Tobatnya Primadona Malam

Tobatnya Primadona Malam
Berita Duka


__ADS_3

Halim mengucap syukur ketika mendapatkan kabar tentang kelahiran anak kembarnya. Rasa haru menyeruak dalam dada begitu Halim mendengar tangisan bayi sahut menyahut dari dalam ruang operasi.


"Apa saya boleh melihat anak kembar saya, Sus?" pinta Halim kepada perawat bernama Suster Agni.


"Kedua bayinya sedang dibersihkan terlebih dahulu, Pak. Mohon ditunggu sebentar, ya," jawab Suster Agni.


Halim mengangguk. Sesaat kemudian, dia teringat akan istrinya.


"Bagaimana keadaan istri saya, Sus? Apa saya sudah bisa menemuinya?" Halim kembali bertanya.


"Saat ini, istri Bapak masih ditangani oleh tim medis. Kondisinya cukup serius, karena dia telah kehilangan banyak darah. Bapak berdo'a saja, semoga istri Bapak bisa melewati masa kritisnya," tutur Suster Agni.


"Kri-kritis, Sus?" pekik Halim, kaget.


"Benar, Pak. Kondisi istri Anda begitu memprihatinkan saat dibawa kemari. Karena itu, tim medis sedang berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkannya. Saya harap, Bapak bisa bersiap untuk menerima suatu kemungkinan terburuknya," papar Suster Agni.


Kepala Halim terasa berat begitu mendengar pemaparan perawat itu tentang kondisi istrinya. Kedua kaki Halim seakan tidak bertulang. Seketika, Halim pun limbung karena kehilangan keseimbangan tubuhnya.


"Eh, hati-hati, Lim!" seru Sugistiawan yang langsung menopang tubuh Halim.


Dengan cekatan, pria bertubuh tinggi kekar itu memapah Halim menuju kursi tunggu. Sedangkan Suster Agni kembali ke ruang operasi untuk membantu tim dokter yang sedang menangani pasien.


"Papa ... apa mama akan baik-baik saja?" tanya lirih Rayyan.


Halim menatap sendu ke arah putranya. Sungguh, dia tidak tega mengatakan jika kondisi ibunya saat ini, sedang tidak baik-baik saja. Namun, Halim tidak ingin Rayyan tumbuh menjadi anak yang lemah. Rayyan seorang laki-laki yang kelak memiliki tanggung jawab terhadap kedua adiknya. Halim harus bisa mendidik Rayyan menjadi seorang laki-laki yang tegar dan kuat.


"Kita do'akan saja yang terbaik untuk mama kamu, Nak," ucap Halim seraya meraih Rayyan ke dalam pelukannya.


.


.


Di lain tempat.


Cakrawala mulai berganti warna. Yura yang tengah mengenakan heels-nya, sontak mendongak begitu melihat kedua kaki jenjang seseorang berdiri di hadapannya. Siapa lagi kalau bukan Niram yang sedang berdiri di hadapannya.


Yura terkesiap melihat Niram berdandan seperti dirinya. Bibir yang mungil, dipoles dengan lipstik berwarna merah. Riasannya juga tidak terlalu tebal. Namun, glowing dan elegan. Pakaian yang dikenakan pun cukup menantang. Bahkan, terkesan sangat berani untuk seorang pemula seperti Niram.

__ADS_1


"Lu yakin, mau pergi dengan pakaian itu?" tanya Yura, sangsi.


"Sudahlah, Mbak. Jangan patahkan semangatku lagi," ucap Niram sambil memilih heels milik Yura di rak sepatu. "Oh iya, aku boleh pinjam sepatunya, 'kan?" imbuh Niram.


"Sudah gue bilang, Nir ... apa yang gue miliki, itu milik lu juga. Pilihlah! Lagian, body kita enggak jauh beda. Ukuran baju pun sama. Gue yakin kalau ukuran sepatu juga enggak bakalan beda jauh," sahut Yura.


Niram tersenyum. Dia pun mengambil sepasang heels berwarna silver yang hanya memiliki tinggi sekitar 5 cm. Niram memang tidak terbiasa mengenakan sandal ataupun sepatu ber-hak tinggi. Akan tetapi, demi profesi barunya, dia akan berusaha untuk belajar menggunakannya.


Setelah keduanya siap, Yura pun mengetikkan sesuatu di atas layar ponselnya. hingga tak lama berselang, sebuah taksi online berhenti tepat di depan rumahnya.


