Tobatnya Primadona Malam

Tobatnya Primadona Malam
Mengalah


__ADS_3

Niram hendak menyusul Alfaruk yang semakin cepat mengayunkan langkah kakinya. Namun, rasa kram di perutnya, memaksa Niram untuk menghentinkan langkah. Sedetik kemudian, Niram berjongkok karena tak sanggup menahan rasa sakit yang mendera perutnya.


“Niram!” teriak Yura saat melihat Niram merintih kesakitan seraya berjongkok. “Lu enggak pa-pa? masih sanggup jalan?” tanya Yura.


Niram mengangguk lemah. Dengan dibantu oleh Yura, Niram kemudian berdiri dan berjalan menuju ranjangnya.


“Di-dia pasti sangat marah, Mbak,” ucap Niram seraya menatap sendu ke arah Yura.


Yura memeluk Niram. “Udahlah, enggak usah terlalu dipikirkan. Mungkin dia hanya kaget,” ucap Yura, mencoba menenangkan hati sahabatnya.


Tak sanggup memnahan perasaan bersalahnya, Niram kemudian menangis dalam pelukan Yura.


“Sudahlah, Nir. Jaga emosi kamu, jangan sampai bayi kamu kenapa-napa nantinya,” lanjut Yura.


Niram melepaskan pelukannya. Sesaat, dia menatap perutnya yang masih terlihat datar.


“Semua ini gara-gara anak sialan ini!” rutuk Niram terhadap anak yang masih berada dalam kandungannya.


“Ish, Niram. Tenanglah dulu. Anak ini tidak bersalah. Bukan kemauan dia hadir di rahim lu. Jadi stop! Jangan terlalu menyalahkan anak lu. Paham!” tegas Yura.


Niram diam. Apa yang dikatakan Yura memang benar. Bukan keinginan anak ini untuk hadir di dalam rahimnya. Akan tetapi, dia juga tidak punya keinginan untuk mengandung anak hasil dari rudapaksa.


Ya tuhan … apa salahku higga Engkau menghukum aku seperti ini? batin Niram, perih.


.


.


Setelah mendengar kenyataan yang ada, Alfaruk merasa terpukul. Dia tidak menyangka jika wanitanya, tengah mengandung anak orang lain. Itu memang bukan kemauan dia, tapi ini juga bukan kemauan Alfaruk.


Pria itu terus melangkahkan kakinya menuju lift. Tak lama setelah pintu lift terbuka, Alfaruk memasukinya dan menekan lantai dasar sebagai tujuannya. Untuk sejenak, Alfaruk ingin menghindar dari wanita dan istrinya.


.


.


Setelah berhasil membeli obat pereda sakit untuk suaminya, Karen kembali ke rumah sakit. Dia tidak ingin meninggalkan suaminya terlalu lama. Meskipun Karen tidak tahu, suaminya akan menerima kehadiran dia atau tidak. Namun, Karen tidak peduli. Selama dia mampu, dia akan selalu melayani semua kebutuhan sang suami.

__ADS_1


Tiba di rumah sakit, Karen menemui perawat senior untuk menyerahkan obat tersebut. Bagaimanapun, hanya perawat yang sangat mengetahui dosis obat yang harus dikonsumsi suaminya.


“Ini obatnya, Sus,” ucap Karen seraya menyerahkan obat langka tersebut.


“Ah, ya terima kasih. Nanti saya akan berikan bersamaan dengan obat yang lainnya,” jawab perawat itu.


Setelah selesai memberikan obatnya, Karen kemudian kembali ke kamar rawat untuk menjaga suaminya.


tiba di ruang rawat, Karen terkejut saat tidak melihat suaminya.


"Ah, mungkin Mas Brama sedang berada di kamar mandi," gumam Karen seraya mengayunkan langkahnya menuju kamar mandi.


Ceklek!


Karen membuka pintu kamar mandi. Namun, sedetik kemudian dahinya mengernyit saat tidak mendapati suaminya di ruangan tersebut. Bahkan lantai kamar mandi pun terlihat masih kering, pertanda belum ada seorang pun yang masuk dan menggunakannya.


Karen kembali menutup pintu kamar mandi. Untuk beberapa detik, dia hanya bisa terpaku di samping ranjang Alfaruk.


Apa mungkin mas Brama menemui wanita itu? batin Karen.


