
Pikiran Halim benar-benar kacau. Dia sudah tidak bisa berkonsentrasi lagi. Belum juga Niram ditemukan, sekarang istrinya pun mengalami kontraksi. Tak ingin terlambat menolong sang istri. Halim memacu motornya dengan kecepatan tinggi.
.
.
Di rumah kontrakan Halim.
Rayyan kembali ke ruang tengah untuk menemui ibunya. Tiba di ruang tengah, Rayyan begitu terkejut melihat ibunya yang sudah duduk bersandar pada dinding. Di kedua betisnya, tampak darah mengucur deras.
Rayyan memang tidak mengerti apa pun. Usianya yang baru duduk di kelas satu, membuat pemikirannya terbatas. Namun, melihat kondisi ibunya yang kepayahan, Rayyan paham jika ibunya sedang tidak baik-baik saja.
"Bersabarlah, Ma. Papa sedang menuju kemari," ucap Rayyan seraya merangkul bahu ibunya.
Imas tidak menjawab. Rasa sakit di perut telah menguras seluruh tenaganya. Dia hanya bisa menatap Rayyan. Sedikit demi sedikit, pandangannya semakin buram. Hingga akhirnya, kepala Imas hanya bisa terkulai di bahu kecil sang anak.
.
.
Niram mematut dirinya di depan cermin. Perlahan, dia membuka kain yang menutupi kepalanya. Dadanya bergemuruh hebat ketika kain penutup kepala itu sudah teronggok di atas lantai.
Niram tersenyum kecut. Perlahan, dia melucuti pakaian tertutup yang melekat di tubuh, menggantinya dengan pakaian terbuka milik Yura. Niram merasa aneh saat melihat belahan dadanya terbuka lebar. Sesekali, kedua tangannya menarik ujung dress di samping kiri dan kanan.
"Sudahlah, Nir. Akhiri saja. Kamu akan merasa tersiksa melakukannya," ucap Yura yang baru keluar dari kamar mandi.
Niram menoleh. "Apa rasanya secanggung ini waktu pertama kali Mbak melakukannya?" tanya Niram, polos.
Yura tersenyum tipis. "Mungkin memang bagi gue sudah biasa. Namun, enggak gue pungkiri, kecanggungan itu menyergap gue ketika gue harus melayani pria yang enggak gue kenal," tutur Yura, mengenang masa lalu.
Niram tersenyum getir. "Jika Mbak bisa melewatinya, aku yakin, aku pun pasti bisa melewati malam ini. Setelah malam ini, semuanya pasti akan biasa-biasa saja," tegas Niram.
Yura kembali tersenyum tipis. "Jika bisa, gue enggak mau lu ngikutin jejak gue, Nir. Akan tetapi, gue tidak bisa menjamin kehidupan lu," tukas Yura.
"Ini keputusan Niram, Mbak. Sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kewajiban Mbak. Lagi pula, aku tidak ingin menjadi benalu di sini, Mbak. Aku juga harus bekerja untuk membiayai kebutuhan aku dan orang tuaku di kampung," jawab Niram.
"Semoga berhasil, Nir," dukung Yura.
Gadis tinggi semampai itu menghampiri lemari pakaiannya. Dia pun mulai berganti pakaian. Lepas itu, Yura mengeluarkan sesuatu dari dalam laci lemari. Dia kembali menghampiri Niram yang sedang memoles wajahnya.
"Minumlah ini!" titah Yura seraya memberikan sebutir obat kepada Niram.
Kening Niram mengernyit ketika menerima sebutir obat yang berwarna putih tulang.
"Apa ini, Mbak?" tanya Niram.
"Itu pil KB. Sangat efektif untuk mencegah kehamilan. Jadi, kamu nggak perlu kuatir jika pelanggan meminta mengeluarkan di dalam. Aku jamin kamu tidak akan hamil," tutur Yura.
__ADS_1
"Apa Mbak yakin?" Niram kembali bertanya.
"Seratus persen tidak akan pernah hamil. Itu alat kontrasepsi khusus dari obgyn. Terpercaya dan sangat akurat. Sudah bertahun-tahun gue pakai itu, dan hasilnya ... lu lihat sendiri, 'kan, keadaan gue. Enggak usah kuatir, enggak bikin badan lu melar juga," jawab Yura.
Niram tersenyum tipis. "Kapan bisa saya makan, Mbak?" tanyanya yang memang tidak tahu apa-apa tentang alat kontrasepsi.
Yura melirik jam dinding. Sebentar lagi magrib. Dan selepas magrib, Yura biasanya pergi untuk mencari mangsa.
"Pil itu harus diminum satu jam sebelum berhubungan, dan reaksinya bertahan selama 48 jam, tapi meskipun demikian, lu harus rutin minum pil itu setiap hari. Usahakan di jam yang sama," tutur Yura.
"Mbak sendiri ... jam berapa Mbak biasa mengkonsumsi pil ini?" tanya Niram.
"Gue sih, abis magrib," jawab Yura.
Niram melirik jam dinding. Sebentar lagi magrib. Hmm, daripada aku lupa tidak meminum pil tersebut, lebih baik sekarang saja aku minum pil ini, batin Niram.
