Titik Temu

Titik Temu
it's okey to not be okey


__ADS_3

Bella datang tepat satu jam setelah Aretha memberitahu keberadaannya. Dengan menggenakan mobil miliknya, dia datang seorang diri dengan wajah penuh kekhawatiran. "Kamu baik-baik saja kan?" Tanyanya setelah turun dari mobil.


"Aku baik-baik aja kok" jawab Aretha.


Dibandingkan memborbardir Aretha dengan berbagai pertanyaan, Bella justru memeluk tubuh Aretha erat "it's okey Tha. It's okey to not be okay. Bersikap seakan baik-baik saja, bukan berarti kamu benar-benar baik-baik saja. Gak papa, Tha. Gak papa kalau kamu mau egois, yang penting kamu bisa bahagia" ujar Bella seraya mengusap punggung Aretha pelan.


Didalam pelukan erat Bella, Aretha kembali menumpahkan air matanya dan kembali menangis tersedu-sedu. Tidak ada komentar apapun yang keluar dari mulut Bella, dalam keterdiamannya, Bella mengusap punggung Aretha secara perlahan.


****


"Indah banget yah" komentar Bella mengenai danau yang berada dihadapannya saat ini.


"Azka yang nemuin. Makasih yah Bel, makasih karena udah dateng. Padahal kamu mungkin lagi sibuk"


Bella tersenyum mendengar ucapan Aretha "aku gak sibuk kok Tha, tadinya aku mau ajak Sisil dan Jovan. Tapi aku pikir kamu perlu ruang, jadi aku gak jadi ajak mereka dan datang sendiri"

__ADS_1


Walaupun Bella orang yang suka bergosip dan sangat up to date perihal gosip-gosip yang sedang hangat. Namun sebagai seorang sahabat, dia senantiasa menjaga setiap rahasia dari sahabat-sahabatnya. Dia juga orang yang tidak akan memaksa orang lain untuk bercerita, jika orang itu tidak mau bercerita. Pokoknya, dia sahabat yang benar-benar bisa diandalkan. Sahabat yang sangat jarang bahkan langka.


"Kamu gak mau nanya gitu? Alasan kenapa aku ngerasa capek dan alasan aku menangis tadi?" Tanya Aretha.


Terdengar suara helaan napas Bella, sebelum akhirnya dia menyahut "sebenarnya aku sudah menebak alasan kenapa kamu merasa capek dan nangis seperti tadi" ujarnya.


"Karena apa?" Tanya Aretha seraya menatap lurus kearah danau.


"Azka dan keluarga kamu kan?" Jawabnya sedikit ragu.


"Kamu tahu dari siapa Bel?"


Untuk beberapa saat, Aretha terdiam seraya menatap pantulan bulan pada danau. Cukup terkejut dengan penjelasan Bella barusan. Dengan senyuman khasnya, dia menatap sahabatnya itu lekat "sedekat itu yah kamu sama Azka?" Tanyanya menggoda.


Bella tersenyum canggung mendengar pertanyaan dari sahabatnya itu "enggak Tha, hanya sebatas orang yang jatuh cinta dan orang yang menolak saja. Waktu itu aku pernah bilang sama kamu kan? Kalau aku akan nolongin Azka buat baikan sama kamu, dan dia akan kabulin apapun keinginan aku"

__ADS_1


Aretha menganggukkan kepalanya mengiyakan.


"Saat itu,,,, aku memang minta buat jalan-jalan sama dia, tapi aku juga punya permintaan lainnya. Yaitu dia harus jujur sama aku tentang hubungan kamu sama dia itu apa sebenarnya. Karena,,,,, untuk dibilang sebatas sahabat, hubungan kalian terlalu jauh. Dan dia bilang kalau kalian punya hubungan adik dan kakak yang sedarah, karena itu Azka bebas buat pegang tangan kamu ataupun peluk kamu" ujar Bella menjelaskan panjang lebar.


"Hanya itu yang kamu tahu Bel?" Tanya Aretha kemudian Bella menganggukkan kepalanya mengiyakan.


