Tobatnya Primadona Malam

Tobatnya Primadona Malam
Hancur


__ADS_3

Niram yang sudah tidak berdaya akibat mengalami rudapksa, hanya mampu terbaring lemah. Niram sempat tidak sadarkan diri ketika pemuda itu menggagahinya secara kasar. Dan ketika dia membuka matanya, pemuda itu sudah tidak kelihatan batang hidungnya. Hmm, entah ke mana perginya si pemuda bejat tersebut.


Selama beberapa menit setelah sadar, Niram hanya bisa terbaring. Seluruh tubuhnya terasa kaku. Dia hanya menatap kosong langit-langit kamar. Desir angin yang menusuk kulitnya pun, tidak dia rasakan.


Niram masih shock dengan apa yang telah menimpanya. Hingga lolongan anjing yang terdengar dari kejauhan, membawa Niram dari alam bawah sadarnya.


Perlahan, Niram mulai menggerakkan kedua tangannya. Lambat laun tubuhnya pun mulai terangkat. Sedikit demi sedikit, Niram menggeser posisi duduk hingga punggungnya menyentuh sandaran ranjang. Dia menatap nanar bercak-bercak darah di atas sprei yang tertimpa remangnya cahaya bulan. Niram sudah tidak mampu menangis lagi. Air matanya mulai kering seiring mengeringnya darah keperawanannya yang berceceran di atas sprei.


Lolongan anjing mulai mendekat. Dengan susah payah, Niram beranjak dari atas ranjang. Rasa sakit di farajnya tidak dia hiraukan. Satu yang pasti, dia harus segera pergi dari rumah tua yang menjadi saksi bisu tindakan bejat seorang pemuda bajingan.


Dengan langkah tertatih, Niram mulai menuruni anak tangga satu per satu. Sesekali, Niram membenahi blousenya yang sudah robek di sana sini. Rok plisket miliknya pun sudah tampak compang-camping. Namun, Niram tidak punya pilihan lain. Dia terpaksa mengenakan pakaian tidak layak pakai itu daripada harus keluar tanpa busana.


Tiba di luar, Niram mengedarkan pandangannya. Halaman rumah tua itu begitu luas. Gelapnya suasana malam, semakin membuat Niram kesulitan untuk melihat jalan di balik tembok pembatas halaman rumah.


Auuugghhh...!


Guk-guk-guk!


Lolongan anjing mulai kembali terdengar. Bahkan kali ini saling bersahutan. Rasa takut mulai menyergap Niram. Seluruh pori-pori tubuhnya meremang. Tak ayal lagi, Niram segera berlari untuk keluar dari halaman rumah tua itu. Tiba di luar gerbang, dia mulai kebingungan mengambil arah jalan yang harus dia lalui.


Auuugghhh....!


Lagi-lagi, lolongan anjing kembali terdengar.


"Aku harus segera pergi dari sini. Aku harus pulang!" gumam Niram seraya mengayunkan langkahnya memilih jalur kanan.


Pulang? Tapi ke mana aku harus pulang? Hidupku telah hancur. Tidak mungkin aku pulang dalam keadaan seperti ini. Monolog Niram dalam hatinya.


Sekelebat senyum orang tua saat melepasnya pergi, kembali melintas.


Tidak! Aku tidak bisa menghilangkan senyum mereka. Ada banyak harapan yang mereka gantungkan padaku. Haruskah aku menghancurkan harapan mereka dengan kenyataan seperti ini? Tidak! Aku telah hancur, tapi aku tidak bisa menghancurkan hati mereka. Aku tidak mau pulang dengan keadaan begini. Aku tidak ingin mereka menanggung malu karena memiliki anak yang sudah tidak berharga. Sudah tidak memiliki masa depan. Aku tidak mau!


Batin Niram terus berperang. Langkah kakinya semakin cepat, meskipun tanpa tujuan. Rasa sakit dan lelah sudah tidak dihiraukannya. Hingga tiba-tiba, kepala Niram terasa berat. Matanya mulai berkunang-kunang. Dadanya terasa sakit.


Ya Tuhan, apa kematian akan segera menjemputku? Hmm, itu lebih baik daripada aku hidup dalam kehinaan, batinnya seraya tersenyum tipis.


Brugh!


Niram terjatuh. Hingga sepersekian detik kemudian, dia pun tak mampu mengingat apa-apa lagi.

__ADS_1


.


.


Dering telepon yang begitu nyaring, membangunkan Ahsan dari tidurnya. Sejak semalam, Ahsan tidak mampu memejamkan mata. Kalimat lirih yang diucapkan seorang gadis bermata sayu itu, membuat Ahsan tidak bisa tidur. Hingga menjelang dini hari, rasa kantuk baru menghampiri.