Setelah meyakini kemungkinan yang ada, Karen pun mengayunkan langkahnya menuju ruang rawat wanita yang menjadi selingkuhan suaminya.


Tiba di depan pintu kamar Niram, Karen menghentikan langkahnnya. Samar-samar, dia mendengar percakapan antara wanita dari dalam kamar. Namun, setelah menunggu beberapa menit, tidak sedikt pun Karen menndengar percakapan antara pria dan wanita dari dalam kamar tersebut. Itu artinya, kemungkinan, suaminya memang tidak berada di sana.


Saat Karen hendak memasuki kamar, tiba-tiba seseorang keluar dari kamar rawat Niram. Karen segera berlari untuk bersembunyi.


"Huh, dasar pria egois! Bisa-bisanya dia menyalahkan Niram atas kehamilannya yang tidak dia ketahui. Uh, baguslah dia pergi. Kalau tidak, seumur hidup Niram hanya akan menjadi budaknya saja. Mentang-mentang orang kaya, menyebalkan!” gerutu Yura seraya berlalu pergi.


Karen mematung di balik dinding pembatas. Kedua lututnya seakan tak bertulang setelah mendengar kebenaran tentang wanita itu.


“Ha-hamil? Ja-jadi mas Brama memiliki keturunan dari perempuan itu? batin Karen.


.


.


Dengan bantuan dari asistennya, Alfaruk tiba di kantor. Dia pun mengunci diri di dalam rungannya. Bahkan Daren, orang kepercayaannya pun, dia larang untuk memasuki ruangannya.

__ADS_1


Ish, ada apa dengan si bos? Kenapa dia hanya mengenakan pakaian rumah sakit saja? Apa dia tengah menjalani perawatan di rumah sakit dan menghindar? batin Daren.


“Ah, sebaiknya aku hubungi nyonya Karen saja,” gumam Daren.


Sementara itu, di dalam ruangannya. Alfaruk hanya duduk membisu di kursi kebesaran miliknya. Kedua matanya hanya menatap kosong langit-langit ruang kerja. Entahlah, Alfaruk merasa hampa. Baru kali ini dia merasa sakit hati oleh seorang wanita.


Kenapa, Niram? Kenapa di saat aku mulai merasa nyaman denganmu, kau malah merampas kembali kenyamanan itu? Kenapa kau tega menghianati aku? kenapa? batin Alfaruk terasa sesak.


“Aaargh!”


Brak!


Alfaruk berteriak. Kedua tangannya menyapu bersih benda-benda yang ada di atas meja kerjanya. Tak ayal lagi, benda-beda itu pun jatuh dan hancur berantakan di lantai.


Brugh!


Prang!


Tidak puas sampai di sana, Alfaruk kemudian memukul meja sekuat tenaga, hingga lapisan kaca di atasnya, pecah.


“Dasar wanita murahan!” umpat Alfaruk penuh emosi.


.


.


Di rumah sakit umum.


“Apa kamu yakin jika mas Brama ada di kantor?” tanya Karen kepada asisten suaminya.


“Iya, Bu saya yakin sekali. Orang bapak sendiri yang berpesan kepada saya agar tidak mengganggunya. Sepertinya, bapak sedang ada masalah berat, Bu. Karena itu dia mengurung diri di ruangannya," tutur Daren.


“Iya, Dar. Sepertinya bapak memang sedang memiliki masalah yang cukup pelik. Biarkan saja dan jangan ganggu dia. Awasi saja, takut kalau bapak melakukan hal-hal yang tidak diharapkan," timpal Karen.


“Baik, Bu,” pungkas Daren di ujung telepon.


Setelah mendapatkan kabar tentang keberadaan suaminya, Karen pun memmutuskan untuk membayar semua administrasi kepulangan sang suami. Setelah itu, dia memutuskan untuk pulang ke rumahnya.

__ADS_1


Seperti sang suami, Karen juga butuh waktu untuk menyendiri dan menenangkan diri. Berita kehamilan wanita simpanan suaminya, telah membuat Karen benar-benar merasa shock.


Aku memang tidak akan pernah sanggup kehilangan mas Brama. Namun, jika dia memilih pergi demi anak yang sedang ada di dalam rahim wanita itu, aku bisa apa. Mungkin … mengalah adalah jalan yang terbaik bagi hubungan tanpa cinta ini, batin Karen, perih.


__ADS_2