Tobatnya Primadona Malam

Tobatnya Primadona Malam
Menjadi Simpanan


__ADS_3

Niram memejamkan kedua matanya, merasakan sensasi antara sakit dan nikmat yang luar biasa akibat hentakan demi hentakan yang dilakukan Alfaruk secara kasar. Entah apa yang menggangu pikiran pria itu. Sehingga raut wajahnya terlihat begitu marah.


Kedua tangan Niram mulai meremas sprei karena menahan rasa sakit. Wajahnya terlihat pucat. Rasa lelah bercampur sakit yang menderanya, membuat tubuh Niram semakin lemas.


Sadar telah menyakiti wanitanya, seketika Alfaruk menghentikan permainan. Pria itu menjatuhkan diri di samping Niram.


"Jangan membuat aku marah lagi, atau kau tidak akan pernah bisa membayangkan ketika aku melampiaskan kemarahanku," gumam Alfaruk seraya menatap kosong langit-langit kamar.


"A-aku ti-tidak mengerti, apa yang sebenarnya membuat Tuan merasa marah padaku?" tanya Niram polos.


Alfaruk menyampingkan tubuhnya. Dia kemudian mendekap erat tubuh Niram. Wajahnya dia benamkan di ceruk leher wanita itu.


"Katakan jika kau hanya milikku, Niram. Katakan jika kau hanya akan melayani aku. Katakan jika kau hanya akan datang untukku." Lirih Alfaruk seraya mengecup ceruk leher Niram. "Berapa pun uang yang kamu butuhkan, aku akan memberikannya. Tapi katakan jika kau hanya akan menikmati malammu bersamaku," imbuhnya.


Mendengar kata uang. Hati Niram mulai tergiur. Tidak munafik, jika dia sangat membutuhkan benda itu untuk kelangsungan hidupnya. Sejenak, Niram mulai menggerakkan tubuhnya agar bisa menatap wajah pria itu.


"Apa benar, Tuan akan memenuhi semua kebutuhan hidupku?" tanya Niram.


Alfaruk mengangkat wajahnya. Dia menatap kedua bola mata wanita yang masih belia itu.


"Tentu saja, Niram. Kau telah memberikan aku surga yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Tentu saja aku akan membayar sepadan dengan apa yang telah kau berikan padaku," jawab Alfaruk.


"Jika aku tidak boleh memberikan kepuasan kepada lelaki lain, lalu ... maukah Tuan menikahi aku?" tanya Niram, dingin.


Deg!


Alfaruk tidak menyangka jika wanitanya akan berkata demikian.


"Tidak mungkin, Niram! Aku sudah menikah, bagaimana bisa aku mengkhianati pernikahan aku!" tegas Alfaruk.


Niram tersenyum kecut. Tidak bisa mengkhianati pernikahan, tapi nyatanya sering jajan di luar. Apa itu namanya bukan mengkhianati pasangan? batin Niram menyeringai.


"Tuan tidak ingin mengkhianati pernikahan. Namun, kenyataannya Tuan tengah mengkhianati istri Tuan dengan menghabiskan malam bersamaku. Lantas, apa jaminannya jika Tuan tidak akan mengingkari janji Tuan untuk memenuhi semua kebutuhanku. Bukankah aku tidak punya hak atas diri Tuan?" tekan Niram.


Sejenak, Alfaruk diam. Dia mencoba mencerna kalimat demi kalimat yang terucap dari bibir tipis yang telah menjadi candunya.

__ADS_1


"Baiklah, akan aku jadikan engkau sebagai wanita simpananku. Kau berhak atas diriku, uangku dan juga tubuhku. Apa sekarang kau senang?" balas Alfaruk.


Urat malu Niram sepertinya sudah putus. Wanita itu kembali membenarkan posisinya hingga salah satu bukit kembarnya menempel di ujung bibir Alfaruk.


"Tidak mungkin aku menolak tawaranmu, Tuan," ucap Niram seraya mengecup hangat kening pria yang kini menjadi sugar daddy-nya.


Mendapatkan perlakukan menantang, senjata Alfaruk kembali menegang. Dengan sekali terkam, dia melahap penuh puncak salah satu bukit kembar milik wanita yang berhasil diklaim sebagai simpanannya. Pada akhirnya, lenguhan dan erangan hebat, kembali menggema di kamar hotel.


.


.


Halim mengecup putrinya sebelum memberikan kepada istri dari sahabatnya. Jauh di lubuk hatinya, Halim merasa tidak ikhlas harus berpisah dengan darah dagingnya sendiri. Akan tetapi, Halim tidak punya pilihan lain. Imas telah tiada, akan sulit bagi Halim untuk mengasuh bayi.


