oleh Allah SWT. Boleh jadi, kamu tidak menyukai sesuatu, padahal disitu ada kebaikan untukmu. Memang, pasti ada hikmah disetiap takdir yang Allah tetapkan.


"kamu kesekolah naik apa?" tanya ayah memulai obrolan.


"naik angkot yah" jawab Aretha.


"loh? Temen kamu yang kemarin gak jemput lagi?" tanya Ayah heran, karena beberapa hari terakhir, puterinya itu selalu saja dijemput oleh teman-temannya.


Aretha menggelengkan kepalanya "enggak, aku larang mereka buat jemput. Lagian mereka bukan supir yang akan selalu mengantar jemput, dan lagi aku bisa berangkat sendiri. Aku gak mau terlalu bergantung sama mereka" jawabnya.


Dengan penuh kebanggaan, ayah mengusap kepala Aretha. Tidak disangka puterinya ini telah tumbuh menjadi gadis remaja yang dewasa. Dia terlalu lama pergi, hingga melewatkan momen-momen bahagia serta sedih yang dialami oleh puteri tersayangnya.

__ADS_1


"untuk hari ini, ijin kan ayah untuk mengantar kamu berangkat sekolah. Ijin kan ayah untuk menjadi supir pribadi kamu"


__ADS_2