
Natasya tiba di rumah neneknya. Gadis itu langsung menghambur ke dalam pelukan wanita yang rambutnya telah dipenuhi uban.
"Tasya Sayang ... cucu Oma satu-satunya," sambut Lila seraya merentangkan kedua tangannya.
"Oma ... Tasya kangen sama Oma," rengek Natasya yang langsung berubah menjadi gadis manja di hadapan wanita tua ini.
Tiba-tiba saja, kedua bahu Natasya berguncang pelan. Sepertinya, gadis itu sedang menangis.
"Hei ... ada apa denganmu, Nak? Kenapa kamu menangis?" tanya Lila.
"Ti-tidak apa-apa, Oma. Ta-tasya cuman kangen aja sama Oma," sahut Natasya di sela-sela isak tangisnya.
"Uduuuh ... dasar gadis manja," ledek Lila kepada cucu semata wayangnya.
Lila melepaskan pelukannya. Sejenak, dia menatap intens sang cucu.
"Ada apa, Nak? Apa sesuatu telah terjadi di rumah kamu?" tanya Lila penuh selidik.
Wanita tua itu memiliki firasat yang cukup tajam. Instingnya begitu kuat, hingga hanya dengan melihat raut wajah cucunya, dia tahu jika keadaan di rumah anaknya sedang tidak baik-baik saja.
"Masuklah, kita bicara di dalam! Mari, Nak Ahsan!" lanjut Lila, mengajak Natasya dah Ahsan untuk memasuki rumah.
Tiba di ruang tamu, Lila mempersilakan tamunya untuk duduk. Dia sendiri pergi ke dapur hendak mengambil makanan dan minuman. Tak berapa lama kemudian, Lila kembali dengan membawa nampan di kedua tangannya.
"Minumlah! Cuaca sangat panas hari ini. Ditambah lagi ... kalian sudah melakukan perjalanan jauh. Pasti haus," kata Lila, menawarkan minuman dingin kepada Natasya dan Ahsan.
"Alhamdulillah, Oma. Kebetulan Ahsan emang haus banget," seloroh Ahsan sembari meraih gelas miliknya.
"Ih, dasar Onta!" ledek Natasya.
"Biarin. Wew!" balas Ahsan, menjulurkan lidahnya.
Natasya semakin gemas melihat tingkah laku Ahsan. Dia pun melemparkan bantal sofa ke arah pemuda berjambang tipis tersebut.
Melihat tingkah kedua muda mudi itu, Lila tersenyum tipis. Dalam hati Lila berkata, sepertinya pasangan itu akan terlihat cocok jika kelak membina hubungan yang lebih dari sekadar sahabat.
.
.
Beberapa jam berlalu. Ahsan dan Natasya sudah keluar dari kamar masing-masing setelah beristirahat. Senja mulai turun, mereka berdua menghampiri Lila yang sedang menikmati suasana senja ditemani secangkir teh hangat.
"Boleh gabung, Oma?" pinta Natasya.
__ADS_1
Lila menoleh, senyumnya mengembang melihat Natasya dan Ahsan berdiri di ambang pintu.
"Kemarilah!" ajak Lila.
Natasya dan Ahsan mendekati Lila. Mereka pun duduk berdampingan dengan wanita tua itu. Di hadapan mereka, terdapat sebuah meja yang di atasnya ada teko kecil lengkap dengan cangkirnya.
Ahsan mengambil salah satu cangkir tersebut dan menuangkan teh ke dalamnya. Untuk sejenak, Ahsan menikmati aroma teh dengan indera penciumannya. Sesaat setelah itu, dia kemudian mereguk teh hangat tersebut.
"Emmh ... Ahsan enggak nyangka, ternyata Oma pandai membuat teh seenak ini," puji Ahsan, membuka pembicaraan.
"Siapa dulu, dong ... Oma gue gitu loh," timpal Natasya, merasa bangga.
Lila hanya tersenyum tipis mendengar pujian kedua anak itu. Tak lama berselang, perbincangan hangat pun terjadi di antara mereka.
"Saran Oma, jika memang suasana rumah sudah tidak kondusif lagi, sebaiknya kamu kuliah di luar kota saja, Nak. Seperti Ahsan," kata Lila.
"Ish, Oma. Otak Tasya tuh terlalu lemot dengan yang namanya angka dan manajemen. Belum lagi akuntansi, dan hal-hal yang berbau bisnis. Rasanya, kepala Tasya seolah mau meledak jika dosen sedang membahas neraca keuangan," keluh Natasya sembari mengerucutkan bibirnya.
"Ya, kuliah, 'kan enggak harus di jurusan itu saja, Nak. Masih banyak universitas lain dengan fakultas-fakultas yang berbeda, yang memang sesuai dengan bakat dan keinginan kamu," tukas Lila.
