
Waktu terus berlalu. Imas masih bungkam tentang keberadaan Niram jika ditanyakan oleh Halim. Membuat pria itu semakin frustasi saja.
Setiap pulang kerja, Halim selalu menyempatkan diri untuk mencari Niram. Berbekalkan foto keponakannya yang berada di galeri ponsel, Halim menyisir jalanan ibu kota untuk mencari keberadaan Niram. Pria bertubuh tegap itu tak segan-segan untuk bertanya kepada setiap orang yang ditemuinya di tepi jalan.
"Huft!"
Halim membuang napasnya dengan kasar. Dia kemudian duduk di tepi trotoar sambil menyelonjorkan kedua kakinya. Rasa lelah benar-benar menderanya. Namun, Halim masih enggan untuk pulang sebelum bisa menemukan Niram.
.
.
Di rumah. Imas terus berjalan mondar-mandir. Semakin hari, sikap Halim terhadapnya semakin dingin saja. Imas sudah mencoba berbagai upaya untuk membuat Halim percaya, jika dia tidak ada sangkut pautnya dengan menghilangnya Niram. Namun, sepertinya laki-laki yang menikahinya sembilan tahun yang lalu, tidak pernah mempercayai lagi ucapannya.
Uuh, apa yang harus aku lakukan? Tidak mungkin juga aku meminta bapak untuk menjemput Niram. Lagi pula, bapak sudah bilang kalau si Niram kabur dari tempat Imelda. Astaga ... kenapa hidupku jadi berantakan begini, keluh Imas dalam hatinya.
"Aduh!" pekik Imas ketika merasakan sakit di perutnya.
Imas melirik kalender yang terpasang di dinding ruang keluarga. Angka yang dibulati tinta merah memang sudah terlewati seminggu yang lalu. Itu artinya, masa HPL sudah lewat. Dan sekarang, tiba-tiba saja perutnya terasa melilit.
"Apa mungkin bayinya akan lahir hari ini?" gumam Imas sembari mengusap-usap perutnya yang semakin kram.
"Ray! Rayyan!" Imas memanggil putranya.
Dari dalam kamar, Rayyan datang tergopoh-gopoh menuju ruang tengah.
"Ada apa, Ma?" tanya Rayyan.
"Cepat telepon Papa kamu. Sepertinya dedek bayi mau segera keluar," pinta Imas kepada anaknya.
"HP-nya di mana, Ma?" Rayyan kembali bertanya.
"Aaargh!"
Imas memekik keras seraya berjongkok. Rasa mulas di perutnya sudah tidak bisa dia tahan lagi. Akhirnya, Imas hanya bisa memberikan isyarat melalui telunjuk untuk menjawab pertanyaan Rayyan.
.
.
__ADS_1
Seminggu tinggal bersama Yura, akhirnya membuat Niram paham tentang pekerjaan Yura yang sebenarnya. Tanpa sengaja, Niram sempat memergoki Yura sedang melakukan aktivitas-aktivitas aneh bersama seorang lawan jenis melalui video call. Dia juga sering melihat Yura diantar pulang oleh beberapa pria yang tidak dikenal Niram.
Malam kemarin Yura diantar seorang pria yang mengendarai mobil mewah, malam ini diantarkan pemuda bermobil sport, dan malam lalu Yura diantarkan pria asing bermobil Limosin. Hingga dari berbagai pemandangan itulah, Niram menarik kesimpulan jika Yura memanglah seorang wanita panggilan.
"Mbak, boleh aku tanya sesuatu?" kata Niram saat mereka sedang asyik menikmati sebuah acara talk show di televisi.
"Tanyalah!" titah Yura, masih sibuk mengupas kacang sebagai teman nonton.
"Sebenarnya ... apa yang membuat Mbak melakukan pekerjaan itu? Ma-maksud a-aku, Mbak berpendidikan tinggi. Seorang sarjana ekonomi. Dengan gelar yang Mbak miliki, kenapa Mbak memilih bekerja seperti ini?" tanya Niram, hati-hati.
Yura tersenyum tipis. Raut wajahnya terlihat biasa saja. Sama sekali tidak merasa tersinggung oleh perkataan Niram. Sejenak, dia menarik napas panjang mengingat masa kelam dalam hidupnya.
"Gelar saja tidak akan mengenyangkan perut, Nir," ucap lirih Yura.
Niram menautkan kedua alisnya. "Maksud, Mbak?"
"Sama seperti kamu, aku juga seorang gadis kampung. Tumbuh di kampung dengan kondisi ekonomi yang terbilang cukup. Karena mengikuti langkah seorang pria, aku memutuskan untuk berkuliah di kota ini. Nahasnya ... aku terjebak pergaulan bebas dengan pria itu. Dan ...."
Yura menghentikan kalimatnya. Wajahnya terlihat menengadah, sebagai upaya agar air matanya tidak jatuh begitu saja.
"Tidak usah dilanjutkan, Mbak. Maaf jika aku sudah menguak luka lama, Mbak," kata Niram.
"Dan ... di saat aku hamil, pria itu tidak mau bertanggung jawab. Dia malah ingin melenyapkan aku," jawab Yura dengan suara yang mulai serak.
