Tobatnya Primadona Malam

Tobatnya Primadona Malam
Hamil


__ADS_3

"Gimana, Sya. Lu udah kasih semua administrasinya ke sekretariat?" tanya Ahsan.


"Udah, San. Besok gue tinggal masuk kampus aja," jawab Natasya.


"Hhh, syukurlah kalau gitu. Moga aja lu masuk pagi, Sya. Biar kita bisa barengan," imbuh Ahsan.


"Emang kalau gue masuk siang, lu enggak mau nganterin gue?" ucap Natasya, merengut.


"Ish, ya enggak gitu juga kali, Neng. Kalau gue ada waktu, Insya Allah gue pasti anterin lu," lanjut Ahsan.


"Janji?" tekan Natasya sembari mengacungkan jari kelingkingnya.


"Janji!" sahut Ahsan, menautkan jari kelingkingnya di jari kelingking milik sahabatnya. "Ya udah, pulang yuk! Eyang putri pasti sudah nungguin kita," lanjut Ahsan.


Natasya mengangguk. Dia kemudian naik ke atas boncengan motor Ahsan. Tak lama berselang, motor pun keluar dari kampus tempat mereka menuntut ilmu.


.


.


Yura tak henti-hentinya menatap Niram yang sedang berganti pakaian. Entah kenapa, Yura merasa jika semakin hari, tubuh Niram semakin padat berisi saja. Padahal, anak itu jarang sekali berolahraga. Hanya saja, beberapa minggu ke belakang, Yura sering memperhatikan jika porsi makan Niram bertambah banyak.


"Oh iya, Nir. Gimana kabar orang tua lu?" tanya Yura membuka perbincangan.


"Alhamdulillah, mereka baik, Mbak. Malahan, kesehatan ayah mulai berangsur membaik," jawab Niram yang masih berusaha mengancingkan celana jeans-nya.


"Ah, syukurlah kalau begitu," timpal Yura.


"Kabar Yanuar sendiri, gimana Mbak?" Niram balik bertanya. Tangannya masih berusaha untuk mengaitkan kancing celana pada lobangnya.


"Kata ibu sih, sudah berangsur pulih. Terapinya juga berjalan dengan baik," tutur Yura.


"Hmm, baguslah kalau begitu. Semoga dia bisa sembuh dan menjadi anak normal seperti teman-temannya." Do'a Niram.


"Aamiin," sahut Yura.


"Ish, kenapa susah sekali," gumam Niram yang masih bisa didengar oleh Yura.


"Kenapa, Nir?" tanya Yura.

__ADS_1


"Ini, Mbak. Celananya susah dikancingin. Hmm, apa berat badan aku naik lagi, ya? Perasaan, baru bulan kemaren berat badanku naik. Masak naik lagi, sih!" keluh Niram yang mulai menyerah mengancingkan celananya.


Niram kemudian membuka kembali celana jeans berwarna abu tua itu. Dia menyampirkan celana tersebut pada sandaran kursi di samping meja rias.


Yura yang mendengar keluhan Niram, seketika mulai menelisik tubuh Niram yang hanya mengenakan pakaian dalam saja. Dahinya mengernyit ketika melihat bentuk wilayah dada dan bokong Niram sedikit berbeda. Seperti tengah berbadan dua saja, pikir Yura.


Bukan tanpa alasan Yura memiliki pemikiran seperti itu. Dulu, di saat dia tengah mengandung anak kekasihnya, Yura pun mengalami perubahan bentuk tubuh yang sama.


"Nir, boleh gue tanya sesuatu yang bersifat pribadi?" tanya Yura, hati-hati.


"Hahaha, ... memangnya apa yang bisa aku rahasiakan dari Mbak," jawab Niram seraya tertawa. Gadis itu masih asyik memilah bajunya yang tergantung di dalam lemari pakaian.


"Ish, Nir ... gue serius," ucap Yura.


"Ya sudah, tanya aja Mbak, enggak usah sungkan-sungkan," balas Niram, masih anteng membolak-balik pakaian yang hendak dia kenakan.


"Apa lu ngerasa mual-mual?" Selidik Yura.


"Enggak, alhamdulilah lambungku untuk saat ini aman-aman saja, tuh," jawab Niram.


"Ish, bukan mual seperti itu yang gue maksud," rengut Yura.


"Maksud Mbak apa, sih? Aku sama sekali enggak ngerti," ucap Niram.


Yura diam. Dia sendiri bingung untuk menyampaikan dugaannya. Permasalahan ini terlalu riskan, dan dia takut menyinggung perasaan sahabatnya itu. Akan tetapi, jika tidak disampaikan, dia takut jika Niram bertambah shock.