Dengan menggunakan taksi online. Mereka pergi ke sebuah tempat di mana gudang kenikmatan dan maksiat tersaji di sana.


"Turunlah!" perintah Yura sesaat setelah membayar ongkos taksinya.


Niram turun dari taksi. Diikuti oleh Yura di belakangnya. Untuk sejenak, Niram hanya mengedarkan pandangan melihat rumah yang dipenuhi lampu berwarna-warni.


"Ini namanya rumah bordil, Nir. Tempat di mana pria hidung belang melepaskan penatnya," tutur Yura, memperkenalkan tempat kerjanya.


Niram tersenyum kecut. Betapa polosnya dia beberapa waktu yang lalu. Mengira jika tempat ini adalah sebuah kafe. Semburat kebencian pun kembali menyeruak.


"Yuk, masuk!" ajak Yura.


Niram mengangguk. Kedua kupu-kupu malam itu pun berjalan beriringan memasuki taman hias yang penuh gemerlap.


.


.


Tiiiiiit....


Bunyi panjang dari alat medis yang terpasang di samping meja operasi, seketika menghentikan upaya beberapa dokter untuk menyelamatkan pasien.


"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un," gumam salah satu dokter yang tengah menangani Imas.


Semua tim medis baik itu dokter maupun perawat, hanya bisa menimpali kalimat yang sama setelah pimpinan tim mengucapkannya.


"Tolong segera beri tahukan berita duka ini kepada keluarganya," perintah ketua tim dokter yang menangani Imas.

__ADS_1


Suster Agni mengangguk. Dia segera membuka sarung tangannya dan membersihkan kedua tangan sebelum akhirnya keluar ruang operasi.


Sementara itu, tim dokter menyelesaikan tugasnya. perawat yang lainnya pun membereskan beberapa peralatan medis yang telah digunakan untuk tindakan operasi tadi.


Setelah semuanya beres, dokter senior yang merupakan pimpinan tim, menutupkan wajah Imas dengan kain putih. Setelah itu, mereka bergantian untuk membersihkan diri.


Di luar ruang operasi.


Lampu di atas pintu kembali padam. Namun, entah kenapa Halim begitu gelisah melihatnya. Pasalnya, 20 menit yang lalu lampu itu baru saja menyala. Apa ini artinya, sesuatu yang buruk terjadi pada Imas? batin Halim.


"Dengan keluarga pasien bernama Imas!" panggil Suster Agni dari ambang pintu ruang operasi.


Halim berusaha untuk tetap kuat. Dia kemudian berdiri dan menghampiri perawat yang memanggilnya.


"Saya suaminya, Sus," jawab Halim.


Sejenak, Suster Agni menatap Halim dan juga anaknya. Rasanya, lidah Suster Agni terlalu kelu untuk menyampaikan kabar duka tersebut. Terlebih lagi, di samping Halim, kini telah berdiri seorang anak kecil.


Apa ini anak dari pasien yang meninggal itu? batin suster Agni.


"Bagaimana keadaan istri saya, Sus?" imbuh Halim yang sontak membuyarkan lamunan Suster Agni.


"Mo-hon maaf, Pak. Tim dokter sudah berupaya semaksimal mungkin untuk menyelamatkan istri dan kedua putri kembar Bapak. Akan tetapi, kuasa illahi menetapkan hal lain," tutur Suster Agni.


"Apa maksudnya ini, Sus?" tanya Halim, kebingungan.


"Maaf, Pak. Kami tidak bisa menyelamatkan istri Bapak. Pendarahan yang dialaminya begitu parah. Di samping itu, dia juga terlambat dibawa kemari, hingga telat mendapatkan tindakan. Maafkan kami, istri Bapak sudah meninggal," tutur Suster Agni.


"Tidak! I-itu ti-dak mungkin, Sus. I-istri saya o-orang yang ku-at. Dia pas-ti baik-baik saja, Sus," ucap Halim dengan bibir bergetar.


"Maafkan saya, Pak," lanjut Suster Agni seraya menutup kembali pintu ruang operasi.


Brugh!


Halim sudah tidak sanggup lagi berdiri. Kenyataan pahit yang menderanya, telah membuat dia benar-benar tidak berdaya. Sepersekian detik setelah perawat itu menutup pintu. Halim pun ambruk ke lantai.


"Bersabarlah, Lim!"

__ADS_1


__ADS_2