Tobatnya Primadona Malam

Tobatnya Primadona Malam
Siasat Jahat


__ADS_3

Tanpa sengaja, Imas menguping pembicaraan ketiga orang tua itu. Dan jujur saja, pembahasan mereka begitu menarik perhatian Imas. Dengan langkah mengendap-endap, wanita yang tengah hamil besar itu mendekati jendela dan berpura-pura duduk membaca majalah di ruang tamu.


"Harus bisa dipastiin dulu nih, harganya. Entar jeblok lagi," ucap Noor, terlihat jengkel.


Ya, Noor masih teringat kejadian beberapa tahun silam, ketika dia menyerahkan seorang anak perawan untuk bekerja di rumah bordil milik kawannya itu.


"Eh, sekate-kate lu ngemeng, Noor! Gue selalu bayar semua barang-barang yang lu jual dengan harga yang sepadan, ye!" Emosi Imelda.


"Apanya yang sepadan. Dulu juga gue kasih anak gadis, eh lu bayar dengan harga jande," tukas Noor.


"Hooh, gadis, tapi bolong duluan. Lu pikir gue enggak bisa bedain apa? Udah, deh ... kagak usah lu maen-maen lagi sama gue. Pokoknya, ada gadis ada cuan gede. Ngarti, lu!" tegas Imelda.


Noor hanya mencebikan bibirnya mendengar ketegasan terlontar dari mulut dower yang sudah terkena suntik silikon puluhan kali itu.


"Udah-udah, entar lu transaksi ama gue aja. Kagak usah bawa-bawa tuh emak-emak," timpal Sukma, menengahi perdebatan antara Imelda dan istrinya.


Imas yang menyimak dengan seksama pembicaraan mereka dari ruang tamu, terlihat manggut-manggut. Sepertinya, dia sudah mulai bisa mencerna arah pembicaraan ketiga orang paruh baya itu.


"Ya sudah, lu cariin dan langsung bawa ke tempat gue. Semakin cepat lu cari, makin cepat juga lu dapat duit. Paham!" tegas Imelda.


"Iye-iye," sahut Sukma.


"Kalau gitu, gue balik dulu," pamit Imelda seraya beranjak dari tempat duduknya.


Setelah Imelda pergi, pasangan suami istri itu pun memasuki rumahnya. Mereka tampak sedikit terkejut ketika melihat Imas sudah duduk manis di kursi tamu.


"Lu nguping obrolan kite, Mas?!" tuding Noor kepada anak sambungnya.


"Yaelah, kagak nguping juga dah kedengeran kali. Orang volume suara kalian ngomong tuh melebihi dangdutan kampung," celetuk Imas.


"Aih, emang kagak ada akhlak anak lu, Bang!" omel Noor.


"Kalian pada bisa diem kagak? Pala gue udah mau pecah denger kalian debat terus. Kagak kelar-kelar kalo gini mah urusannya. Huh, mana gue kudu nyari anak perawan lagi?" cerocos Sukma seraya memegang kepalanya yang plontos.


"Anak lu tuh yang mulai," adu Noor.


"Enak aja!" sewot Imas.


"Cukup-cukup! Kalau kek gini caranya, gue kagak bakalan dapet-dapet tuh gadis, karena harus ngurusin lu berdua yang recoknya minta ampun. Mana di zaman sekarang, nyari anak perawan tuh susah banget," gerutu Sukma.


"Susah dari mana, Bang? Di kampung kita, 'kan banyak anak gadis," timpal Imas.


"Hooh, tapi mereka semua itu gadis yang bukan perawan. Ngarti kagak sih lu,?!" Sarkas Sukma.


Noor hanya bisa diam.

__ADS_1


"Memangnya, berapa harga untuk seorang perawan, Pak?" tanya Imas yang mulai penasaran dengan pekerjaan yang dilakoni ayahnya.


"Banyak, Nak. Bisa ampe setengah miliar kalau gadisnya masih ABG," jawab Sukma.


Kedua bola mata Imas seakan hendak meloncat dari tempatnya saat mendengar uang dalam nominal milyar.


"Wah, bisa kagak usah kerja bertahun-tahun ini, mah," gumam Imas yang masih bisa didengar oleh ibu tirinya.


"Aih, jangan mimpi. Emangnya lu masih gadis? Orang bunting lu udah segede kebo hamil gitu," ledek Noor.


"Haish, Nyamber aja lu, kek petasan!" ketus Imas.


Sukma hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar ketika kedua perempuan itu kembali berdebat.


"Terserah lu-lu pade, dah! Gue mo nyari mangsa dulu," ucap pria plontos itu seraya pergi ke luar.


.


.


Setelah ayahnya pergi, Imas pun ikut pergi. Rasanya, pengap sekali harus berduaan di ruangan yang sama dengan ibu tirinya.