"Hubunganku dengan Azka, terjalin sejak kami kecil. Disaat aku terpuruk karena perceraian orang tuaku, disaat aku mendapatkan kekerasan dari ibu tiriku. Disaat ayah dan ibu tiriku beserta kak Rama memutuskan untuk pergi secara bersamaan. Saat itu, aku benar-benar terpuruk Bel. Tinggal dirumah sendirian yang didalamnya menyimpan begitu banyak luka, beberapa kali aku mencoba mengakhiri hidupku sendiri. Saat itu, seandainya Azka gak ada disisiku dan gak menggagalkan percobaan bunuh diriku, mungkin saat ini aku telah tiada"


Penjelasan yang baru saja diucapkan oleh Aretha, tentu saja membuat Bella terkejut. Ternyata dibalik senyumannya yang indah, dibalik tawanya yang keras, tersimpan kenangan pahit yang begitu memilukan. Dengan gerakan pasti, Bella merengkuh tubuh Aretha untuk masuk kedalam pelukannya. Walaupun Bella sadar jika pelukannya itu tidak mampu membuat Aretha melupakan segala kenangan pahit itu. Walaupun Bella sadar jika, apa yang telah terjadi tidak akan bisa dirubah. Namun, Bella hanya ingin Aretha tahu jika dia akan selalu ada disisi Aretha, sebagai sahabat dia akan senantiasa menjadi suport system bagi Aretha. Kapan pun Aretha butuh, Bella akan senantiasa ada dan membantunya.


"Kadang aku suka mikir, seandainya saat itu Azka tidak menolongku, mungkin saat ini aku sudah tiada. Mungkin, ungkapan permintaan maaf yang dilontarkan oleh orang tua kandungku, ayah bani dan juga kak Rama, tidak akan pernah aku dengar. Aku capek Bel, aku gak tahu lagi harus gimana, aku ingin memaafkan mereka dan terbuka kembali seperti dulu, tapi sulit Bel. Sulit menerima kenyataan jika ayah yang selama ini aku anggap sebagai ayah ku sendiri, ternyata bukan ayah kandungku"


Bella terdiam beberapa lama, tidak tahu harus memberikan dukungan seperti apa untuk menenangkan sahabatnya itu. "It's okey Tha, it's okey. Kamu bisa nangis sepuasnya. Tha, jangan bohongin diri kamu sendiri. Kamu bisa egois, dan memikirkan diri kamu sendiri. Jika kamu merasa bahagia dengan menganggap ayah Bani sebagai ayah kandungmu, maka lakukan itu Tha. Aku mohon Tha, aku mohon untuk bertahan, hidup yah tha? Kamu harus hidup pokoknya" ujar Bella seraya mengusap punggung Aretha yang bergetar hebat.


Pada kenyataannya, rumah yang Aretha impikan sejak lama adalah, rumah yang didalamnya ada bunda, ayah bani dan juga kak Rama. Sayangnya, saat ini rumah itu tidak akan pernah kembali bersatu. Kini, satu persatu dari mereka telah memiliki rumahnya sendiri. Hanya Aretha seorang yang tertinggal dirumahnya yang lama, memimpikan rumahnya kan kembali berwarna.

__ADS_1


Memori Aretha tertinggal dimasa kecilnya, memori yang didalamnya tersimpan begitu banyak kenangan indah. Hingga semesta menariknya untuk sadar jika, kenangan indah itu bukanlah miliknya. Dia, harus kembali pada posisinya, posisi seharusnya dia berada. Namun, jika kembali pada posisinya membuatnya kehilangan kehidupan serta jati dirinya, perlukah dia menempati posisi yang merenggut nyawanya sendiri?


Bagaikan hujan yang jatuh membasahi bumi, gadis itu tidak memiliki persiapan apapun untuk berada pada kondisinya saat ini. Impiannya begitu sederhana, hidup bahagia bersama keluarga lengkapnya. Namun, impiannya itu terlalu mahal untuk menjadi kenyataan. Karena kebahagiaan bunda, dan ayahnya tidak pada kelengkapan keluarga. Mereka, memiliki kebahagiaannya sendiri, yang tidak ada kak Rama juga Aretha didalamnya.


__ADS_2