Tobatnya Primadona Malam

Tobatnya Primadona Malam
Berusaha Melenyapkan


__ADS_3

Di bawah pengaruh alkohol, Niram menangis sejadi-jadinya. Semua hinaan yang dilontarkan pria bertubuh gempal itu, telah begitu melukai Niram hingga ke dasar hati. Sampai-sampai Niram pun nekat menyentuh minuman keras.


Yura hanya bisa terpaku menatap sahabatnya. Masa itu kembali terjadi. Masa kelam yang dulu hampir membuat dirinya nyaris bunuh diri.


Inilah yang gue takutkan, Nir. Karena inilah gue ngelarang lu pergi. Maafin gue, karena gue enggak bisa menjadi pelindung lu, batin Yura menatap Niram yang masih menangis sesenggukan di atas sofa.


Cukup lama Yura berdiri memperhatikan gadis malang itu. Hingga setelah isak tangis Niram reda, Yura pun menghampiri Niram.


Yura mengambil botol minum dari tangan Niram. Dia lantas menaruhnya di atas meja. Yura membenahi rambut Niram yang tergerai tak karuan. Kedua matanya terlihat sembab akibat menangis.


“Ayo, Nir. Gue bantu lu ke kamar,” ucap Yura seraya meraih tangan kanan Niram dan mulai melingkarkannya di atas tengkuk.


Perlahan, Yura mulai berdiri dan memapah Niram untuk pergi ke kamar. Tiba di kamar, Yura membantu Niram untuk berbaring.


Wanita yang tengah hamil itu sudah seperti maayat hidup saja. Matanya menatap lurus langit-langit kamar.


Dengan telaten, Yura melepaskann sepatu Niram. Dia juga menghapus make up Niram yang sudah berantakan akibat menangis. Lepas itu, Yura pergi ke kamar mandi untuk mengambil air hangat. Dia hendak mennyeka tubuh Niram yang berkeringat.


Tak lama berselang, Yura kembali dengan membawa wadah berisi air hangat, lengkap dengan waslapnya. Dia melihat Niram telah memejamkan mata. Akan tetapi, Yura tetap berniat membersihkan tubuh Niram.


Perlahan, Yura mulai melucuti pakaian Niram satu per satu. Setelah itu, dia pun mulai menyeka tubuh Niram, mulai dari wajah hingga ujung kaki.


Niram diam. Entah apakah ia sudah tidur atau belum. Namun, gadis malang itu tidak bereaksi apa-apa atas sikap Yura.


Selesai membersihkan tubuh Niram. Yura memakaikan piyama kepada Niram. Setelah itu, dia kembali ke kamar mandi untuk membuang air kotor bekas menyeka tubuh Niram.


“Tidurlah, Nir,” ucap Yura sesaat sebelum dia keluar dari kamar.


.


.


Karena selalu terbayang dengan kenangan istrinya, Halim memutuskan untuk pindah kontrakan. Sekarang, dia tinggal di kontrakan dekat rumah Sugistiawan. Degan begitu, Halim berharap kedua ankanya bisa sekalu dekat.


“Oh iya, Lim. Gue sama mpok lu berniat untuk mengadakan aiqah Khansa. Apa lu keberatan?” tanya Sugistiawan.

__ADS_1


“Tentu saja aku tidak keberatan, Bang. Tapi biarkan aku yang membeli kambingnya,” jawab Halim.


“Rnggak usah, Lim. Khansa itu sudah menjadi tanggung jawab gue sama Leha. Lu kalau punya duit, tabung aja, Lim. Buat masa depan Rayyan,” tutur Sugistiawan.


"Tapi, Bang."


"Sudah. Nanti sepulang kerja, bantu Abang cari kambingnya, ya. Mau, kan?" pinta Sugistiawan.


"Ish, pake ditanya lagi. Ya pasti mau lah, Bang. Bukankah Khansa juga anak saya," kata Halim.


Sugistiawan hanya tersenyum lebar. "Ya sudah, kalau gitu Abang kerja dulu," lanjutnya.


.


.


Tanpa terasa, sudah hampir dua pekan Niram mengurung di rumah. Gairah hidupnya seakan sirna. Sepertinya, Niram sudah tidak punya keinginan untuk melakukan apa pun. Jika tidak diperintahkan, dia tidak akan mau makan ataupun membersihkan dirinya.


