
Mulut Niram menganga lebar setelah mendengar permintaan staf HRD yang sedang mewawancarainya.
Melepaskan kerudung? Bagaimana mungkin dia bisa melepaskan kerudungnya demi sebuah pekerjaan. Sejak kecil, kehidupan Niram sudah kental dengan agama.
Ibunya selalu memberikan pendidikan agama sejak Niram masih berada di dalam kandungan. Setiap selepas shalat, Halimah selalu melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an seraya mengusap perutnya yang besar. Dia selalu melantunkan shalawat sebagai lagu penghantar tidur Niram kecil.
Menginjak usia anak-anak, setiap malam, Niram selalu pergi mengaji ke surau dekat rumah. Bahkan, setiap hari Jum'at selepas dzuhur, Niram pun selalu mengikuti pengajian bersama ibunya di masjid kampung.
Sejak baligh, Niram selalu berusaha untuk menutupi auratnya. Lantas, kenapa dia harus membuka kerudungnya di saat ingin bekerja?
Haruskah aku menjual akidahku? batin Niram bergidik ngeri.
"Kami akan memberikan gaji di atas upah pendapatan minimum. Kami juga akan memberikan bonus dan tunjangan. Bagaimana Niram, apa kamu bisa melepaskan kerudungmu dan menjadi bagian dari kantor ini?" imbuh staf laki-laki yang mengenakan kemeja berwarna navy.
"Maaf, Pak. Saya tidak akan pernah menjual akidah saya hanya untuk mendapatkan pekerjaan. Permisi!" pungkas Niram seraya beranjak dari tempat duduknya.
.
.
Halim pergi ke pantry untuk membuat kopi hitam. Waktu baru menunjukkan pukul 11 siang. hanya tersisa satu jam sebelum jam istirahat berlangsung. Namun, entah kenapa kedua mata Halim tidak bisa diajak kompromi. Rasanya ngantuk sekali.
"Bang Halim!" panggil Ega, salah satu OG senior di kantor tempat dia bekerja.
Halim yang sedang mengaduk kopi hitamnya, seketika menoleh. Dia melihat seorang wanita bertubuh gempal mendekatinya.
"Iya, ada apa Ga?" tanya Halim.
"Kata mas Sandi, di kantornya ada lowongan pekerjaan. Tapi untuk cleaning servis, gimana? Apa keponakannya Bang Halim berminat?" tanya Egga lagi.
"Cleaning servis, ya?" ulang Halim. "Ya sudah, nanti saya coba tanyakan dulu kepada Niram, Ga," jawab Halim.
"Iya, Bang. Kalau memang keponakannya bersedia, besok bisa langsung datang saja ke kantornya. Kata mas Sandi, besok sudah mulai wawancara," lanjut Egga.
"Siap, Ga. Nanti malam, Abang kabari keputusannya," balas Halim.
"Ya sudah, kalau begitu Egga kerja lagi ya, Bang," pamit Egga.
__ADS_1
"Oke!"
.
.
Niram keluar dengan wajah sayu, membuat Magdalena sontak menghampirinya.
"Gimana, Ram? Apa kamu diterima?" tanya Magdalena.
Niram menggelengkan kepalanya seraya berucap pelan. "Apa yang dikatakan kamu, memang benar Len."
"Maksud kamu?" tanya Magdalena sambil mengernyitkan kening.
"Mereka memang memuji nilai prestasiku. Bahkan mereka bilang, mereka sangat terkesan dengan setiap jawaban yang aku berikan. Karena itu, mereka langsung menawari aku pekerjaan dengan gaji di atas upah minimum. Tidak hanya itu saja, mereka pun menawarkan aku bonus dan tunjangan. Hanya saja ..." Niram menjeda kalimatnya.
Magdalena dibuat penasaran oleh sikap Niram yang menjeda ucapannya. Dahinya pun semakin berkerut dengan rasa ingin tahu yang begitu besar.
"Hanya saja, apa Ram?" tanya Magdalena.
"Hanya saja, aku harus melepaskan kerudungku, Len," jawab Niram, lirih.
Niram hanya tersenyum tipis. "Apa penampilan fisik menjadi hal yang utama dalam mencari pekerjaan, Len?" tanya Niram, penasaran.
"Sejauh yang aku lihat, memang seperti itu, Ram. Kenyataannya, wajah dan penampilan fisik menjadi prioritas utama untuk bisa mendapatkan pekerjaan," timpal Magdalena.
Kembali Niram tersenyum. Dia pun ingat jika dia belum mengetahui hasil wawancara teman barunya.