"Tetep aja, Oma. Kalaupun Tasya melanjutkan sekolah, itu harus di manajemen bisnis. Karena emang papa menginginkan seorang pewaris untuk bisnisnya," tutur Natasya.
"Emh, Sya ... gimana kalau lu kuliah di tempat gue aja. Lu ambil jurusan Ushuluddin tuh, biar balik kampung, lu bisa jadi ustadzah," usul Ahsan tanpa merasa bersalah.
.
.
Transaksi telah selesai. Tanpa merasa bersalah, Sukma meninggalkan Niram di rumah bordil milik Imelda. Senyum lebar terus menghiasi wajah tuanya.
Setelah keluar dari tempat maksiat itu, Sukma melajukan motornya menuju Bank terdekat. Nasib baik sedang menaunginya hari ini. Dengan uang hasil penjualan gadis tak berdosa itu, Sukma akhirnya bisa terlepas dari gangguan rentenir biadab seperti Bos Engkong.
.
.
Di tempat Imelda.
"Apa dia masih terdengar berisik?" tanya Imelda kepada dua bodyguard-nya.
"Enggak, Mih," jawab Togar, "sepertinya dia mulai kelelahan," imbuhnya.
"Hmm, baguslah kalau begitu," balas Imelda. "Togar, bilang sama Muniroh, supaya dia menyiapkan sepiring nasi lengkap dengan lauk pauknya. Setelah itu, kamu bawa piring tersebut ke kamarnya. Paham!" perintah Imelda dengan tegas.
__ADS_1
"Siap, Mih!" sahut Togar.
Sedetik kemudian, Togar pergi ke dapur untuk menjalankan perintah Imelda.
Di tempat penyekapan.
Niram telah sangat lelah berteriak. Tubuhnya terasa lemas. Tenggorokannya begitu kering, dan air mata pun mulai mengalir deras di kedua pipinya. Saat ini, dia hanya bisa pasrah pada takdir yang sudah ditetapkan untuknya.
Astaghfirullah ... astaghfirullah ... astaghfirullah ....
Niram hanya mampu beristighfar di dalam hatinya. Kalimat tasbih, takbir dan tahmid terus dia lafalkan. Berharap akan ada keajaiban yang membawanya keluar dari tempat ini.
Ya Tuhan ... tempat seperti apa ini? Kenapa ayahnya tante Imas membawa aku ke tempat seperti ini? Apa memang aku hendak diperjualbelikan? Tapi untuk apa? Apa untuk menjadi seorang TKW ilegal? Atau ... untuk menjadi wanita penghibur? batin Niram bergidik ngeri.
Brak!
Pintu terbuka dengan begitu kasar. Membuat Niram mendongak seketika. Minimnya cahaya yang masuk melalui daun pintu yang terbuka, membuat Niram sedikit memicingkan mata untuk melihat pria bertubuh tinggi kekar yang menghampirinya.
Nyali Niram menciut melihat wajah sangar pria itu. Dia pun sedikit beringsut saat si pria berjalan mendekatinya.
"Makanlah!" perintah Togar, sedikit melemparkan piring aluminium ke depan Niram.
"Si-siapa ka-mu? Ke-kenapa menyekap aku di sini? Siapa kamu?"
Niram memberanikan diri untuk bertanya. Namun, tatapan tajam pria itu, kembali membuat nyalinya menciut. Tatapan penuh seringai misterius.
Mendapatkan tatapan yang seolah sedang menelanjangi tubuhnya, Niram pun merasa risih. Dia membuka ikatan di kedua ujung hijabnya dan membiarkan tergerai hingga menutupi dada.
Niram menarik kedua kaki dan mendekapnya begitu erat. Dia benar-benar merasa dilecehkan dengan tatapan tajam pria bertato itu.
Togar sangat menikmati wajah Niram yang mulai ketakutan. Semakin diamati, kecantikan gadis di hadapannya semakin terlihat sempurna. Togar menyeringai licik ketika sesuatu terbersit di benaknya.
Hmm, tidak ada salahnya aku mencicipi sedikit, mungkin hal itu akan sedikit mengendurkan ketegangan urat sarafku, batin Togar masih menatap intens ke arah Niram.
Togar mendekati Niram. Tangan kanannya terulur untuk meraih dagu Niram.
Namun, dengan cepat Niram memalingkan wajah. Membuat tangan Togar hanya mampu menyentuh udara.
"Sialan! Kau ingin bermain-main dengan Bang Togar, hah?!" teriak Togar. "Baiklah gadis kecil. Kau rasakan ini!"
Togar menarik kerudung Niram hingga wajah Niram mendongak. Ranumnya bibir tipis berwarna merah jambu, membangunkan kelelakian Togar. Dengan cepat, Togar mendekatkan wajahnya untuk menyantap bibir tersebut. Tiba-tiba ....
Bugh!
__ADS_1