Ahsan menggeliat untuk meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Namun, saat sinar matahari menyilaukan matanya, Ahsan terkejut.


Apa ini sudah siang? batin Ahsan sembari menyambar jam beker di atas meja kecil di samping ranjang.


"Jam 7!" pekik Ahsan, "astaghfirullah, aku kesiangan!" lanjutnya seraya beranjak dari tempat tidur.


Ahsan berlari pontang-panting menuju kamar mandi. Matahari sudah menampakkan dirinya. Namun, Ahsan belum menunaikan kewajibannya. Karena itu dia terburu-buru ke kamar mandi untuk berwudhu.


Biarlah terlambat, yang penting shalat daripada tidak sama sekali, batin Ahsan seraya mengangkat tangannya untuk melakukan takbir.


.


.


Sementara itu di lain tempat.


"Ih, ke mana perginya nih bocah? Masak belum bangun sih? Ini, 'kan udah siang," gerutu Natasya seraya melemparkan ponselnya ke sembarang arah.


"Kamu kenapa sih, Nak? Kok kelihatan kesal begitu," tanya Lila yang sedang mengantarkan sarapan untuk cucunya.


"Ish, Oma ... sarapannya enggak perlu diantarkan ke sini juga, 'kan. Nanti kalau udah lapar, Tasya pasti ke ruang makan, kok."


Bukannya menjawab pertanyaan Lila, Natasya malah merengut karena Lila masih melayaninya seperti anak kecil.


"Nunggu kamu lapar itu lama, Sya. Kamu emang enggak pernah memperhatikan kondisi tubuh kamu sendiri," gerutu Lila. "Ayo mendekat, biar Oma suapi," imbuhnya.


"Omaaa ..." rengek Natasya seraya menghampiri nenek tercinta.


"Kamu telepon Ahsan?" tanya Lila ketika melihat posisi benda pipih yang tergeletak begitu saja di atas ranjang.


"Iya, Oma. Tapi enggak diangkat juga, enggak tahu lagi ngapain tuh anak," jawab Natasya.


"Sya, kenapa kamu enggak terima tawaran Ahsan saja," lanjut Lila.

__ADS_1


"Maksud Oma?" Natasya balik bertanya seraya mengerutkan keningnya.


"Iya, kamu kuliah di tempatnya," imbuh Lila.


"Aih Oma ... Tasya sudah bilang kalau otak Tasya tuh lemah diajak mikir. Lagian, belum tentu papa ngizinin Tasya kuliah jurusan gituan. Secara ... papa, 'kan seorang pengusaha, dia butuh pewaris, bukan tukang dakwah," balas Natasya.


"Emang, kamu mau jadi ustadzah?" tanya Lila lagi.


"Ya enggak dong, Oma!" seru Natasya. "Tadi, 'kan Oma yang nyuruh Tasya kuliah bareng Ahsan," imbuhnya.


"Ya bukan jurusan Ushuluddin juga, Sya. Jurusan lain, 'kan, banyak. Kamu bisa ngambil keguruan, ekonomi syariah, atau hukum," jelas Lila.


"Tapi Tasya pingin jadi perancang busana, Oma. Kayak tante Kania. 'Kan enak, setiap bulan ada event-event di luar negeri. Kerja bisa sambil jalan-jalan juga," tutur Natasya.


"Ya sudah, kamu coba tanya Ahsan. Apakah jurusan seperti itu ada di kampusnya?" ujar Lila.


"Kok harus ke Ahsan sih, Oma," rengut Natasya.


"Entahlah, Sya. Oma hanya merasa tenang aja jika Ahsan berada di samping kamu. Hmm, Oma berharap, mudah-mudahan kelak ada jodoh di antara kalian," ucap Lila.


Natasya hanya mengerucutkan bibirnya. Meskipun jauh di lubuk hatinya, dia meng-amini harapan sang nenek.


.


.


"Emh ... ha-haus ... a-aku haus," ujar Niram lirih.


"Kamu mau minum? Sebentar, aku ambilkan dulu!"


Gadis bertubuh sintal beranjak dari atas kasur. Tak lama kemudian, dia datang dengan segelas air di tangannya.


"Minumlah!" ucap gadis itu sembari menyodorkan gelas.


Niram berusaha meraihnya. Namun, tangannya terlalu lelah untuk menggapai gelas.


"Sedotan!" seru gadis berkimono satin itu, "sebentar, aku carikan sedotan untuk kamu," lanjutnya seraya berlalu pergi.


Niram tidak menjawab. Dia hanya mengedarkan pandangannya. Tempat asing lagi bagi dirinya.

__ADS_1


Ya Tuhan, di mana lagi aku berada?


__ADS_2