"Makasih ya, Mbak."
Selesai dengan riasan di wajahnya, Niram kemudian pergi ke dapur untuk mengambil air minum. Tiba di dapur, Niram segera menelan pil yang diberikan Yura tadi.
.
.
Azan magrib mulai berkumandang. Namun, Halim belum juga tiba di rumah. Rayyan sudah tidak sanggup melihat kondisi ibunya yang semakin memprihatinkan. Wajah Imas terlihat pucat. Bibirnya juga membiru. Darah yang membasahi baju dasternya pun sudah mulai kering.
Tangan mungil Rayyan masih setia mengusap-usap pipi ibunya. Sesekali, Rayyan melirik ke arah daun pintu. Berharap agar ayahnya segera datang.
Tak berapa lama kemudian, Halim tiba di rumah. Setelah memarkirkan motornya, setengah berlari dia pun memasuki rumahnya.
"Bagaimana keadaan Mama, Bang?" tanya Halim begitu tiba di hadapan putranya.
"Abang enggak tahu, Pa. Sepertinya mama sudah tidak sadarkan diri," jawab Rayyan.
"Astaghfirullah ... ayo kita bawa mama ke rumah sakit. Kamu tolong bawa tas bayi yang ada di kamar Papa. Sementara itu, Papa akan pesan taksi online-nya dulu." Halim memberikan perintah kepada anaknya.
Rayyan mengangguk. Sedetik kemudian, dia pergi ke kamar orang tuanya untuk mengambil tas yang berisi pakaian calon adiknya.
Di ruang tengah, Halim tampak menghubungi seseorang. Hingga setengah jam berlalu, seorang laki-laki datang memasuki rumah kontrakan Halim.
"Ayo, kita segera bawa bini lu, Lim!" ucap Sugistiawan yang sudah berjongkok di hadapan Halim.
"I-iya, Bang," sahut Halim.
Tubuh Imas yang tengah mengandung anak kembar, terasa begitu berat. Halim dan Sugistiawan membopong Imas berjalan menyusuri gang. Tiba di ujung gang, kedua pria itu pun segera memasukkan Imas ke dalam mobil.
"Abang duluan saja ke rumah sakit. Nanti saya nyusul. Saya harus jemput dulu Rayyan dan mengunci pintu," pinta Halim.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, saya jalan duluan. Ke RSUD ya, Lim," timpal Sugistiawan.
"Iya, Bang."
Sugistiawan melajukan mobilnya. Sedangkan Halim kembali ke rumah untuk menjemput Rayyan dan membawa semua perlengkapan bayi.
Halim sedikit terpaku ketika melihat darah Imas di atas lantai. Apa mungkin Imas mengalami pendarahan? Ya Tuhan ... tolong selamatkan anak dan istriku.
.
.
Di RSUD setempat.
Melihat kondisi Imas yang sudah memprihatinkan, tim medis pun segera mengambil tindakan. Pendarahan hebat membuat pasien kehilangan banyak darah. Pasien pun sudah tidak sadarkan diri. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan pasien dan bayinya, yaitu dengan cara operasi caesar.
"Tolong tanda tangani surat pernyataannya, Pak. Kami harus segera melakukan Sc terhadap pasien," pinta seorang perawat.
"Maaf, Sus. Apa bisa menunggu sebentar lagi. Saya yakin, suaminya sedang dalam perjalanan kemari," tutur Sugistiawan.
"Jadi, Anda bukan suaminya?" tanya perawat itu lagi.
"Bukan. Saya hanya kawan karib suaminya," jawab Sugistiawan.
Tiba-tiba Halim datang bersama anaknya. "Bagaimana keadaan istri saya?" tanya Halim.
"Apa Anda suaminya?" Perawat itu balik bertanya.
"Iya, Sus. Saya suaminya," jawab Halim.
"Kalau begitu, tolong tanda tangani ini, Pak. Istri Anda membutuhkan tindakan secepatnya," kata perawat itu lagi.
"Apa ini, Sus?" tanya Halim menunjukkan lembaran yang baru dia terima dari perawat itu.
"Itu surat persetujuan tindakan operasi yang akan dilakukan terhadap istri Anda. Jika nanti sesu–"
"Lakukan yang terbaik untuk istri dan calon anak saya, Sus!" potong Halim seraya menandatangani surat pernyataan.
Halim sudah tidak ingin mendengar penjelasan apa pun lagi. Semakin panjang perawat itu berbicara, semakin lama juga Imas mendapatkan penanganan. Karena itu, dia segera menandatangani surat persetujuannya.
Waktu terus berlalu. Sudah hampir dua jam Imas berada di ruang operasi. Halim sudah merasa sangat frustasi. Dua jam tanpa kabar, seperti melewati dua tahun tanpa kepastian.
Tiba-tiba, lampu di atas pintu ruang operasi mulai padam. Seorang perawat membuka pintu ruang operasi.
"Selamat, Pak. Bayi kembar Anda sudah lahir," ucap perawat itu.
"Alhamdulillah ...."
__ADS_1