"A-apa?!" pekik Niram.
"Pria yang paling aku cintai, pria yang paling aku puja, dia begitu tega menyusun rencana untuk menghabisi aku dan calon anakku. Beruntunglah aku bisa selamat atas pertolongan seseorang. Namun, bayi yang ada dalam kandunganku tidak bisa diselamatkan," lanjut Yura, getir.
"A-apa pria itu adalah orang yang berada di dalam foto di kamar Mbak?" tanya Niram lagi.
"Hahaha,..."
Bukannya menjawab, Yura malah tertawa terbahak-bahak. Membuat Niram semakin mengernyitkan keningnya.
Ih, apa dia sudah tidak waras? Tadi dia berlinang air mata. Sekarang dia malah tertawa seperti itu, batin Niram seraya menatap tajam ke arah Yura.
"Ish, kok malah ketawa sih, Mbak," rengut Niram seraya mengerucutkan bibirnya.
"Hahaha, ma-maaf, Nir ... abisnya kamu lucu banget," jawab Yura.
__ADS_1
"Kok lucu sih, Mbak." Kembali Niram merengut.
"Iya-iya ... maaf," balas Yura.
"Jadi, laki-laki itu?" lanjut Niram.
"Laki-laki yang kamu lihat di foto itu, dia adalah saudara kembarku. Namanya Yanuar. Karena Yanuar, aku memutuskan untuk berkuliah dan mencari pekerjaan. Yanuar mengalami keterbelakangan mental. Memang benar, aku memutuskan berkuliah di kota dengan alasan ingin mengikuti kekasih yang juga tinggal di kota ini. Namun, keputusanku untuk meraih gelar dan mendapatkan pekerjaan bagus, itu didasarkan pada keinginan aku untuk membiayai pengobatan Yanuar. Aku ingin dia sehat dan hidup normal seperti anak-anak seusianya," tutur Yura. "Namun, nasib telah membawa aku pada sebuah jurang kehinaan. Setelah selamat dari percobaan pembunuhan, aku malah terjebak dalam dunia malam. Pertolongan yang diberikan seorang wanita paruh baya, ternyata menuntut balas yang cukup mahal. Awalnya aku ragu, tapi karena hidupku sudah bergelimang dosa, dan aku perlu banyak uang untuk mengobati adikku. Akhirnya aku ikuti syarat perempuan yang telah menolongku," imbuhnya.
"A-apa syaratnya, Mbak?" lanjut Niram.
"Perempuan yang telah menyelamatkan nyawaku, ternyata seorang mucikari. Dia meminta aku untuk menjadi anak angkatnya. Anak angkat yang bisa dijadikan sebagai pemuas naf'su para pria hidung be'lang," balas Yura kembali tersenyum getir.
Jleb!
Jawaban Yura seketika mengingatkan Niram kepada orang yang telah menjualnya.
"Ternyata, nasib kita tidak jauh berbeda, Mbak," gumam Niram lirih.
"Maksud kamu?" Kini giliran Yura yang merasa heran dengan ucapan teman barunya.
"Aku datang ke kota ini untuk merubah perekonomian kedua orang tuaku di kampung. Namun, siapa sangka, keculasan bibiku telah menjadi penyebab aku mengalami nasib buruk," jawab Niram, pelan.
"Keculasan bibi bagaimana maksud kamu, Nir?" Yura kembali bertanya.
Niram menarik napas panjang. Rasanya begitu berat ketika harus menceritakan kembali derita itu. Namun, jika Yura saja mampu bersikap tegar, kenapa dia tidak bisa? pikir Niram.
"Bibiku dan ayahnya telah menjual aku kepada seorang perempuan yang aku sendiri tidak tahu siapa. Aku sempat disekap di sebuah ruangan setelah mereka selesai bertransaksi. Aku tidak tahu tempat seperti apa itu. Namun, saat aku mengintip melalui celah jendela ruang penyekapan. Aku mulai paham jika tempat itu bukanlah tempat baik-baik. Aku sempat kabur dari cengkeraman orang-orang jahat tersebut, tapi nahasnya, orang yang katanya ingin menolongku, justru dia yang memangsaku di malam itu," papar Niram.
"Aku turut prihatin dengan apa yang menimpa kamu, Nir," ucap Yura seraya menggenggam tangan Niram.
"Sudahlah, Mbak. Semuanya telah berlalu. Aku sudah tidak ingin mengingat kejadian itu lagi," jawab Niram.
"Ya, kamu benar, Nir. Sekarang, kita hanya tinggal memikirkan masa depan kita. Tidak ada gunanya juga kita terus-menerus meratapi nasib buruk kita," timpal Yura.
"Iya, Mbak. Dan aku sudah memutuskan apa yang akan menjadi masa depanku saat ini," imbuh Niram.
"Hmm, baguslah. Aku senang kamu bisa bangkit," balas Yura. "Ngomong-ngomong, kalau boleh tahu, apa yang menjadi keputusan kamu untuk masa depanmu, Nir?" tanyanya.
"Aku akan bekerja seperti Mbak bekerja!" jawab Niram tanpa ekspresi.
__ADS_1
"Apa?!"