"Apa akhir-akhir ini, lu enggak ngerasain sesuatu yang aneh sama tubuh lu?" cicit Yura, bertanya. "Misalnya ... pusing, mual-mual ... emh, atau bahkan menginginkan sesuatu yang pengeeen banget, ampe enggak bisa ditolak," imbuhnya hati-hati. Yura berharap, semoga dengan menyebutkan gejala-gejala orang hamil, Niram bisa mencerna ke mana arah pembicaraannya.


"Enggak, tuh. Lagian Mbak ini aneh-aneh aja, emangnya Niram lagi ngi ...."


Niram menjeda kalimatnya. Tiba-tiba saja dia teringat tentang gejala-gejala orang ngidam. Ya Tuhan, bukankah apa yang disebutkan Mbak Yura itu, merupakan tanda-tanda orang hamil? Apa mungkin aku ....


"Enggak mungkin, Mbak," gumam Niram yang tiba-tiba sekujur tubuhnya terasa lemas.


Niram mulai limbung. Tiba-tiba saja, kepalanya terasa berat. Sontak dia berpegangan pada ujung meja rias supaya tidak jatuh.


"Eh, hati-hati, Nir!" ucap Yura yang segera menghambur ke arah Niram.


Yura memapah Niram menuju ranjang. Dia pun membantu Niram untuk duduk di tepi ranjang. Hatinya merasa iba melihat Niram yang terlihat shock.

__ADS_1


"Sorry, Nir. Gue enggak bermaksud bikin lu terkejut. Gue cuma heran aja sama sikap lu belakangan ini. Lu aneh, Nir. Dan ciri-ciri fisik lu menunjukkan kalau lu tuh seperti sedang–"


"Hamil! Se-seperti wanita hamil, 'kan, Mbak?" potong Niram, lirih.


Yura mengangguk, pelan. "Memangnya, kapan terakhir kali lu dapat menstruasi?" tanyanya.


"Ni-niram lupa, Mbak. Niram sama sekali enggak ingat apa-apa, ta-tapi ... seingat Niram, se-sepertinya terakhir haid, saat Niram masih tinggal di rumah paman Halim," ucap Niram dengan bibir bergetar.


"Itu artinya ... jika memang lu hamil ... lu pasti mengandung benih bajingan itu, Nir. Laki-laki yang sudah memperkosa lu!" tebak Yura.


Deg!


Niram sangat terkejut mendengar praduga Yura. Sekelumit bayangan rudapaksa itu kembali melintas di memorinya. Tidak! Aku tidak mau mengandung anak laki-laki itu. Tidak, jerit Niram dalam hatinya.


Melihat perubahan di raut wajah Niram, seketika Yura memeluk Niram. Dia takut jika wanita ini kembali histeris dan mengalami depresiasi setelah mengetahui kemungkinan yang terjadi.


"Tenanglah dulu, Niram. Semuanya masih praduga. Besok, kita temui dokter kandungan untuk memastikan. Tenanglah!" ucap Yura sembari mengusap-usap punggung sahabatnya.


"A-aku takut, Mbak." Lirih Niram.


"Enggak, Nir. Lu harus kuat. Semuanya pasti akan baik-baik saja," imbuh Yura, mencoba menenangkan hati sahabatnya.


.


.


Di Puskesmas Desa.


"Alhamdulillah, kondisi Pak Hanafi mengalami kemajuan yang cukup pesat. Asalkan rajin minum obat dan rutin check up, saya yakin jika Pak Hanafi bisa segera pulih seperti sedia kala," tutur Dokter Agus.


"Alhamdulillah, Dok. Semua ini tidak terlepas dari bantuan Dokter untuk menyembuhkan penyakit saya," jawab Hanafi, "terima kasih, Dok," imbuhnya.


"Sama-sama, Pak. Saya hanya menunjukkan jalan saja, Pak. Semua ini berkat perjuangan kuat Bapak untuk sembuh. Dan pastinya, atas izin Tuhan juga," lanjut Dokter Agus.


Hanafi tersenyum. Dalam hati dia berkata jika semua ini atas jerih payah putrinya juga.


Terima kasih, Nak. Terima kasih karena kamu telah bekerja keras untuk pengobatan Bapak, batinnya.


"Ini resep vitamin dan juga obatnya. Ibu bisa menebusnya di bagian apotek depan," tutur Dokter Agus seraya menyerahkan secarik kertas kepada Halimah.

__ADS_1


"Terima kasih, Dok. Kalau begitu, kami permisi dulu," pamit Halimah.


__ADS_2