Dititipkan di kedua orang tua Imas pun, bukan pilihan terbaik. Bahkan, sebelum Halim berbicara, Noor sudah mengikrarkan diri jika dia keberatan untuk mengasuh anak-anak dari anak sambungnya, yaitu mendiang Imas.


"Tolong jaga dia, Mpok. Saya yakin Abang dan Mpok akan menyayangi bayi ini seperti menyayangi anak sendiri," tutur Halim seraya menyerahkan Khansa kepada istrinya Sugistiawan.


"Tentu saja, Lim. Mpok sama Abang lu, bakalan ngerawat anak lu dengan baik. Kita bakalan anggap dia sebagai anak kandung kita sendiri. Bukan begitu, Bang?" balas Leha.


"Iya, Bang. Halim percaya sama Abang dan Mpok. Kalau begitu, Halim pamit pulang dulu, Bang. Nanti kalau punya waktu luang, Halim pasti main kemari," pungkas Halim yang dijawab oleh anggukan Sugistiawan dan istrinya.


Dalam menuju perjalanan pulang, air mata Halim tidak henti-hentinya luruh. Teringat akan kenangan mendiang Imas yang begitu mendambakan anak perempuan.


Maafkan Abang, Mas. Abang tidak bisa menjaga putri kita. Abang tidak punya pilihan lain. Bagaimanapun, dia masih sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu. Dan untuk saat ini, Abang tidak bisa menjadi ayah sekaligus ibu bagi anak kita. Abang belum mampu, Mas, batin Halim.


Rayyan yang bisa melihat ayahnya menangis dalam diam, sontak melingkarkan kedua tangannya di pinggang Halim. Meskipun usianya masih sangat muda, tapi Rayyan bisa merasakan semua kepedihan ayahnya.


"Jangan khawatir, Pa. Rayyan janji, setelah Rayyan dewasa nanti, kita akan membawa adek bayi pulang ke rumah," gumamnya yang masih bisa didengar oleh Halim.


Tangan kiri Halim menggenggam erat kedua tangan mungil anaknya. Hatinya kembali sakit membayangkan bocah kecil itu harus bersikap dewasa sebelum waktunya.


.


.

__ADS_1


Selepas dzuhur, taksi online yang ditumpangi Niram, tiba di depan rumah Yura. Setelah membayar ongkos taksinya, tertatih-tatih Niram berjalan menuju halaman rumah sahabatnya itu.


Perlahan, Niram mengetuk pintu depan rumah Yura. Tenaga Niram sepertinya sudah terkuras habis oleh adegan-adegan panasnya. Karena itu, dia tidak punya kekuatan lagi untuk sekadar mengucap salam.


"Iya, sebentar!" teriak Yura dari dalam rumahnya.


Ceklek!


Pintu terbuka. Tampak seorang wanita yang masih berwajah bantal, berdiri di hadapan Niram. Kedua bola mata Yura membulat sempurna tatkala melihat Niram yang sudah lemah tidak berdaya.


"Apa kabar, Mbak? Aku pu–"


"Eh, awas!"


Yura menangkap Niram yang sudah limbung. Dia kemudian memapah Niram memasuki kamarnya.


Sepertinya, gadis malang ini terlalu lelah bekerja, batin Yura menatap Niram yang sudah berbaring tak berdaya.


Yura pergi ke dapur. Dia membuatkan minuman tradisional air kunyit dicampur madu untuk kembali menyegarkan tubuh Niram. Dipercaya jika minuman tersebut bisa menjadi penambah daya tahan tubuh alami.


"Minumlah!" titah Yura seraya menyodorkan gelas berisi air kunyit tersebut.


Bersusah payah, Niram mencoba untuk bangun. Dia kemudian menyandarkan punggungnya pada dashboard ranjang. Tak lama berselang, Niram mengambil gelas itu dan mereguk isinya. Dahi Niram berkerut tatkala merasakan rasa yang asing dari isi gelas tersebut.


"Apa ini, Mbak?" tanya Niram.


"Itu air kunyit. Sangat bagus untuk mengembalikan stamina lu," jawab Yura.


Niram tersenyum tipis. Dia tidak pernah menyangka jika dia akan bertemu dengan orang sebaik Yura.


"Lu enggak pulang ke tempat Mama Rossa?" tanya Yura.


"Niram sudah minta izin untuk tinggal di tempat Mbak. Lagi pula, Mas Alfar sudah menebus Niram dari Mama Rossa," jawab Niram.


"Mas Alfar? Menebus? Apa maksudnya, Nir?"

__ADS_1


__ADS_2