Tubuhnya kini mulai terlihat kurus. Hanya perutnya saja yang sedikit buncit. Mungkin karena kehamilannya sudah memasuki enam bulan.


Seperti hari ini, Niram terkulai lemah setelah menangis histeris atas pergerakan bayinya. Setelah merasa lelah, biasanya dia akan tertidur pulas hingga berjam-jam.


"Gue mohon, Nir. Jangan seperti ini. Lu boleh tidak menyayangi anak itu, tapi lu harus sayang sama diri lu sendiri. Gue enggak sanggup lihat lu seperti ini, Nir. Sakit rasanya, Nir. Ini sangat menyakitkan." Lirih Yura.


Niram memejamkan mata. Sebenarnya, dia bukan tidak mendengar perkataan Yura. Dia dengar ... bahkan mendengarnya dengan sangat jelas. Namun, Niram menulikan telinganya. Dia sudah tidak ingin merasakan apa pun lagi di dalam hidup.


Malam semakin merangkak. Pergerakan di perut Niram semakin kerap terasa. Niram mengerjap. Sekelebat hinaan pria gendut itu kembali melintas di benaknya.


"Aku benci anak ini! Gara-gara anak ini, semua orang mencemoohku. Gara-gara anak ini, pria itu menghinaku. Aku benci, aku membencinya!" racau Niram.


Niram bangun. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Entah apa yang dia cari. Tiba-tiba, pandangannya terkunci pada sebuah vas bunga yang berada di atas meja.


Niram menyeringai. Dia menyibakkan selimut dari atas tubuhnya. Sedetik kemudian, Niram beranjak dari tempat tidur.


Terseok-seok Niram mendekati meja yang berada di dalam kamar. Dia meraih vas bunga yang cukup besar. Kemudian mengeluarkan bunga hiasan dari dalam vas tersebut.

__ADS_1


Niram meraih vas bunga berbentuk silinder yang terbuat dari kaca bening yang tebal. Kedua matanya terpejam. Kedua tangannya mulai terangkat. Dengan cepat, Niram menghantamkan vas bunga tersebut ke bagian perutnya secara berulang-ulang.


"Aku benci anak ini! Aku membencinya! Aku sangat membencinya. Dasar anak pembawa sial! Mati kamu! Matilah!"


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Niram terus berteriak histeris mengungkapkan kebenciannya terhadap anak yang sedang dikandungnya. Dia mengutuknya seraya terus menghantamkan vas bunga sekuat tenaga.


Entah berapa lama dia melakukan hal tersebut. Hingga darah pun mulai mengalir melewati kedua betisnya. Namun, seperti orang kesetanan, Niram terus memukuli perutnya dengan benda tumpul tersebut.


"Aku membencimu! Aku membencimu!" teriak Niram.


Sementara itu, di teras rumah.


Yura yang baru pulang kerja, sangat terkejut begitu mendengar teriakkan Niram. Dia pun segera membuka kunci pintu rumahnya.


Yura mempercepat langkahnya menuju kamar. Tiba di kamar, Yura sangat terkejut melihat reaksi Niram yang masih terus menghantamkan benda tumpul di bagian perutnya


Melihat darah mulai berceceran di atas lantai, Yura semakin kalut. Dia segera berlari untuk menghentikan kegilaan Niram yang sedang berusaha melenyapkan anak dalam kandungannya.


"Hentikan Niram!" teriak Yura sembari merampas vas bunga itu dari tangan sahabatnya.


"Kembalikan, Mbak. Biar aku bunuh anak sialan ini. Aku tidak menginginkannya. Aku membencinya!"


Niram kembali berteriak. Dia berusaha untuk menggapai vas bunga yang sedang dipegang Yura.


"Dasar gila!" pekik Yura.


Prang!


Niram terhenyak. Sesaat dia menatap putranya yang masih terpejam. Jari telunjuk Niram mengelus lembut pipi gembul anaknya.

__ADS_1


"Aku sudah berusaha, Mas. Bahkan jauh sebelum aku bertemu dengan kamu, aku sudah berusaha untuk melenyapkan anakku. Namun, Tuhan tidak menghendakinya, Mas. Dan sekarang aku paham, kenapa Tuhan tidak menghendaki anak ini mati. Semua itu karena anak inilah penguat aku. Dialah yang menjadi sumber ketegaran aku dalam menjalani hidup ini," gumam Niram seraya mengecup kening putranya.


__ADS_2