Titik Temu

Titik Temu
aku suka kamu


__ADS_3

"Terserah dengan cara apa mereka memaksa. Intinya, air baptis tidak akan sama dengan air wudhu. Dan shalom, bukan jawaban dari Assalamu'alaikum"


****


Suasana kantin terasa begitu ramai dibandingkan biasanya. Mungkin karena sekarang sedang jam bebas, jadi banyak siswa yang memilih kantin sebagai tempat untuk beristirahat sejenak, dari banyaknya tugas-tugas sekolah juga jam tambahan yang semakin lama semakin menumpuk. Ternyata seperti ini rasanya menjadi siswa kelas 12, sibuk belajar, les, juga ujian-ujian yang semakin lama semakin dekat. Yah intinya, jadwal tidur mereka semakin sedikit.


"Ya Allah, kenapa hidup ini capek benget?" Keluh Bella seraya menjatuhkan wajahnya pada meja kantin. Dengan ekspresi malasnya, dia menatap kedua sahabatnya yang masih saja belajar, padahal saat ini, mereka sedang berada di kantin. Seharusnya mereka berdua melupakan sejenak tugas-tugas sekolah, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang.


"Kalian gak capek apa? Di kelas belajar, di perpustakaan belajar, di rumah belajar, mau makan pun belajar. Kenapa sih kalian ambis banget?" Tanya Bella seraya menatap kedua sahabatnya itu lekat.


Sisil menghela napasnya, seraya menjatuhkan buku sejarah yang saat ini sedang dia baca "kamu sudah memiliki masa depan yang cerah Bel. Kamu udah keterima di kampus impian kamu. Kamu juga gak perlu khawatir tentang pekerjaan atau apapun itu, karena kamu sudah punya nama. Fans kamu banyak, lukisan kamu juga diakui oleh banyak orang" ujarnya seraya menatap Bella.


"Sedangkan aku? Aku bahkan gak tahu setelah lulus nanti, aku akan kayak gimana. Aku gak tahu apakah aku akan kuliah atau enggak. Hanya ini yang bisa aku lakukan Bel, hanya belajar. Mungkin, kalau nilai aku bagus, aku akan punya kesempatan untuk dapet beasiswa. Aku sadar kok, aku sadar kalau aku gak sepintar Azka, nathan, Jovan, atau pun Angel. Tapi aku gak bisa apa-apa, hanya ini yang bisa aku lakukan,,,, kalau boleh ngeluh, aku juga capek Bel"


Baik Bella maupun Aretha, keduanya sama-sama terdiam seraya menatap Sisil dengan seksama. Selama ini, tidak pernah sekali pun Sisil mengutarakan keluh-kesahnya. Dia, adalah orang yang selalu mendengarkan keluh-kesah sahabat-sahabatnya dan memberikan solusi yang begitu baik. Namun ternyata, dibalik kata-kata penyemangat yang keluar dari mulutnya, tersimpan beribu banyak masalah juga keluh-kesah yang tersimpan didalam kepalanya. Layaknya benang yang sudah kusut, terlalu sulit untuk diluruskan kembali.


Bella yang berada disamping Sisil pun, merangkul bahu sahabatnya itu seraya mengusapnya pelan. "Bukannya setelah lulus nanti, kamu akan menikah Sil?" Tanyanya.

__ADS_1


Sisil terdiam seraya menarik napasnya dalam-dalam. "Aku gak mau nikah Bel, aku tahu, menikah merupakan ibadah. Tapi menurut aku, menikah bukanlah solusi dari masalah aku saat ini. Aku,,, masih ingin menjalani hidupku, selayaknya remaja pada umunya. Aku, masih ingin mengejar mimpi aku. Dan aku takut, aku takut gagal Bel. Aku gagal mengejar mimpi yang telah ku bangun sejak kecil, aku juga takut, gagal menjadi istri untuk suamiku ataupun orang tua untuk anak-anak aku nantinya"


Aretha menggenggam tangan Sisil yang sedikit bergetar. "Sil, kamu berhak memilih takdir mu sendiri. Hidup ini hanya sekali, jangan menyia-nyiakan hidup kamu untuk menjalani kehidupan yang tidak membuat kamu bahagia. Hidup ini hanya sekali Sil, kamu pun berhak untuk menjadi apa yang kamu inginkan" ujarnya memberikan semangat.