Imas memang tidak pernah akur dengan ibu sambungnya. Pasalnya, hubungan gelap ayahnya dengan Noor, terkuak pada saat ibunya Imas masih hidup. Bahkan, karena hubungan gelap mereka lah hingga akhirnya ibunda Imas terserang stroke. Setahun berjuang, tapi Tuhan memiliki rencana lain. Sang ibu meninggal tepat di saat ayahnya menikah siri dengan Noor. Karena hal itulah Imas membenci Noor.


Hmm, mungkin ada baiknya gue bantu bapak buat nyari anak perawan. Siapa tahu entar gue kecipratan uangnya, batin Imas yang sudah sangat senang membayangkan uang berwarna merah, berseliweran di kepalanya.


Tiba di rumah, Imas langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Memorinya mulai berkelana untuk mengingat siapa saja anak-anak gadis lulus sekolah yang ada di kampungnya. Namun, pikiran Imas terasa buntu. Dia tidak mampu mengingat satu pun dari nama-nama anak remaja di kampung tempat dia mengontrak rumah.


"Huh, begini nih jadinya kalau enggak pernah gaul," gerutu Imas penuh sesal.


"Permisi, Tan. Apa Niram boleh minta izin untuk pergi ke warung sebentar? Niram mau beli bumbu dapur dulu." Izin Niram dari balik pintu kamar Imas.


Tiba-tiba, seringai licik tersungging di bibir Imas setelah mendengar suara keponakannya. Siasat jahat pun mulai menggelayut dalam pikiran Imas.


"Ah ya ... sekarang aku punya ide," gumam Imas tersenyum lebar.


"Pergilah, Ram!" sahut Imas dari dalam kamar.


Tak lama setelah tidak terdengar suara dari balik pintu kamar. Imas segera meraih ponsel di atas nakas. Jarinya mulai lincah menari di atas keypad ponsel tersebut.


Ting!


Beberapa menit kemudian, notifikasi pesan WhatsApp masuk di ponsel Imas.


Ya sudah. Besok kamu ajak dia ke rumah Bapak. Bunyi pesan tersebut.

__ADS_1


Ish, bagaimana Imas mengajaknya, Pak?


Imas membalas pesan ayahnya.


Ting!


Notifikasi pesan masuk kembali. Imas mengusap layar ponsel untuk membacanya.


Bilang saja ada teman Bapak yang butuh pelayan kafe. Lu bujuk dia dah, pinter-pinter lu ngomong. Setelah orangnya tiba di rumah Bapak, itu biar jadi urusan Bapak.


Pesan Sukma


Oke, Pak!


Selesai membalas pesan ayahnya. Imas meletakkan kembali ponsel di atas nakas. Bayangan rupiah menghampiri hidupnya. Membuat senyum Imas kembali mengembang. Imas yakin jika harga yang dipatok atas diri keponakannya, pastilah sangat menggiurkan.


Hmm, selain bisa melunasi hutang pada bos Engkong, aku tidak perlu pusing-pusing lagi mikirin biaya lahiran si kembar, batin Imas seraya mengusap-usap perutnya.


Saat Imas tengah asyik melamun. Tiba-tiba ponselnya berdering cukup nyaring. Imas kembali mengambil benda pintar tersebut.


Bang Halim? Hmm, ada apa bang Halim menelepon? batin Imas seraya menggeser tombol jawab.


"Halo, Bang?"


"Assalamu'alaikum, Mas!" sapa Halim di ujung telepon.


"Wa'alaikumsalam," jawab Imas dengan nada kesal.


"Biasakan mengucap salam, Mas kalau terima telepon itu!" Nasihat Halim.


"Iya-iya, maaf. Imas lupa," sahut Imas. "Ngomong-ngomong, ngapain Abang telepon?" lanjutnya.


"Kemarin ada jawaban panggilan dari kantor yang Niram pernah wawancara. Katanya Niram keterima kerja sebagai cleaning service di sana. Dan Senin besok, Niram sudah bisa bekerja," papar Halim. "Tolong kamu sampaikan padanya ya, Dek!" pinta Halim.


"Be-benarkah?" tanya Imas, kaget. Bayangan rupiah pun hancur berkeping-keping dalam benak Imas.


"Iya, tolong sampaikan ya, Mas. Kasihan, Niram pasti sudah menunggu-nunggu kabar bahagia ini," lanjut Halim.


"Hmm." Hanya dehaman yang keluar dari mulut Imas.


"Ya sudah, Abang tutup dulu teleponnya ya, Dek! Jaga diri baik-baik. Assalamu'alaikum!" pungkas Halim.


Imas tidak menyahuti salam suaminya. Pikirannya seketika kacau mendengar panggilan kerja untuk keponakan suaminya.


Hmm, sebaiknya tidak usah aku beri tahu saja, toh bang Halim sendiri masih lama pulang dari pelatihan kepemimpinannya, batin Imas.

__ADS_1


__ADS_2