"Ngomong-ngomong, gimana hasil wawancara kamu, Len? Apa kamu diterima?" tanya Niram.
"Seperti biasa ... zonk!" jawab Magdalena sambil tertawa.
Tawa Magdalena begitu renyah. Seakan penolakan pekerjaan yang baru saja dia terima, tidak menjadi beban baginya.
"Kamu kok malah ketawa sih, Len. Harusnya kamu sedih karena lamaran kamu ditolak, tapi kok kamu enggak keliatan muram sama sekali," ucap Niram, heran.
"Oh, ayolah Niram ... hidup ini terlalu singkat untuk bersedih hati dan bermuram durja. Lagi pula, ini bukan pertama kalinya aku ditolak dalam melamar pekerjaan. IQ-ku jongklok, Ram. Jadi aku sudah sangat bersiap dengan kemungkinan yang ada. Anggap saja, belum ada rezekinya," tutur Magdalena.
__ADS_1
Niram tersenyum tipis. Hmm, memang benar apa yang dikatakan sahabat barunya. Hidup ini terlalu singkat hanya untuk sebuah kesedihan.
"Ya sudah, Yuk!" ajak Magdalena seraya menarik tangan Niram.
"Eh, mau ke mana?" tanya Niram, terkejut.
"Jangan menyerah, Ram. Kita cari lowongan kerja lagi di sekitar sini. Siapa tahu ada rezekinya," sahut Magdalena kembali menarik tangan Niram supaya gadis itu berjalan mengikutinya.
Senyum Niram seketika mengembang mendengar perkataan teman yang baru saja dia kenal.
Ya, jangan patah semangat. Pepatah mengatakan, dunia tidak selebar daun kelor. Karena itu aku tidak boleh menyerah untuk mencari pekerjaan. Lagi pula, ini baru pertama kalinya aku mengalami penolakan. Hmm, bukan penolakan sih, tepatnya menolak. Mungkin sakit, tapi tidak seberapa jika dibandingkan dengan pengalaman Lena, batin Niram.
Kedua sahabat baru itu pun keluar dari kantor percetakan. Dengan bersenda gurau, mereka menyusuri trotoar dan sesekali melirik ke arah gedung-gedung bertingkat untuk mencari papan pengumuman yang bertuliskan Ada Lowongan Kerja'.
.
.
"Mana laki lu?!" teriak seorang pria botak yang mengenakan pakaian serba hitam sembari berkacak pinggang.
"U-untuk apa Abang tanyain laki saya?" Bukannya menjawab, Imas malah balik bertanya kepada pria botak itu.
"Ish, pake nanya lagi?" gerutu si pria botak, "sudah barang tentu untuk nagih utang elu sama dia. Ngarti kagak?" teriaknya.
"Aih, percuma juga Abang bilang sama laki Imas, toh dia enggak bakalan bayarin utang Imas. Dia, 'kan kere!" ejek Imas untuk suaminya sendiri.
"Cih, sudah tahu dia kere. Ngapain juga lu pinjem duit sama Bos Engkong? Dasar enggak tahu diri. Terus, siapa yang mau bayar utang lo sekarang, hah?" teriak pria itu.
"Iya-iya, entar Imas yang bayar. Tolong bilang sama Bos Engkong, Imas minta waktu lagi barang seminggu atau dua minggu," jawab Imas.
"Enak aja lu ngomong. Lu tuh udah minta waktu lebih dari seminggu. Pokoknya, sekarang juga, lu bayar utang lu. Kalau enggak, gue bakalan samperin laki lu dan bilang kalau lu punya utang ke Bos Engkong. Ngarti lu!"
"Tapi sekarang Imas enggak ada duit, Bang. Dua hari deh! Kasih Imas waktu dua hari buat cari duit. Setelah duitnya ada, entar Imas langsung serahin ke rumah Bos Engkong. Boleh ya, Bang ..." pinta Imas seraya mengatupkan kedua tangannya.
"Ck, nyusahin aja!" Pria botak itu berdecak dengan kesal. "Ya sudah, dua hari, dan enggak pake lebih!" tegasnya.
"Oke, dua hari. Janji!" ulang Imas seraya mengacungkan jari tengah dan jari telunjuknya.
__ADS_1
Setelah mendengar janji Imas, pria botak tinggi yang menyeramkan itu pun pergi dari depan rumah kontrakan Halim.
Niram yang melihat kejadian tersebut, seketika menautkan kedua alisnya. Apa mungkin tante Imas terlibat utang di belakang paman Halim?