"Iya, Aretha benar. Kamu boleh kok untuk egois. Setidaknya, dengan melakukan itu, kamu merasa bahagia dan merasa hidup. Jalani apa yang ingin kamu jalanin Sil" ujar Bella.


"Kadang, aku merasa semesta gak adil. Aku merasa, hanya aku yang hidup menderita di dunia ini. Tapi aku tahu, aku pun tahu kalau setiap manusia, memiliki cobaannya sendiri-sendiri. Setiap kali aku bertemu dengan anak-anak Mahardika, aku selalu merasa malu, karena aku merasa terlalu banyak mengeluh dan menyalahkan takdir yang telah di tuliskan oleh Allah SWT. Padahal, ada banyak orang yang jauh lebih menderita dibandingkan aku"


Air mata membasahi pelupuk mata Sisil. Setiap manusia, pasti merasa jika hidup ini tidak adil. Setiap manusia pun, pasti pernah merasa menderita dan setiap manusia, pasti pernah ingin menyerah dengan hidup yaang saat ini sedang dijalaninya. Karena ada beberapa takdir yang berjalan dengan cara yang tidak kita inginkan. Ada beberapa pemakluman yang harus kita ikhlaskan, ketika kita menjalani hidup. Karena ada banyak hal, yang harus kita gak apa-apain.


"Kadang kala, aku selalu berpikir. Mungkin bukan semestanya yang gak adil, tapi akunya yang terlalu banyak minta" ujar Sisil selanjutnya seraya menundukkan kepalanya dalam-dalam.


"Makasih yah, makasih karena sudah dengerin cerita aku" ujar Sisil seraya menatap kedua sahabatnya.


"It's okei Sil, setiap manusia pasti memiliki ujian hidup masing-masing. It's okei to not be okei Sil"


"Wih,,, apanih? Kalian sedang ngobrolin apa sampai serius gini?"

__ADS_1


Ketiganya terkejut mendapati kemunculan Giandra. Dengan wajah terkejutnya, mereka menatap Giandra yang tanpa dosa menyantap bakso pesanan Aretha.


"Lo itu hantu atau apaan? Tiba-tiba muncul, tiba-tiba ngilang" tanya Bella seraya menatap Giandra kesal.


"Manusia lah, kalau hantu, gue gak akan keliatan sama lo bertiga" jawabnya.


"Ngapain kesini? Kamu kan gak sekolah disini?" Tanya Aretha.


Giandra menghentikan kegiatan makannya, kemudian menatap Aretha lekat "mau nemuin pacar, udah lama nih gue gak ketemu sama dia" jawabnya.


Bella yang mengerti maksud dari tatapan Giandra pada Aretha pun, akhirnya berkata "jangan deketin dia. Kalau lo lupa, dia pacaran sama Jovan" peringatnya.


Giandra mengangkat satu sudut bibirnya, kemudian menatap Bella meremehkan ""Terserah dengan cara apa mereka memaksa. Intinya, air baptis tidak akan sama dengan air wudhu. Dan shalom, bukan jawaban dari Assalamu'alaikum" ujarnya kemudian menatap Aretha dengan senyuman manisnya.


Aretha pun menatap interaksi Bella dan juga Giandra lekat. Awalnya dia cukup terkejut dengan ucapan Bella, namun mendengar jawaban dari Giandra, akhirnya gadis itu mengerti siapa yang sedang dibicarakan oleh keduanya "kamu suka sama aku?" Tanya Aretha to the point.


"Iya, suka" jawab Giandra tanpa berpikir sedetikpun.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Gak perlu alasan untuk mencintai kamu Tha. Aku suka kamu, itu sudah cukup untuk menjadi alasan.


__ADS_2